Edisi Umum

Usia Tiga Bulan Si Kecil Sudah Bisa Ngambek?

GOSTAGE.com – Tadinya saya tidak menyangka kalau bayi seumuran itu ternyata sudah mempunyai sikap sensitif layaknya orang dewasa. Kejadian ini saya alami ketika suatu waktu saya harus kerja lembur dan menginap di kantor sampai tiga hari. Pada kondisi normal, setibanya dirumah biasanya saya langsung menyapa si kecil dan biasanya si kecil memberikan respon dengan bertingkah girang sambil menggerak-gerakkan kedua kaki dan tangannya seolah tahu kalau papanya sudah pulang. Saya pun biasanya langsung menggendong dan menciumi si kecil sambil membelai lembut kepalanya.

Berbeda kali ini…

Setelah tiga hari tidak bertemu, ketika tiba dirumah seperti biasa saya langsung menyapa si kecil. Apa yang terjadi, kali ini si kecil tidak menunjukkan sikap seperti biasanya, tatapannya ke depan dan dahinya sedikit mengernyit. Saya coba menyapa dan meraih tangannya sambil berkata “Dede, papa pulang…” Ternyata si kecil tetap biasa saja. Saya pun menggendongnya dan menatap matanya. Tapi apa yang terjadi, si kecil memalingkan pandangannya ke arah lain dengan muka layaknya orang cemberut.

Waduh… ada apa ini…. Saya tanya ke istri, tapi istri malah menggeleng.

Saya coba berpikir dan mencari tahu ada apa gerangan. Akhirnya saya menemukan jawabannya. Saya ingat, ketika mau berangkat pada hari kerja lembur saya tidak pamit kepada si kecil karena waktu itu dia masih tidur. Saya khawatir kalau saya berbisik si kecil bangun… kasihan pikir saya waktu itu. Tapi ternyata saya salah….

Saya membathin… alamak…..anakku ngambek…

Istri saya sendiri sampai heran dan berkata…”Kok bisa ya?”

Singkat cerita, saya dicuekin si kecil sampai dua hari. Bagi saya waktu dua hari terasa lama untuk tidak bermain dan menggoda si kecil. Menjelang sore di hari kedua ngambeknya si kecil, saya dan istri sepakat untuk membuat skenario. Saya duduk dekat si kecil dan berpura-pura sedih, lalu istri berkata kepada si kecil….“Dede lihat tuh… papa jadi sedih…karena dede gak mau senyum sama papa… papa kan uda minta maaf sama dede… dede juga harus bisa maafin papa ya…papa kerjakan buat dede juga… maafin papa ya dee..” Istri saya terus mengulang kalimat tersebut sambil membelai kepala si kecil, sementara saya tetap berpura-pura sedih disebelahnya.

Kemudian istri saya memberi isyarat supaya saya menggendong si kecil. Saya pun mendekat dan menggendongnya sambil berkata..”Maafin papa ya, dede marah ya sama papa karena papa lembur gak pamit ke dede.. soalnya waktu papa pergi dede masih bobo…” Kemudian saya peluk si kecil dan saya belai kepalanya. Dan…. ternyata si kecil merespon dengan membalas pelukan saya. Saya biar kan keadaan itu beberapa saat baru kemudian secara perlahan saya lepas pelukan dan menatap matanya. Dan kali ini si kecil membalasnya dengan senyuman kecilnya.

Wuiih…. plong rasanya…..

Sungguh sebuah pelajaran yang sangat berharga. Betapa tidak, apa yang tadinya saya anggap tidak mungkin ternyata bisa terjadi. Kejadian tersebut akhirnya saya jadikan sebagai rambu rambu. Ibarat lampu lalu lintas… itu adalah lampu kuning buat saya untuk lebih peka dan sensitif terhadap perubahan tingkah laku si kecil.

About Zasmi Arel

Music, Event, Traveling Photographer

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: