Edisi Umum

Alergi yang “To Be Continued”

GOSTAGE.com – Jumat minggu lalu, berhubung ada deadline saya putuskan untuk berangkat kerja agak pagian. Konsekuensinya, saya sarapan di kantor. Kalau sepagi itu variasi menunya sudah tidak asing lagi, bubur ayam, mie ayam, lontong sayur, pecel madiun, atau yang super cepat adalah gorengan. Tidak ada yang lain, karena memang itulah pilihannya. Berbeda kalau agak siangan, menunya segala macam ada. Saya putuskan untuk sarapan pecel madiun. Porsinya seperti biasa, nasi setengah dan peyek teri atau ebi, paduan rasa yang mantap di lidah, maknyus kata Om Bondan.

Selesai sarapan mulailah pada rutinitas kerja, duduk manis di hadapan laptop. Yang pertama saya lakukan adalah mengecek email, baik email kantor maupun email pribadi. Kemudian mengecek blog dan facebook untuk membaca dan membalas komentar yang mampir. Setelah itu saya fokus ke pekerjaan, meskipun disela-sela itu dua hal yang disebutkan pertama tetap dilakukan. Maklumlah,prinsip keseimbangan harus tetap dipegang, kerjaan beres kehidupan sosialita juga jalan terus. So…rasanya tidak ada yang berbeda apa yang saya mulai dan lakukan hari ini dari hari sebelumnya. Hanya saja tiba-tiba saya merasakan udara di ruangan sebegitu dinginnya. Saya cek temperatur, delapan belas, masih normal. Mungkin karena cuaca pagi yang sedikit mendung pikir saya.

Beberapa menit kondisi itu tetap terasa. Saya perhatikan tangan saya kok malah merinding. Seiring dengan itu saya merasakan sekujur tubuh tidak enak, sembriwing kata orang iklan… dan mulai terasa gatal di sekitar paha. Ah, mungkin ini gejala umum saja, pikir saya lagi. Tapi rasa gatal tersebut semakin lama semakin menyebar. Saya perhatikan pada bagian lengan mulai muncul bentol merah. Saya belum berpikiran jika itu adalah alergi. Lama kelamaan bentol merah tersebut semakin banyak. Setelah sholat jumat saya ke toilet, sengaja ingin mengecek sumber gatal yang terasa. Begitu kemeja dan kaos dalam saya singkap, alamaaak!!! perut saya sudah penuh dengan bentol-bentol merah bahkan mulai melebar. Saya pun berkesimpulan bahwa saya terkena alergi, entah karena peyek teri atau ebi dari nasi pecel madiun yang saya makan tadi atau karena udara dingin di ruangan.

Karena tidak tahan menahan rasa gatal, saya ijin pulang dan berniat meneruskan pekerjaan di rumah. Mudah-mudahan dengan sedikit istirahat dapat pulih dan meneruskan pekerjaan. Tak lupa saya mampir ke apotik untuk membeli obat penghilang alergi yang mereknya sudah lazim saya dengar. Rasa gatal semakin menyerang, semakin kencang saya tancap gas motor semakin terasa gatalnya. Benar saja, begitu tiba dirumah dan membuka jaket, sekujur tubuh saya mulai dari tangan, perut, paha dan kaki penuh dengan bentol-bentol merah yang melebar bahkan mulai menyatu. Ngeri juga melihatnya. Untunglah tadi saya sempatkan makan siang dulu di kantor sehingga bisa langsung menenggak obat penghilang alergi yang sudah dibeli. Saya pun tertidur pulas.

Sore harinya, begitu bangun, saya perhatikan di sekujur tubuh, terutama pada bagian tangan dan kaki yang langsung bisa terlihat. Lumayan, bentol-bentolnya sudah hilang, tapi bercak merahnya masih terlihat. Jika diperhatikan bercak merah itu seperti pecahan darah yang melebar di bawah kulit. Mungkin satu kali minum obat lagi baru sembuh, bathin saya. Karena itu, menjelang tidur malam, saya tenggak obat penghilang alergi lagi. Dan alhamdulillah, bangun di Sabtu pagi bercak merah mulai hilang, hanya tersisa di beberapa bagian saja.

Sabtu siang, saya diajak istri dan mertua menemani belanja ke pasar tanah abang. Disamping mengawal, sebenarnya tujuan utamanya adalah supaya ada yang bisa menggendong si kecil nantinya. Memang, bobot si kecil sudah mulai terasa berat jika digendong. Sehingga sudah terbayang, bagaimana capeknya menjelajahi setiap lantai sambil menggendong si kecil. Belum lagi rasa penat akibat hiruk pikuk suasana transaksi yang terjadi antara si penjual dan para pembeli. Saya merasakan kondisi badan mulai nge-drop. Kecapekan pastinya, karena tadi pagi sebelum pergi saya sempatkan dulu untuk “gowes” bersama orang-orang komplek. Alhasil, sewaktu di taksi dalam perjalanan pulang, saya tertidur pulas. Setiba di rumah saya merasakan diserang rasa gatal kembali. Wuih, ternyata saya terserang alergi kembali. Saya jadi heran, alergi kok bisa bersambung alias to be continued. Ya sudah, akhirnya saya teruskan menenggak obat.

Beberapa literatur yang saya baca kemudian menyebutkan bahwa penyebab alergi bisa bermacam-macam, bisa makanan, hirupan, kontak kulit, atau obat-obatan.Pemicu alergi sendiri juga beragam, seperti infeksi (panas, batuk, pilek), aktivitas yang meningkat (berlari, menangis, tertawa keras, kecapekan), udara dingin, udara panas, minuman dingin, stress, atau gangguan hormonal seperti kehamilan dan menstruasi. Adapun faktor yang mempengaruhinya bisa genetik (menurun dari orang tua), imaturitas saluran cerna (ketidakmatangan saluran cerna), atau bisa juga apa yang disebut paparan atau kontak langsung dengan penyebab alergi.

Dijelaskan juga bahwa debu yang paling sering dianggap sebagai penyebab alergi adalah debu rumah atau ”house dust”. Debu di luar rumah jarang dianggap sebagai penyebab alergi. Bila dicermati debu yang selama ini dianggap sebagai biang keladi penyebab alergi mungkin bisa disisikan. Hal ini dapat dibuktikan bahwa keluhan alergi seperti batuk dan pilek seringkali timbul saat malam dan pagi hari. Padahal saat malam dan pagi hari debu lebih sedikit. Reaksi alergi karena debu adalah reaksi cepat yang seharusnya lebih banyak timbul saat siang hari. Fakta lain juga terjadi banyak orang tua yang telah membersihkan semua debu, boneka, karpet dan dipasang air condition plasma cluster tetapi ternyata gejala alergi batuk dan pilek tidak kunjung hilang. Debu bisa dapat menimbulkan alergi bila dalam jumlah yang cukup besar, seperti bila masuk gudang, rumah yang tidak ditinggali lebih dari seminggu, saat bongkar-bongkar kamar atau saat menyapu.

Dingin atau AC sering juga dianggap biang keladi penyebabnya. Mungkin memang benar dingin sebagai pemicu atau memperberat gangguan yang sudah ada. Tetapi pendapat ini tidak sepenuhnya benar karena banyak penderita alergi batuk saat tidur siang dengan AC yang sangat dingin tidak timbul gejala batuk tersebut. Hingga saat ini masih belum diketahui mengapa gejala alergi atau asma sering timbul saat malam hari. Diduga peranan hormonal sirkadial yang mengakibatkan fenomena gejala saat malam dan pagi hari lebih sering  terjadi.

Fakta tersebut di atas lebih menunjukkan bahwa makanan sangat mungkin berperanan dalam kejadian alergi. Proses terjadinya alergi makanan sebagian besar menimbulkan reaksi lambat, gejala timbul setelah 6-8 jam terpapar makanan tertentu seperti ayam, telor, jeruk, coklat dan sebagainya. Sebagian kecil makanan menunjukkan reaksi cepat atau kurang dari 8 jam seperti ikan laut, kacang, mangga dan buah-buahan tertentu lainnya.

Saya jadi mengingat-ingat kapan terakhir kali saya mengalami alergi. Jawaban yang terekam dalam kepala saya ternyata sudah sangat lama, sekitar tahun 1997, waktu masih kuliah. Saya masih ingat, waktu itu penyebabnya adalah ikan tongkol. Ya, saya makan ikan tongkol yang mungkin sudah digoreng berkali-kali oleh si pemilik warung. Serangan alergi waktu itu kondisinya hampir separah yang saya rasakan sekarang. Namun bedanya adalah waktu itu alergi yang saya alami tidak ‘to be continued‘.

Mmmmm…ada-ada saja ya.. ternyata tidak hanya film yang bisa ‘to be continued’, alergi pun bisa.

About Zasmi Arel

Music, Event, Traveling Photographer

Discussion

2 thoughts on “Alergi yang “To Be Continued”

  1. bener tuh mas zasmiarel,saya juga sedang mengalaminya,malah ini tahun yang ke 5 saya terserang alergi,tiap 2 tahun sekali.tersiksa rasanya.

    Posted by medra | 5 January 2010, 10:19 am
  2. tdi pgi kn q sarapan nasi sama telur dadar,tpi beberapa menit kemudian beberapa bagian kulit terasa gatal,awalnya sih q kira ini dsebabkan oleh ulat bulu,,lalu tiba tiba gatal itu menyebar d seluruh tubuh q,,kulit yg gatal jika digaruk akan menimbulkan benjolan benjolan dan jika digaruk terus akam menyatu dan membesar,kemudian q lngsung mandi dan gatal2 itu pun sedikit berkurang,,gejala yg q alami merinding/dingin disertai gerah,tdak berkeringat,,memang sih tdi malam q sulit tdur jam 3am mulai tidur tpi jam 6.30am sdh bngun,apa mungkin kurang tidur atau kelelahan ya?,,q sdh ngalamin itu beberapa kali,kata orang bilang q kena penyakit dabagen(bhasa jawanya)bhsa indonesianya apa ya?,,orang yg ngalamin ini mungkin 1hari dh sembuh,,

    Posted by Edi wallet | 4 April 2014, 10:52 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: