Edisi Umum

Si Kecil Suka Mengulang Suku Kata

GOSTAGE.com – Tidak terasa, si kecil kami sekarang sudah memasuki usia dua tahun lima bulan. Dari hari ke hari saya perhatian tingkah lakunya semakin pintar dan menggemaskan. Kemampuan berbicaranya pun juga semakin lancar, dia sekarang sudah bisa merangkai kalimat dan juga bisa mengkritisi apa yang kita bicarakan. Bahkan tidak jarang pertanyaan yang disampaikannya diluar perkiraan kita. Dia pun sudah bisa mengungkapkan alasan atau penolakan atas jawaban atau penjelasan yang kita sampaikan terhadap suatu kondisi dengan alasannya sendiri.

Misalnya, pernah suatu waktu saya melatih dia untuk mengenal perbandingan, seperti panjang pendek, tinggi rendah. Pada saat saya menunjukkan dua gambar gedung (satu tinggi satu rendah) saya tanyakan ke dia mana gedung yang tinggi, dia menunjuk objek/gambar gedung yang tinggi, saya kasih tepukan atas jawaban dia. Lalu saya tanyakan ke dia mana gedung yang rendah, lama dia berpikir tapi tidak menjawab. Karena dia tidak menjawab lalu saya pandu dengan menunjuk objek/gambar gedung yang rendah. Di luar dugaan dia protes, itukan gedungnya tinggi juga, kan semua gedung tinggi… begitu katanya. Atas protesnya tersebut saya tidak serta merta memaksakan jawaban saya, tapi sebaliknya, saya berpikir, benar juga… logikanya semua gedung adalah tinggi, nah hanya saja bagaimana kemudian kita harus menjelaskan kepada dia bahwa gedung yang satunya ternyata lebih rendah dibandingkan dengan gedung yang lain.

Terhadap kemampuan berbicara dan daya nalarnya ini kami patut bersyukur, karena tidak jarang anak-anak tetangga kami yang seusia dia bahkan lebih tua dari dia masih mempunyai hambatan atau keterbatasan dalam berbicara. Namun beberapa hari belakangan ini kami perhatikan dan kami temukan si kecil suka mengulang ulang suku kata pada waktu dia mengucapkan sebuah kalimat. Misalnya, dede ingin main sepeda di..di..di..luar rumah. Atau diwaktu dia menyanyi, dia akan berhenti pada satu kata sambil mengulang dan seperti berusaha untuk melanjutkkannya.

Tadinya kami beranggapan bahwa ini dibuat-buat oleh dia, karena sebelum ini dia lancar dalam mengucapkan kalimat atau menyanyikan sebuah lagu. Tapi kemudian anggapan kami tersebut mengerucut, manakala menemukan raut mukanya yang seolah berupaya untuk mengucapkan suatu kata yang dia ulang-ulang. Kami pun beranggapan kembali bahwa pada saat seperti itu kata-kata yang ada dalam benaknya sangat banyak, saking banyaknya maka terjadi ketidaksingkronan antara apa yang ingin diucapkan dengan perkataan yang keluar dari mulutnya.

Melihat kondisi seperti itu hal yang pertama saya lakukan adalah bersikap tenang dan berusaha memandu dia untuk mengucapkan kata-kata yang sebenarnya ingin dia ucapkan. Saya juga meminta istri dan mertua saya yang sehari-hari mengawal dia juga bersikap sama seperti yang saya lakukan, karena saya berpikir bahwa dengan perilaku tenang yang kita tunjukkan sebagai orang yang paling dekat dengan dia akan menimbulkan dampak psikologis yang positif bagi si kecil bahwa orang tuanya tidak panik dan mendukung upayanya untuk mengucapkan yang benar. Untungnya si kecil bisa diajak kerjasama sehingga ketika kami pandu supaya dia tenang dia pun bisa menyampaikan apa yang ingin disampaikannya dengan lancar.

Namun perasaan khawatir sebagai orang tua tetap ada. Sebagai upaya menenangkan diri dan mencari dukungan, saya coba searching informasi mengenai kondisi yang terjadi pada si kecil. Kata yang pertama saya ketik adalah “gagap”. Dari beberapa literatur dan postingan yang saya temui, akhirnya bisa membuat perasaan khawatir saya memudar. Tidak semua kondisi yang seperti si kecil kami alami dikategorikan gagap. Kondisi tersebut adalah merupakan fase dari proses perkembangannya dalam mengasah kemampuannya untuk berbicara. Mereka bisa saja mengalami gagap pada saat-saat tertentu masa perkembangannya, biasanya saat usia prasekolah. Hal ini bisa terjadi oleh sebab yang tidak pasti, mungkin terlalu gembira, capek, atau terburu-buru bicara.

Beberapa pakar menyebutkan bahwa jika anak usia 2-6 tahun mengalamai periode ketidaklancaran bicara adalah lumrah. Hal ini ditegaskan dalam situs Tim Mackesey — speech language pathologist dari Atlanta, AS. Dijelaskan juga, ada beberapa pola ketidaklancaran bicara yang sifatnya “lebih tipikal”. Misalnya saja: keragu-raguan, pembunyian jeda (dengan “eee” atau “emmm”), pengulangan kata-kata atau penggalan kalimat, serta pembetulan-pembetulan. Pola-pola semacam ini dapat ditemukan pada semua pembicara, dan biasanya akan teratasi sendiri tanpa penanganan khusus. Oleh sebab itu, orangtua hanya perlu memantaunya sedikit saja.

Akan tetapi, ada juga pola-pola ketidaklancaran yang “kurang tipikal”. Seperti: pengulangan bunyi (p-p-pizza), pengulangan suku kata (pi-pi-pizza), pemanjangan bunyi/kata, speech blocks (berhenti bersuara) dan pengulangan kata. Pola-pola ini disebut juga pola-pola berisiko, dan merupakan indikasi ketidaklancaran yang terkait dengan kegagapan. Ehud Yairi, Ph.D. dari Department of Speech and Hearing Science, University of Illinois menyebutkan, berbagai penelitian membuktikan bahwa kegagapan – untuk sebagian besar kasus — memuncak selama periode prasekolah. Data program penelitian kegagapan di Universitas Illinois menunjukkan, menjelang usia 3 tahun, 65% anak mengalami kegagapan. Di usia 3,5 tahun angkanya meningkat jadi 85%. Selewat usia 4 tahun, risiko kegagapan relatif rendah.

Mengapa usia prasekolah jadi “periode kritis” kegagapan? Diduga, hal ini karena rentang usia prasekolah bersamaan waktunya dengan perkembangan cepat dan penting dalam anatomi sistem bicara, serta perkembangan kemampuan kompleks yang berhubungan dengan artikulasi dan bahasa. Fakta-tersebut “mengundang spekulasi bahwa gangguan dalam proses-proses pematangan tersebut ikut berperan dalam kegagapan,” ungkap Dr. Yairi, seperti dilansir situs The Stuttering Foundation of America.

Ketidaklancaran Normal

Pada usia 3 tahun, anak sudah bisa punya perbendaharaan sekitar 800-1000 kata, bisa mengucapkan kalimat terdiri dari 3-4 kata, sering bertanya dengan memakai kata “apa”, senang bicara tentang diri mereka, dan suka mengulang-ulang bunyi, kata atau frasa.

Pada usia 4 tahun, memiliki perbendaharaan 1000-1500 kata, bisa mengucapkan kalimat terdiri dari 4-6 kata, mulai memakai beberapa kata ganti dengan tepat, memakai kata-kata kerja sederhana ( “tinggal”, “pergi”, “melukis”), dan hampir semua ucapannya dapat dipahami oleh pendengar yang sudah biasa maupun yang belum terbiasa.

Jika anak seusia ini suka mengulang-ulang sukukata atau kata saat bicara, belum tentu mereka gagap. Ada yang menyebut “kebiasaan” itu duplikasi tak-lancar dalam bicara – sesuatu yang normal dalam perkembangan bunyi dan bahasa. Bahkan, anak yang kalau bicara tampak kesulitan atau cenderung ragu pun belum tentu punya masalah kegagapan. Mungkin anak itu sedang mengalami periode ketidaklancaran bicara yang normal, seperti kebanyakan anak yang sedang belajar bicara. Secara umum ciri-ciri anak mengalami ketidaklancaran berbicara yang normal diantaranya adalah:

  • Anak kadang-kadang mengulang-ulang sukukata atau kata sekali atau dua kali, seperti i-i-ini.
  • Anak tampak ragu-ragu kalau bicara dan memakai kata-kata pengisi seperti “eeeee”, “ngggg” atau “mmmm”.
  • Terjadi antara usia 1-1,5 tahun sampai 5 tahun, dan cenderung hilang-timbul.

Dalam situs The Stuttering Foundation of America disebutkan, semua ciri-ciri di atas adalah tanda-tanda anak sedang belajar memakai bahasa dengan cara-cara baru. Jika ketidaklancaran hilang beberapa minggu lalu muncul lagi, kemungkinan anak sedang melewati tahap pembelajaran yang lain.

Kegagapan

Lalu apa yang dimaksud dengan gagap? Gagap adalah suatu gangguan kelancaran berbicara. Sebagaimana dijelaskan diatas bahwa anak usia 2 – 6 tahun sering mengulang-ulang kata-kata atau pada beberapa kasus bahkan mengulang seluruh kalimat yang diucapkan kepadanya (seperti orang latah). Sekali lagi hal ini dianggap normal bila terjadi pada anak yang masih belajar berbicara, mengingat anak pada usia tersebut masih dalam tahap mempelajari cara berbicara, mengembangkan kendali terhadap otot-otot berbicaranya, mempelajari kata-kata baru, menyusun kata-kata dalam suatu kalimat, dan mempelajari bagaimana cara bertanya serta mempelajari akibat dari kata-kata yang mereka ucapkan. Hal inilah yang kemudian menyebabkan anak di usia tersebut umumnya masih mengalami gangguan dalam berbicara.

Umumnya tanda-tanda awal kegagapan terlihat pada usia dua tahun atau pada saat anak mulai belajar merangkai kata-kata menjadi suatu kalimat. Sering kali orang tua merasa jengkel dengan kegagapan anak, tetapi hal ini merupakan hal yang umum ditemui saat anak masih dalam tahap perkembangan berbicara. Kesabaran merupakan sikap terpenting yang harus dimiliki oleh orang tua selama anak berada dalam tahap ini. Seorang anak mungkin mengalami gangguan kelancaran berbicara selama beberapa minggu atau bulan dengan gejala yang hilang timbul. Sebagian besar anak akan lancar berbicara dan tidak akan gagap lagi bila kegagapannya itu dimulai pada usia kurang dari 5 tahun. Adapun ciri -ciri kegagapan ringan adalah sebagai berikut: (i) anak mengulang-ulang bunyi lebih dari dua kali, seperti i-i-i-ini, (ii) anak tampak tegang dan berjuang untuk bicara (tampak dari otot-otot wajah, terutama sekitar mulut), (iii) nada suara mungkin naik seiring pengulangan, (iv) kadang suara anak seperti tercekat – udara atau suara tertahan selama beberapa detik.

Lalu apa faktor penyebab kegagapan? Beberapa orang tua beranggapan bahwa kegagapan disebabkan oleh cara mendidik anak atau pola pengasuhan orang tua yang salah. Hal ini dibantah oleh para ahli, kenyataannya, sebagaimana yang dijelaskan diatas penyebab kegagapan sampai saat ini belum dapat dijelaskan secara pasti. Gagap merupakan suatu keadaan yang sangat rumit dan berkaitan dengan banyak hal. Anak laki-laki umumnya lebih banyak mengalami kegagapan dibandingkan anak perempuan, dengan perbandingan tiga banding satu. Psikolog dari RS Global Awal Bross Dian Wisnuwardhani S.Psi, M.Psi, dan Terapis Wicara dari RSAB Harapan Kita Rita Rahmawati, A. MdTW, S.Pd memaparkan beberapa faktor penyebab kegagapan.

Trauma atau Masalah Emosional. Pada keadaan gagap yang terjadi setelah kondisi stroke, head trauma, atau karena brain injury, otak mengalami kesulitan dalam melakukan koordinasi komponen-komponen kata atau suku kata yang disebabkan pemberian sinyal antara otak dan syaraf atau otot mengalami gangguan. Gagap pun bisa terjadi karena masalah emosional. Misalnya anak mengalami gangguan emosi atau bersitegang dengan orangtua, orang sekitar atau lingkungan. Hal ini bisa memicu kelainan ritme atau gagap. Secara tak terkontrol, anak tiba-tiba bicara dengan sering mengulang-ulang. Bahkan kadang-kadang disertai ketegangan yang berlebihan pada muka serta timbul rasa takut selama bicara.

Perkembangan dan Lingkungan. Faktor perkembangan juga memberikan kontribusi. Selama masa prasekolah, fisik, kognitif, sosial atau emosional, dan kemampuan bicara atau bahasa anak berkembang sangat pesat. Perkembangan yang pesat ini bisa menimbulkan kegagapan pada anak yang terpengaruh oleh hal ini. Makanya gagap biasa terjadi pada anak usia pra sekolah. Faktor lingkungan mencakup perilaku orang tua, teman-teman pergaulan juga orang sekitar, atau kejadian-kejadian yang menegangkan. Ini tidak berarti orangtua melakukan sesuatu yang salah.

Seringkali faktor-faktor ini tidak memengaruhi anak yang memang tidak gagap, tapi bisa menimbulkan gagap pada anak yang mempunyai kecenderungan untuk itu. Rasa takut dan kekhawatiran pada anak bisa menyebabkan hal ini berlanjut, bahkan memburuk.

Berikut yang bisa dilakukan orang tua atau kerabat dekat di rumah untuk penanganan dini kepada anak yang mengalami gagap atau timbul gejala gagap:

  1. Sabar dan siap menerima diri sebagai orangtua, di mana si kecil membutuhkan bantuan untuk mengatasi gagapnya.
  2. Selalu memberikan rasa nyaman dan menularkan semangat kepada anak dengan tersenyum.
  3. Gunakanlah waktu beberapa menit setiap hari untuk berbicara dengan anak dalam suasana rileks.
  4. Cobalah untuk memberi sentuhan lembut, merangkulnya dengan tenang dan penuh perhatian saat buah hati ingin mengungkapkan sesuatu dalam kondisi terburu-buru – mungkin terlalu gembira atau terlalu capek.
  5. Hentikan pekerjaan yang sedang Anda kerjakan dan dengarkan dirinya “dengan menggunakan mata Anda.” Jangan biarkan wajah Anda berkerut dan gunakan intonasi suara yang bersahabat.
  6. Pastikan Anda mendengar apa yang dikatakan anak tanpa menginterupsi atau menyelesaikan kalimat untuknya. Adalah sangat penting anak tahu bahwa Anda mengerti apa yang dikatakannya.
  7. Dengarkan dan lihat dengan cermat apa yang Anak ucapkan, jangan mempermasalahkan cara ia bicara. Semakin anak merasa takut akan semakin sulit bagi dia untuk berbicara. Sabarlah hingga anak menyelesaikan bicaranya, lakukanlah selalu kontak mata, agar anak juga selalu merasa diperhatikan.
  8. Ketika anak berbicara, katakanlah secara jujur jika ada kata-kata yang kurang Anda pahami. Mintalah anak untuk mengulang kembali dengan perlahan dan santai.
  9. Lakukanlah konsentrasi ketika anak mencoba mengatakan sesuatu. Ingat jangan membuat anak merasa takut.
  10. Jangan sekali-kali mengatakan kepada anak, bahwa gagap adalah keadaan yang memalukan dan salah sehingga merugikan.
  11. Jika berbicara dengan anak gagap, lakukanlah dengan perlahan, baik kecepatan dan artikulasi kata. Pastikan bahwa anak cukup dapat memahami, dan kemudian minta anak untuk mengulangi lagi.
  12. Ketika Anda melihat sekiranya anak cukup siap menerima keadaannya, bicarakan apa yang membuat anak gagap, cobalah terus menggali ketakutan, kekesalan dan kecemasan dan kemungkinan juga rasa malu. Ketika ia berhasil menceritakan kepada Anda, akan lebih mudah untuk memahami si anak dan rasa saling percaya akan terjalin.
  13. Selalu ciptakan suasana nyaman dan aman saat belajar bicara di mana saja dan kapan saja.
  14. Jangan malu bertanya kepada terapis wicara, langkah-langkah apa yang harus dilakukan di rumah, sambil tetap melakukan terapi wicara bagi anak.
  15. Anak-anak penderita gagap hendaknya dihindarkan dari situasi lingkungan yang menekan.
  16. Semua anggota keluarga baik kakak, adik, paman, bibi, kakek, nenek, pengasuh dan teman serta guru harus ikut mendukung dalam menangani anak dengan gangguan gagap. Mencegah orang lain (terutama saudaranya) mengejek atau meniru-niru cara bicara anak.
  17. Menjadi contoh penutur yang baik: bicara jelas, perlahan, tidak memburu-buru diri sendiri.
  18. Tidak memberi label apapun (“gagap”, “tidak lancar”, “seperti orang mengejan”) tentang cara bicara anak.
  19. Tidak memberi perhatian khusus terhadap pengulangan-pengulangan yang dilakukan anak.
  20. Tidak mengatakan “Pelan-pelan bicaranya, Sayang” atau “Tenang, Nak… Tenang” pada anak.

Source: Beberapa literatur dan postingan

About Zasmi Arel

Music, Event, Traveling Photographer

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: