Edisi Umum

Batavia Air Tidak Memperhatikan Keselamatan Penumpang Bayi (Infant)

GOSTAGE.com – Sebenarnya saya tidak bermaksud untuk menjatuhkan nama perusahaan penerbangan Batavia Air. Tulisan ini saya buat lantaran rasa kepedulian saya dan sekaligus kekhawatiran saya terhadap pelayanan (prosedur) yang diterapkan oleh maskapai penerbangan Batavia Air. Saya sendiri tidak tahu apakah hal ini “hanya kebetulan” dialami oleh saya saat itu atau memang telah berlaku untuk seluruh penerbangan Batavia Air selama ini, karena terus terang saya baru sekali ini mencoba menggunakan jasa penerbangan dengan pesawat Batavia Air.

Lebaran kali ini saya putuskan untuk mudik ke Palembang bersama istri dan anak kami yang baru berusia 17 bulan. Dari jauh-jauh hari (sebelum puasa) kami sudah memesan tiket pesawat mengingat pengalaman tahun sebelumnya sangat sulit untuk mencari kursi yang kosong jika sudah mendekati lebaran, belum lagi dihadapkan pada kenyataan harga tiket yang melambung tinggi. Untuk keberangkatan dari Jakarta ke Palembang saya putuskan naik Lion Air Tanggal 2 Oktober 2008, sedangkan untuk kepulangan dari Palembang ke Jakarta saya akhirnya menggunakan jasa penerbangan Batavia Air untuk penerbangan tanggal 5 Oktober 2008. Mengenai harga sudah tidak kami permasalahkan, yang terpenting rasa nyaman karena tiket pulang pergi sudah ditangan.

Perjalanan keberangkatan dari Jakarta ke Palembang dengan Lion Air bisa dibilang tidak ada masalah. Penerbangan sesuai dengan skedul yang tertera di tiket. Kami sekeluarga pun bisa berlebaran dengan senang di kampung halaman. Situasi nyaman dan aman waktu keberangkatan ini rupanya tidak berjalan seperti yang diharapkan saat kepulangan dari Palembang ke Jakarta. Sebenarnya waktu berangkat dari rumah, saya masih merasa nyaman karena tiket sudah ditangan. Malam sebelum kepulangan saya membaca sekali lagi keterangan yang tertera dalam tiket Batavia Air. Jadwal penerbangan untuk Tanggal 5 Oktober 2008 dengan Nomor Penerbangan JP 512, Keberangkatan dari Palembang Pukul 17.15 WIB dan rencana tiba di Jakarta (Bandara Soekarno Hatta) Pukul 18.15 WIB termasuk nama yang tertera di tiket, saya, istri dan anak kami. Mengingat perjalanan dari rumah ke Bandara Sultan Mahmud Badaruddin Palembang cukup jauh (belum lagi alokasi waktu untuk membeli oleh-oleh) saya putuskan untuk berangkat dari rumah lebih awal yaitu sekitar Pukul 11.45 WIB, tiba di Kota Palembang Pukul 13.05 WIB. Setelah membeli oleh-oleh kami langsung ke bandara dan tiba di bandara Pukul 15.30 WIB. Saya putuskan untuk check-in terlebih dahulu. Setiba di ruang check-in saya melihat terlebih dahulu layar monitor penayangan jadwal penerbangan pesawat, ternyata untuk Batavia Air JP 512 tujuan Jakarta jadwalnya adalah Pukul 18.20 WIB (dengan keterangan terjadwal) bukan Pukul 17.15 WIB seperti yang tertera di tiket. Saya pun bergegas menanyakan ke petugas di loket Batavia Air yang ada di pelataran bandara dan dijawab bahwa jadwal yang tertera di tiket adalah jadwal lama dan sudah diperbaharui sekitar sebulan yang lalu. Meskipun dari sisi waktu saya merasa dirugikan, akhirnya saya berpikiran positif dan memaklumi hal tersebut, yang penting status tiket saya tetap oke. Dengan sedikit keterlambatan, akhirnya Pukul 18.40 WIB kami diminta untuk naik ke pesawat.

Sampai disini proses berjalan normal. Keheranan kami muncul ketika pramugari membagikan kantong pelampung untuk bayi yang tidak disertai dengan ekstra shelt belt. Istri saya mencoba menanyakan, yang membuat kami heran sikap pramugari tersebut yang agak bingung dan justru menanyakan balik ke kami dengan pernyataan “mm.. maksud ibu?”. Istri saya kembali menanyakan bahwa yang kami maksud adalah ekstra shelt belt untuk bayi. Dan jawaban pramugari kembali membuat kami heran..”mm..anak ibu dirangkul saja bu”. Istri saya dengan nada heran kembali menegaskan “lho mbak bukannya untuk bayi seharusnya dikasih ekstra shelt belt?”. Si pramugari dengan sedikit kaku menjawab “mm..sebentar saya lihat dulu ya bu”.. kemudian berlalu sambil mengecek shelt belt penumpang yang lain. Setelah itu seolah tidak terjadi apa-apa, sementara pesawat sudah mulai berjalan mundur. Saya mencoba mencari pramugari yang kami tanyakan tadi, rupanya pramugari tersebut sudah berada di posisi untuk memperagakan prosedur keselamatan sebelum lepas landas. Saya mencoba melambaikan tangan ke arah pramugari tersebut, namun pramugari seolah tidak melihat atau sengaja tidak melihat. Pada waktu bersamaan, berjalan dihadapan kami pramugara (atau supervisor-nya…) mengecek sekali lagi shelt belt para penumpang. Istri saya sedikit berteriak memanggil si pramugara/supervisor tersebut…”Maaf mas..bisa minta ekstra shelt belt untuk bayi?”. Pramugara/supervisor tersebut menjawab “mm…maaf bu kita tidak ada ekstra shelt belt khusus untuk bayi bu..”. Istri saya dan saya bingung..”lho…masa gak ada?”.. Pramugara/Supervisor tersebut menjawab lagi “kalau yang khusus untuk bayi memang kita tidak menyediakan bu…yang ada shelt belt tambahan…”. Saking geramnya akhirnya saya dan istri hampir bersamaan mengatakan “ya sudah…apa sajalah bentuknya yang ada…”. Akhirnya Pramugara/Supervisor tersebut bergegas mengambilkan shelt belt tambahan yang dia maksud. “ini bu..?”. Istri saya kemudian menjawab cepat “oke, terima kasih”, dan bergegas memasangkan ke anak kami karena memang pesawat sudah berada di “take off position”. Setelah saya perhatian ternyata yang dimaksud shelt belt tambahan oleh Pramugara/Supervisor tersebut adalah shelt belt yang biasa dipergunakan dalam memperagakan prosedur keselamatan sebelum lepas landas. Padahal sepengetahuan saya ekstra shelt belt khusus bayi ada bagian yang bisa dimasukkan ke tangan si orang tua baru kemudian ditautkan dengan shelt belt orang tua si bayi.

Saya dan istri terbengong beberapa saat. Saya melihat di depan, kiri dan belakang saya cukup banyak orang tua yang membawa bayi dalam penerbangan tersebut dan tidak satu pun yang diberikan ekstra shelt belt untuk bayi mereka. Saya dan istri sebenarnya juga heran mengapa para orang tua yang membawa bayi tersebut tidak memintakan ekstra shelt belt buat bayi mereka seperti apa yang kami lakukan, pemikiran kami mungkin mereka malas atau memang ketidaktahuan tentang pentingnya shelt belt buat keselamatan jiwa mereka dan bayi mereka sendiri jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan selama penerbangan tersebut. Pertanyaan inilah yang juga ingin saya sampaikan disini..”APAKAH EKSTRA SHELT BELT UNTUK BAYI (INFANT) ITU TIDAK WAJIB DIBERIKAN OLEH MASKAPAI PENERBANGAN DAN BUKAN MERUPAKAN BAGIAN DARI PROSEDUR KESELAMATAN PENERBANGAN?”. Jika ternyata itu tidak wajib diberikan oleh maskapai penerbangan dan bukan merupakan bagian dari prosedur keselamatan penerbangan..berarti saya yang salah… Namun, apabila pemberian ekstra shelt belt untuk bayi tersebut merupakan hal yang wajib (sebagaimana yang diharuskan bagi kita penumpang dewasa) dan merupakan bagian dari prosedur keselamatan penerbangan, berarti pengalaman saya terbang bersama Batavia Air dengan Nomor Penerbangan JP 512 selama 55 menit dari Palembang ke Jakarta tersebut merupakan pengalaman yang menakutkan dan bagi Batavia Air tentunya telah menyalahi prosedur keselamatan penerbangan.

Sekali lagi, bukan maksud saya untuk menjelekkan ataupun menjatuhkan nama penerbangan Batavia Air karena saya tidak mempunyai kepentingan apapun untuk hal itu. Saya juga tidak ingin menyerukan kepada pembaca tulisan ini untuk tidak terbang bersama Batavia Air. Saya hanya menyampaikan pengalaman dan sekaligus pertanyaan dari apa yang sudah saya alami. Pertanyaan ini tentunya tidak hanya saya sampaikan kepada pihak manajemen Batavia Air tapi juga kepada para pemerhati keselamatan penerbangan di Indonesia. Saya tidak tahu, apakah kejadian yang saya alami ini adalah hal yang sepele bagi sebagian orang. Namun bagi saya pengalaman ini bukan hal yang sepele dan perlu kejelasan prosedur. Bagi saya nyawa tetaplah nyawa.. sekecil apapun umur si empuhnya nyawa tersebut, keselamatan mereka adalah tanggung jawab perusahaan penerbangan yang menerbangkan mereka. Dan prosedur tetaplah prosedur yang harus disepakati dan dilaksanakan oleh kita bersama.

About Zasmi Arel

Music, Event, Traveling Photographer

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: