Edisi Umum

Awal Cerita Si Kecil

GOSTAGE.com – Ketika pertama kali memulai blog ini, saya berpikir apa yang akan saya tuangkan disini. Ide pertama yang muncul adalah menuangkan hal hal yang terkait dengan pekerjaan, kemudian muncul juga ide untuk menuangkan kualifikasi diri, lalu muncul ide menuangkan berbagi informasi, peluang dan kesempatan, seterusnya muncul juga ide untuk menuangkan tulisan lepas. Dari sekian ide tersebut, ternyata ada satu ide yang terlupakan yang justru menjadi sumber penyemangat hidup saya…ya… si kecil Najwa Naila…

Itu adalah nama anak kami. Terlahir di bulan April dua ribu tujuh, tepatnya tanggal dua puluh sembilan di Rumah Sakit Muhammadiyah Taman Puring, Jakarta Selatan. Tidak bisa diungkapkan kebahagiaan yang saya rasakan ketika mengawal proses kelahirannya. Rentetan peristiwa bersejarah hari itu masih lekat dalam ingatan saya.

Pagi hari saya dan istri masih sempat menghadiri acara pernikahan sepupu istri di Asrama Haji Pondok Gede. Pukul setengah enam sore kami tiba dirumah. Setelah melepas lelah sejenak, istri minta ijin untuk mandi. Masih posisi di dalam kamar mandi, tiba-tiba istri membuka pintu kamar mandi dan mengatakan sepertinya ketubannya pecah. Saya sempat kaget tapi berusaha untuk tenang, mungkin sudah saatnya. Saya ingat pada saat kontrol sebelumnya dokter menyampaikan kemungkinan lahirnya pada tanggal tiga puluh, berarti maju satu hari dari perkiraan. Dokter juga mengatakan jika terjadi ketuban pecah jangan panik, usahakan tetap tenang baik si ibu maupun kita sebagai suami. Kondisi panik akan memacu aliran air ketuban semakin cepat. Sebelum berangkat ke rumah sakit disarankan juga si ibu untuk bersih-bersih terlebih dahulu (mandi) supaya terbebas dari kuman dan kondisi badan tetap rileks. Semua perkataan dokter tersebut seperti menjadi panduan bagi saya untuk tetap bersikap tenang.

Istri pun keluar dari kamar mandi dan mulai bersiap-siap. Adapun tas beserta perlengkapan untuk keperluan sang bayi kebetulan sekali sudah kami siapkan dari sekitar sebulan sebelumnya. Hal ini pun kami lakukan berdasarkan nasehat dari kerabat, teman dan literatur yang kami baca supaya pada saat seperti ini kita tidak dipanikkan dengan kondisi persiapan seperti itu. Sembari istri dan pembantu mempersiapkan keperluan yang akan dibawa, saya bergegas mandi. Selesai mandi saya sempatkan sholat magrib terlebih dahulu dan tak lupa saya berdoa memohon kemudahaan proses dan keselamatan serta kesehatan baik buat sang bayi maupun buat ibunya.

Pukul tujuh malam kurang sedikit kami berangkat ke rumah sakit dan tiba sekitar pukul tujuh lewat seperempat. Setelah mengurus administrasi pendaftaran, kami pun menuju kamar ruang bersalin yang terletak di lantai dua. Saya sekali lagi mengurus administrasi pendaftaran dan menanyakan keberadaan dokter yang menangani istri saya. Petugas jaga mengatakan bahwa dokternya sudah bersiap pulang. Petugas jaga mengecek ke ruangan dokter, ternyata sudah tidak ada. Akhirnya petugas jaga mencoba mengontak dokter melalui handphone, ternyata benar… dokter sudah berada di pelataran parkir rumah sakit bersiap masuk mobil. Mendengar ada pasiennya yang akan melahirkan dokter pun mengurungkan niatnya untuk pulang. Alhamdulillah, sejauh ini kami masih diberikan kemudahan oleh yang diatas.

Pukul setengah delapan malam dokter datang bersama perawat menemui saya dan istri. Dokter menanyakan kondisinya. Setelah mendengarkan cerita singkat dari kami dokter bergurau..”Kok ketubannya dipecahin duluan? Kami pun cuma tersenyum. Setelah itu dokter meminta perawat untuk memeriksa istri saya, ternyata baru bukaan satu. Dengan kondisi ketuban sudah pecah dokter menjelaskan bahwa dalam waktu dua puluh empat jam si bayi harus dilahirkan dan untuk merangsang percepatan proses pembukaan dokter menyarankan dengan induksi. Setelah berembuk sebentar, akhirnya kami menyetujui saran dokter. Saya pun menandatangani form persetujuan dan dokter meminta perawat untuk menyiapkan cairan induksi. Setelah memasangkan cairan induksi ke istri saya dokter menjelaskan kondisi yang akan terjadi setelah itu, kami pun menyimak dengan baik. Kemudian dokter pamit meinggalkan ruangan sambil berpesan kepada kami dan perawat untuk menghubungi beliau jika terjadi perkembangan.

Pukul delapan malam… proses menunggu pun dimulai. Istri mulai merasakan dampak dari proses induksi. Saya mencoba memberikan semangat kepada istri untuk tetap fokus pada tekad semula…ya…persalinan normal… itulah tekad istri. Untunglah saya juga mempunyai istri yang tegar dan kuat. Betapa tidak, dalam kondisi seperti itu, istri masih memperhatikan kondisi saya yang memang dari tadi belum makan malam… Masya Allah… saya sendiri pun lupa kalau istri juga belum makan. Akhirnya istri menyarankan saya untuk pulang dulu untuk membawa bekal. Sebenarnya tidak tega juga meninggalkan istri sendirian dalam kondisi seperti itu, namun bekal perlu juga, yaa…minimal roti sebagaimana yang diingankan oleh istri. Sebelum pulang saya teringat…iya ya…kami belum mengabari orang tua. Sayapun menghubungi ibu mertua yang kebetulan sekali baru datang sehari sebelumnya dari Surabaya dan menginap dirumah kakaknya istri. Saya juga sempatkan menghubungi orang tua di Palembang meminta doa supaya proses persalinannya lancar. Setelah itu saya pamit pulang.

Pukul sembilan malam kurang sedikit saya tiba kembali di rumah sakit, ternyata ibu mertua dan kakak ipar belum tiba. Saya pun menghampiri istri dan menanyakan keadaannya sambil memberikan roti yang dia pesan. Saya melihat istri sesekali meringis kesakitan. Kemudian datang perawat memeriksa, baru bukaan tiga. Wah cepat juga ya… mungkin begitulah efek dari proses induksi. Setengah jam kemudian barulah ibu mertua dan kakak ipar datang, bersamaan itu pula perawat datang memeriksa kembali, sudah bukaan lima. Setengah jam berikutnya perawat datang memeriksa kembali, ternyata sudah bukaan enam. Setengah jam kemudian meningkat ke bukaan tujuh. Perawat pun menghubungi dokter mengabarkan perkembangannya. Pukul sebelas kurang seperempat dokter masuk ke ruangan dan meminta perawat menyiapkan keperluan untuk proses persalinan. Setelah diperiksa ternyata sudah bukaan delapan. Dokter menanyakan siapa yang akan mendampingi istri dalam proses persalinan, karena hanya satu orang yang diijinkan. Saya pun bilang kalau saya yang akan menemani.

Pukul sebelas malam segala sesuatunya untuk proses persalinan sudah disiapkan. Proses berjalan begitu saja. Upaya pertama gagal karena istri salah dalam teknik “mengeden”. Dalam kondisi itu – karena mungkin menahan kesakitan – istri sempat mau menyerah dan minta disuntik “ila” (saya tidak tahu persis penulisan tepatnya). Yang saya tahu ini adalah suntikan untuk menghilangkan rasa sakit yang ditimbulkan dalam proses persalinan normal. Dokter sempat memberikan pendapat kepada istri bahwa kalau disuntik itu memang akan menolong mengurangi rasa sakit, namun pasca persalinan kondisinya akan seperti persalinan melalui operasi cesar, si ibu tidak bisa secara cepat menyusui bayinya. Dokter juga mengatakan amat disayangkan jika melakukan hal itu karena prosesnya tinggal sedikit lagi. Akhirnya istri menurut dan kembali berusaha.

Upaya kedua tetap gagal. Dokter menyarankan untuk istirahat sejenak sambil terus mengajari istri teknik “mengeden” yang benar. Saya pun terus memberikan semangat kepada istri. Dokter juga demikian dan terus mencandai istri. Sembari saya dan dokter bercanda, ternyata istri berusaha untuk mengeden kembali… dan…. maha besar Allah… saya mulai melihat kepala anak kami pertama sekali muncul di dunia. Waktu itu saya terus berdoa…. Ya Allah, sempurnakanlah kondisi fisik anakku dan kuatkanlah istriku serta sehatkanlah keduanya. Perlahan-lahan kepala si kecil muncul dan kemudian leher, pundak…dan….. tepat pukul sebelas lewat lima belas malam anak kami lahir dengan selamat, sehat dan utuh tanpa kurang sesuatu apapun… Baraqallahufi… Saya pun membelai dan mencium kening istri sambil menitikkan air mata tak kuasa menahan rasa bahagia. Kemudian saya mengikuti perawat yang membawa anak kami ke tempat perawatan bayi pasca melahirkan disebelah ruangan persalinan. Disana rupanya sudah menunggu ibu mertua, saya pun mendapat ucapan selamat dan ciuman dari ibu mertua. Bobot anak kami tiga kilo dengan panjang lima puluh sentimeter. Sambil memperhatikan perawat yang membersihkan anak kami tak henti-hentinya saya mengucapkan puji syukur atas apa yang sudah diberikan oleh-Nya. Tiba giliran saya mengumandangkan azan di telinga anak kami. Selesai itu, saya melihat kondisi istri saya yang sehat walafiat. Menyaksikan istri dan anak secara bergantian.. sekali lagi saya mengucap syukur atas dikabulkannya doa saya untuk kesehatan dan keselamatan keduanya. Terima kasih Tuhan!

About Zasmi Arel

Music, Event, Traveling Photographer

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: