Edisi Umum

Kekuatan Do’a

GOSTAGE.com – Tulisan ini saya buat terinspirasi dari postingan salah seorang sahabat senior dalam forum facebook-nya yang mengulas tentang “Keajaiban Do’a”. Dalam postingannya sahabat yang juga ahli dalam pengobatan dengan metode tehnik vibrasi quantum energi tubuh ini bercerita bagaimana dia mencoba menyembuhkan penyakit anak dan suami salah seorang sahabatnya yang berada di kalimantan. Diceritakan bahwa sang sahabat mengirimkan pesan singkat kepada dia dan mengabarkan kalau anak dan suaminya sedang sakit. Sang anak sakit panas dan sering kali muntah sehingga perutnya sakit, sedang sang suami sakit panas dingin. Beliau mencoba melakukan transfer energi dan meniatkan hati dan berdo’a kepada Allah dengan menghadiahkan Surat Alfatehah kepada anak dan suami sahabatnya tersebut. Sekitar lima menit kemudian beliau memastikan perkembangan kondisi sang anak dan suami sahabatnya melalui pesan singkat, dan seketika sang sahabat membalas bahwa suaminya sudah berkeringat dan badannya menjadi enteng, sedang anaknya juga baikan, perutnya sudah tidak sakit dan tidak mual lagi, malah sudah minta pergi sekolah. Subhanallah, sahabat itu diakhir tulisannya berpesan, hati-hati dengan kekuatan doa.

Setelah membaca postingan tersebut saya turut memberikan komentar dan menceritakan bahwa Beberapa hari lalu anak saya juga mengalami batuk dan muntah (karena dahaknya). Pada tahap puncaknya dua hari dia muntah-muntah hebat, makanan dan minuman yang masuk selalu keluar. Pada malam tahap akhir observasi dokter yg menentukan apakah dia akan dirawat apa tidak ditengah kepasrahan saya coba panjatkan doa untuk kesembuhannya diawali surat al ikhlas. Sebelum dia tidur kami minumkan dia madu dan alhamdulillah pagi sekali dia bangun dan minta makan. Setelah itu keadaannya berangsur membaik sehingga tidak jadi dirawat. Saya sendiri tidak tahu apakah ini karena madu atau karena doa yang saya panjatkan. Tapi saya yakin Tuhan maha mendengar.

Beberapa hari tulisan mengenai keajaiban doa ini saya biarkan. Namun, setelah membaca dan memberikan komentar tiba-tiba saya teringat kejadian dimasa lalu, kejadian yang mengawali proses dan menjadi tonggak kepindahan saya ke Jakarta. Dan setelah saya ingat lebih dalam lagi, Subhanallah, ternyata kekuatan doa itu memang terbukti adanya dan menaungi terjadinya kejadian tersebut.

Ketika SMP, saya mempunyai mimpi dan ingin sekali pindah ke Jakarta untuk mengenyam kesempatan dan kehidupan yang lebih baik. Mimpi ini tentunya ada dasarnya. Saya lahir, besar dan bersekolah di sebuah perkampungan yang jauh dari kehidupan kota. Sejak duduk di bangku SD saya sudah aktif dalam berbagai kegiatan dan mempunyai keinginan yang kuat untuk maju dan sukses. Pemikiran ini terus berlanjut di bangku SMP dan puncaknya adalah ketika saya duduk di bangku kelas satu SMA. Berbagai kegiatan mulai dari organisasi di sekolah, organisasi kepemudaan dan organisasi keagamaan saya ikut terlibat. Di sisi lain, saya perhatikan kehidupan orang-orang kampung terutama kaum muda-nya terlibat monoton dan sedikit sekali mempunyai ruang gerak untuk mengembangkan diri. Bahkan yang lebih eksterim lagi selepas SMA pilihannya ada tiga, kawin, meneruskan usaha rumahan keluarga, atau menganggur.

Kondisi tersebut ternyata membuat saya berpikir. Seandainya saya tetap tinggal di kampung, sepertinya kehidupan saya akan monoton dan sulit untuk berkembang. Di masa itu saya perhatikan bahwa kebanyakan orang kampung yang berhasil adalah mereka yang pergi merantau. Meskipun saya sendiri tidak tahu bagaimana proses keberhasilan mereka, tapi setidaknya itulah yang terpantau dan terbenam dalam pikiran dan penglihatan saya. Oleh karena itu, didorong keinginan yang kuat untuk maju dan meraih kesempatan yang lebih baik lagi, dari kelas tiga SMP saya mulai meminta dan memanjatkan doa. Dalam doa saya tersebut intinya selalu saya sampaikan jika Allah mengizinkan dan memperkenankan, saya ingin sekali hijrah ke Jakarta dan bersekolah di Jakarta. Kenapa Jakarta? Saya sendiri tidak tahu. Namun sekali lagi, di masa itu, mereka yang sukses dan berhasil kebanyakan setelah merantau ke Jakarta.

Siang malam, terlebih lagi di malam hari, saya berdoa dan memohon Tuhan memberikan jalan. Bahkan waktu duduk di bangku kelas satu SMA keinginan tersebut saya tuliskan dalam sebuah buku harian. Saya sendiri tidak tahu buku harian tersebut sekarang berada dimana, namun saya masih ingat betul apa yang saya tuliskan, bunyi tulisan tersebut lebih kurangnya demikian.. “Jika diizinkan, aku ingin sekali pindah sekolah dan merantau ke Jakarta supaya bisa berkembang dan lebih maju. Setelah tamat SMA aku ingin sekali masuk dan kuliah di perguruan tinggi negeri terkenal. Sambil kuliah aku ingin aktif di kegiatan organisasi. Setelah itu aku ingin bekerja dan menjadi orang yang sukses. Di samping itu aku juga ingin mengembangkan bakat dalam hal menulis…”  Setelah membuat tulisan itu dengan penuh kekhusyuan dan kepasrahan saya tutup dengan memanjatkan doa dalam hati supaya Allah memberikan jalan dan mengabulkan apa yang saya tulis.

Waktu terus berlalu dan di setiap habis shalat doa diatas tak lupa saya selipkan. Sampai akhirnya di penghujung semester genap kelas satu SMA ada saudara yang pulang mudik lebaran dari Jakarta. Ketika bertamu ke rumah, beliau menyarankan kepada orang tua saya supaya saya bersekolah ke Jakarta. Kebetulan sekali beliau adalah seorang guru SMP dan beliau siap membantu menghubungkan dengan rekan gurunya yang mengajar di SMA. Ketika orang tua saya menanyakan kepada saya, tanpa berpikir dua kali saya iyakan tawaran tersebut. Singkat cerita akhirnya jadilah saya bersekolah di Jakarta.

Berbagai kegiatan dan organisasi di SMA saya ikuti. Prestasi saya pun sebagai anak pindahan dari luar jawa cukup lumayan. Di masa itu ada anggapan bahwa anak desa yang pindah ke Jakarta kemampuannya diragukan dan pasti dibawa kemampuan anak kota pada umumnya. Tapi ternyata anggapan itu tidak berlaku bagi saya. Terbukti hingga kelas tiga saya selalu masuk lima besar. Ketika duduk di penghujung kelas tiga SMA ada tawaran untuk ikut masuk perguruan tinggi negeri tanpa test (PMDK). Karena terbentur biaya, waktu itu saya lupakan tawaran itu. Sampai akhirnya salah seorang guru menarik saya ke ruangan dia dan memaksa saya untuk mengisi formulir pendaftaran. Saya masih ingat betul perkataan guru saya..”Kamu orang yang terbodoh yang saya tahu, orang lain bersusah payah mencari peluang untuk masuk perguruan tinggi negeri tanpa test, sementara peluang dan kesempatan yang ada di depan mata kamu sia-siakan, sekarang kamu isi ini formulir dan tanda tangani serta lengkapi semua berkas persyaratannya, masalah uang biar saya yang tanggung..” Akhirnya atas paksaan beliau saya isi itu formulir untuk dua perguruan tinggi negeri yaitu Universitas Diponegoro Semarang dan Institut Pertanian Bogor.

Setelah kejadian tersebut saya biarkan saja prosesnya berjalan begitu saja, namun di setiap sholat selalu saya selipkan doa, jika memang ini jalan yang diberikan-Nya maka lancarkanlah apa yang sudah saya mulai. Dan ternyata doa saya tersebut dikabulkan, saya diterima di Institut Pertanian Bogor. Sujud syukur dan hamdallah saya panjatkan kehadirat-Nya dan tak lupa saya cium tangan dan mengucapkan terima kasih kepada guru yang sudah memaksa saya untuk memulai ini semua.

Atas kemudahan di atas saya tak henti-hentinya memanjatkan syukur kepada-Nya. Semasa kuliah saya pun aktif di kegiatan organisasi kampus sampai akhirnya kelulusan saya. Ketika mau pindahan dari tempat kos ke tempat paman saya di Jakarta, di waktu membereskan buku-buku, saya menemukan buku harian waktu SMA dulu. Saya membukanya dan berhenti pada halaman dimana saya menorehkan tulisan pengharapan di atas. Sambil membaca tulisan itu,  saya merenung dan mengucap syukur kepada Allah, ternyata apa yang sudah saya tuliskan di buku tersebut seolah menjadi goresan hidup saya.

Dari cerita ini saya ingin mengingatkan pada diri saya sendiri bahwa jika kita meminta dengan penuh kepasrahan dan keikhlasan hati pasti Allah akan mengabulkan. Dan disinilah saya kembali menemukan kekuatan doa yang saya panjatkan dan mengawal kepasrahan saya semenjak duduk di bangku SMP atas sebuah mimpi dan pengharapan. Allah memang maha besar dan ada di setiap sendi kehidupan serta nafas yang kita hembuskan.

About Zasmi Arel

Music, Event, Traveling Photographer

Discussion

2 thoughts on “Kekuatan Do’a

  1. great note! inspiratif banget.. jadi teringat banyak sekali doa-doa saya juga yang dikabulkanNya..

    Posted by yanti | 16 September 2010, 12:02 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: