Edisi Umum

Kerja Keras bukan berarti Kerja Peras

GOSTAGE.com – Saya tergelitik dengan satu cerita yang dituliskan seorang teman dimilis. Ada satu cerita tentang tikus. Ada dua ekor tikus rumah sedang mencari keju, namun mereka tercebur dalam satu bejana susu, yang satu ekor, mati tenggelam dalam ke-pasrahannya. Sedangkan yang satunya, berenang dan terus berenang sehingga susu tersebut menjadi yogurt. Setelah kondisi tersebut memungkinkan, lalu tikus tersebut memanjat bibir bejana sehingga ia berhasil keluar dari bejana dan tetap hidup. Sang tikus pun mampu mencari keju kembali yang ada di rumah tersebut.

Saya mencoba menganalogkan cerita tentang tikus di atas dengan keseharian kita. Tikus yang pertama akhirnya mati karena kepasrahannya. Betapa disini ditunjukkan bahwa apabila kita menerima kondisi kesulitan begitu saja tanpa keinginan dan semangat untuk melakukan sesuatu, kemungkinan kita akan menjadi seperti tikus yang pertama tersebut. Mungkin tidak sampai mati, hanya sampai pada tahap stress misalnya. Tapi mungkin juga mengarah kepada frustasi dan keputus-asaan bahkan akhirnya mati karena bunuh diri.

Tikus kedua berusaha keras supaya tetap hidup dan dapat keluar dari bejana tersebut. Kesulitan terkadang membuat orang pasrah dan tidak tahu harus berbuat apa. Tapi tidak sedikit pula orang yang bangkit dan berusaha keras untuk keluar dari kondisi tersebut. Apa yang dilakukan oleh tikus kedua mencerminkan sebuah upaya bagaimana dia bisa bertahan hidup. Tidak berhenti hanya disitu, bagaimana kemudian dia mewarnai hidupnya setelah bangkit dari kesulitan. Kerja keras dan usaha keras disini menjadi kunci utamanya.

Namun demikian, kerja keras bisa diartikan berbeda pada situasi yang berbeda. Dalam dunia kerja misalnya, kerja keras bisa mengandung arti positif dan bisa juga negatif. Positif jika kerja keras tersebut mendatangkan keuntungan antara dua sisi pelakunya, perusahaan dan karyawan. Perusahaan akan merasa untung jika kerja keras yang dipersembahkan karyawannya mampu meningkatkan perolehan profit marjin. Sehingga penentuan perencanaan, strategi dan kebijakan yang tepat pada akhirnya memegang peranan penting. Dari sisi karyawan, akan merasa diuntungkan manakala tingkat kesejahteraan yang diberikan atau diprogramkan oleh perusahaan meningkat. Disamping itu juga, dukungan peraturan dan kebijakan perusahaan yang berpihak kepada karyawan juga menjadi hal yang patut diperhitungkan sehingga tercipta rasa saling membutuhkan dan saling memiliki. Perusahaan merasa senang karena mempunyai karyawan yang mampu menciptakan peningkatan profit, sementara karyawan merasa bangga bekerja didalam naungan perusahaan yang memiliki keberpihakan kepada mereka.

Kerja keras memberikan arti negatif manakala terjadi kebalikan dari kondisi di atas. Seorang teman bercerita mengenai sang istri yang mengeluh akibat ritme pekerjaannya di kantor. Dia bercerita bagaimana kondisi pekerjaan yang padat dan membuat dirinya seringkali pulang larut malam mendapat respon berbeda dari sang istri di rumah. Hari libur pun terkadang dia diharuskan masuk. Kerena kondisi ini, tingkat sosialisasinya pun terganggu. Saking sulitnya mengatur waktu untuk bertemu, teman dan kerabatnya pun seringkali menjuluki dia sebagai workoholic. Kondisi ini kemudian ditafsir berbeda oleh sang istri manakala hasil dari kerja siang malam tersebut tidak terlihat. Mungkin logika sederhana sang istri adalah bahwa karyawan yang bekerja melewati batas waktu jam kerja pasti ada uang lemburnya.

Lalu apa yang kemudian menjadi salah disini? Setelah saya gali lebih jauh, ternyata memang terdapat kondisi dimana dia terpaksa harus menjalani hal itu. Sebagai seorang karyawan yang bekerja di sebuah perusahaan konsultan, deadline waktu terkadang menjadi menu utama, meskipun tidak setiap saat. Jam kerja normal sepertinya jauh dari agenda waktu keseharian. Kondisi inilah kemudian menciptakan suatu pola dan tuntutan tersendiri bahwa pulang tepat waktu adalah menjadi hal yang langka bagi karyawan di perusahaan tempat dia bekerja. Di satu sisi prestasi atas kerja keras yang sudah dia lakukan tidak sepenuhnya mendapatkan pengakuan dari perusahaan. Sebenarnya menurut dia peraturan atas prestasi kerja ini ada, misalnya dalam bentuk uang harian jika kerja lembur dan bonus tahunan. Namun realisasi dari semua itu seringkali tidak sesuai dengan aturan yang sudah dibuat. Hal yang lebih buruk lagi adalah jika proyek yang dikejar ternyata kalah, maka prestasi tersebut menjadi terlupakan.

Saya kemudian membayangkan situasi yang dialami oleh teman tersebut. Dalam pikiran saya terlintas pertanyaan, apa iya dia setiap hari harus kerja dan pulang sampai larut malam? Secara pikiran normal, jawabannya seharusnya tidak. Ritme kerja seperti itu seharusnya bisa diatur sendiri, dengan menyusun target pekerjaan harian yang harus diselesaikan. Pembicaraan ini tentunya harus kita batasi bahwa yang dimaksud disini adalah target pekerjaan individu. Sebagai seorang karyawan, beban pekerjaan masing-masing individu pasti berbeda. Yang mengerti dan mampu mengatur hal tersebut tentunya individu yang bersangkutan. Kita mempunyai deadline waktu, misalnya untuk satu bulan. Dari deadline satu bulan tersebut kita bisa membuat perencanaan kerja dalam penjabaran target mingguan, dengan memperhatikan skala prioritas. Dari target mingguan ini kemudian kita bisa menurunkannya lagi menjadi target harian. Sekarang kita sudah mempunyai target pekerjaan yang harus dicapai setiap harinya untuk mencapai output bulanan. Hal yang kemudian perlu kita perhatikan adalah bagaimana kita mengatur waktu secara efisien dan seefektif mungkin.  Jika kita konsisten dengan target yang sudah kita susun, tentunya kita tidak akan main-main dengan waktu. Ritme pekerjaan pada akhirnya dapat kita atur dan main kan sesuai dengan kemampuan kita sendiri. Kitapun tidak harus pulang larut malam setiap harinya.

Terhadap aturan main yang dilakukan oleh perusahaan tempat teman saya tadi, tentunya sangat kasuistik. Namun disinilah letak peranannya. Perusahaan harus mampu berpikir ke depan bahwa karyawan yang bekerja adalah aset paling berharga diantara aset perusahaan lainnya. Tanpa karyawan sebuah perusahaan bisa dipastikan tidak akan maju. Apabila pemikiran ini dikedepankan, maka aturan main yang dikeluarkan seharusnya mempunyai keberpihakan kepada karyawannya. Keberpihakan ini tentulah harus dalam arti yang nyata, bukan hanya sekedar aturan yang tertuang dalam sebuah surat keputusan. Sehingga kerja keras yang dituntut oleh perusahaan tidak dikonotasikan oleh karyawannya sebagai kerja peras. Kuncinya adalah suasana kerja yang baik dan saling mendukung antara perusahaan dan karyawan serta penerapan aturan main yang nyata bagi penciptaan suasana kerja yang baik tersebut akan mengikis konotasi tersebut.

About Zasmi Arel

Music, Event, Traveling Photographer

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: