Edisi Umum

Maling Sepeda: Antara Profesi dan Profesional

GOSTAGE.com – “Pa cepat bangun!! Sepeda Papa dicuri…!” Kalimat pendek tersebut menjadi alarm buruk yang saya terima di Selasa dini hari tiga puluh juni dua ribu sembilan. Dengan spontan saya bangun dan menuju ke teras rumah. Benar adanya, sepeda Polygon Tyrano saya telah lenyap. Saya bergegas mengambil HT dan mencoba memanggil security komplek… “Pos Penjagaan!! Pos Penjagaan !!”. Tidak ada jawaban. Saya ulangi lagi, tetap tidak ada jawaban. Karena tidak sabar, saya memutuskan untuk jalan ke pos security. Ternyata HT petugas tidak dinyalakan. Dengan kesal sayau interograsi personil yang jaga.

“Siapa saja yang jaga? Berapa jam sekali kalian kontrol? Pertanyaan tersebut mengalir begitu saja, termasuk keluar masuk kendaraan dan tamu sampai dengan dini hari tersebut. Petugas yang saya hadapi tampak kikuk dan menjawab sekenanya tanpa menunjukkan kesigapan terhadap laporan dan pertanyaan yang saya sampaikan. Masih dalam suasana kesal, akhirnya saya putuskan melakukan pengecekan sendiri ke bagian tembok pembatas cluster pada posisi belakang rumah. Tapi pasti sudah terlambat dan memang sudah sangat terlambat. Sepeda tersebut tentunya sudah dibawa kabur. Saya putuskan untuk berbalik dan melaporkan kejadian tersebut ke pak er te. Kesal, dongkol, geram bercampur jadi satu.

Malam sebelum kejadian, perasaan saya sudah tidak enak. Malam itu saya tiba di rumah pukul sebelas lewat seperempat. Seperti biasa, sebelum masuk, saya kunci roda sepeda motor dan mengecek semua benda yang ada diteras, benda yang terakhir saya rapikan adalah sepeda mini si kecil. Sepeda mini tersebut saya letakkan berjejer dengan dua sepeda yang lain. Paling pinggir berdempetan dengan tembok adalah sepeda federal tua peninggalan almarhum mertua, posisi tengah adalah sepeda polygon tyrano, dan terakhir sepeda mini si kecil. Pada bagian depan saya letakkan pot kembang besar yang berfungsi untuk menutupi keberadaan sepeda dari bagian muka, sementara berdempetan dengan sepeda mini saya letakkan dua pot aglonema. Dua sepeda besar tersebut saya kunci dengan kunci sepeda terbuat dari baja ulir berdiameter sekitar 0,8 cm dan lilitannya sengaja saya buat agak rumit supaya susah untuk dibuka.

Setelah selesai merapikan yang perlu dirapikan, saya pun masuk rumah, tapi perasaan tetap gak nyaman. Entah kenapa, sepertinya saya ingin berkelahi dengan orang. Pukul dua belas malam saya kembali mengecek semua bagian rumah, mulai bagian depan sampai belakang, baru kemudian masuk ke kamar tidur, ketika rebahan perasaan tetap gak enak, dalam bayangan saya ada orang yang masuk rumah dari bagian belakang dan disitulah saya berkelahi dengan mereka… setelah itu saya tidak ingat apa-apa lagi, sampai kemudian istri membangunkan dan mengabarkan kalau sepeda saya dicuri.

Setelah diteliti, pencuri tersebut mengambil sepeda dengan cara menggunting kunci baja ulir yang melilit pada kedua sepeda. Karena lilitannya pada kondisi yang rumit untuk dibuka, si pencuri memotong pada dua sisi dari kunci tersebut dan kemudian dengan santai mengangkat sepeda polygon tyrano. Darimanakah mereka melewatkan sepeda keluar komplek? Komplek perumahan dibangun dengan sistem Cluster. Setelah ditelusuri, ternyata mereka melewatkan sepeda tersebut dengan cara melempar melalui tembok pembatas Cluster di bagian belakang, yang mana posisinya memang sangat jauh dan relatif aman dari pemantauan pos penjagaan. Kebetulan sekali ada siku penyangga tembok pembatas tersebut yang cukup enak untuk dijadikan akses keluar dan loncat ke bagian belakang.

Dari cara mereka mencuri, bisa saya simpulkan Pertama, si pencuri merupakan komplotan spesialis pencuri sepeda bermerk, hobby, mahal, atau apapun istilahnya. Setidaknya mereka tahu jenis-jenis sepeda dan harganya. Kedua, si pencuri adalah orang yang sering lalu lalang di dalam komplek perumahan dan sudah mengetahui peta lokasi dan titik lemah dalam Cluster. Hal ini terlihat dari cara mereka mengetahui posisi sepeda dan mencari jalan keluar untuk melewatkan sepeda. Ketiga, si pencuri sudah mempersiapkan aksinya dengan peralatan pendukung. Hal ini dapat terlihat dari bekas potongan kunci baja ulir sangat jelas kalau mereka menggunakan gunting pemotong baja yang cukup mumpuni untuk memotong baja tersebut dalam sekali hentakan/potongan. Keempat, si pencuri mempunyai cukup waktu dalam menjalankan aksinya. Hal ini sangat jelas terlihat dari bagaimana cara mereka memotong kunci baja, mengangkat sepeda dari tempatnya tanpa merusak/menggeser barang yang lain (kecuali sepeda mini anak saya yang posisinya sudah berpindah ke karpot depan). Kelima, si pencuri juga sudah mengetahui kondisi jalur aman untuk mengangkut hasil curiannya. Dan kemungkinan ada permainan dengan orang dalam juga sangat masuk akal, tapi tentunya itu memerlukan penyelidikan lebih lanjut.

Dan dari investigasi yang saya lakukan kemudian ke beberapa tempat/toko sepeda, beberapa komplotin sudah terorganisir rapi, mulai dari tingkat pencuri, penadah dan yang menjual. Umumnya para pemilik toko sepeda juga sangat berhati-hati dalam menerima tawaran terhadap sepeda yang akan dijual, mereka juga tidak mau membeli sembarangan, salah beli malah dibilang penadah. Kalaupun mau, biasanya mereka akan melakukan transaksi dirumah (tidak di toko). Namun umumnya mereka sangat jarang melakukan pembelian sepeda yang ditawarkan begitu saja tanpa jelas asal usulnya. Dari mereka setidaknya kemudian saya tahu, sepeda-sepeda curian tersebut biasanya dilempar (istilah umum dalam hal jual beli sepeda curian) ke tempat-tempat yang sudah dikenal sebagai tempat penampungan dan penjualan sepeda curian. Kalau pun kita sebagai pemilik bisa menemukan kembali sepeda yang dicuri prosesnya akan sangat rumit, tidak bisa mengklaim begitu saja, apalagi tidak disertai dengan bukti-bukti yang kuat.

Disamping dilempar ke tempat yang memang menjadi pusat penampungan sepeda curian, komplotan pencuri juga melakukan sistem penjualan silang, misalnya sepeda curian yang berasal dari daerah Cibubur dijual/dilempar ke wilayah Serpong dan atau sebaliknya. So.. meskipun usaha melacak sepeda yang dicuri tetap dilakukan, pada akhirnya memang sulit untuk mengharapkan sepeda kita kembali.

My Polygon Tyrano

“My Polygon Tyrano…”

Dirakit tanggal dua puluh delapan desember duaribu delapan….

Injak bumi pertama kalinya tanggal empat januari duaribu sembilan…

Menaklukkan jalur gowes Rindu Alam Puncak pertama tanggal tujuh februari duaribu sembilan…

Menaklukkan jalur gowes Rindu Alam Puncak kedua tanggal duapuluh dua februari duaribu sembilan…

Menaklukkan jalur gowes Rindu Alam Puncak ketiga tanggal duapuluh dua maret duaribu sembilan….

Menaklukkan jalur gowes Gunung Geulis Bogor tanggal duapuluh delapan maret duaribu sembilan….

Masup tipi dua kali…JakTV dan Anteve…dalam acara “Jumpa Goweser Cibubur Ciclying Community (C3)…yang sekaligus merupakan moment kebersamaan terakhir…

dan…berpindah tangan pada tanggal tiga puluh juni duaribu sembilan…..

About Zasmi Arel

Music, Event, Traveling Photographer

Discussion

2 thoughts on “Maling Sepeda: Antara Profesi dan Profesional

  1. wah sayang sekali ya pak
    kapan2 ajak aku dong kalau ada acara goweser, boleh ndak?
    trim’s

    Posted by Sumarno Wijaya | 27 July 2009, 3:17 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: