Edisi Umum

‘Gowes’ Lagi….

GOSTAGE.com – Setelah empat bulan tidak gowes, akhirnya sabtu tiga puluh satu oktober lalu saya terbujuk rayuan rekan goweser untuk ikut gowes lagi. Ya, hari itu adalah tepat empat bulan hilangnya sepeda saya yang pertama akibat digondol maling. Polygon Tyrano saya raib digondol maling pada hari senin tiga puluh juni dua ribu sembilan, selama itu pula saya tidak aktif dalam dunia per-gowes-an. Saya pun belum merakit sepeda baru kembali. Sedikit sulit untuk mencari waktu yang tepat untuk berkunjung ke toko sepeda untuk melakukan hal tersebut mengingat deadline pekerjaan memang lagi menumpuk. Padahal alasan utamanya adalah karena kondisi financial yang timbul tenggelam, hahaha. Sampai kemudian ada sedikit paksaan dari rekan goweser supaya saya ikut gowes lagi, meskipun dengan sepeda yang dia pinjamkan.

Ajakan untuk gowes ini sebenarnya tidak hanya kemarin, sebelum-sebelumnya juga sudah muncul. Pokoknya, beberapa kali kesempatan, khususnya di akhir pekan ada saja yang mengajak. bahkan tetangga sebelah pun demikian. Di bulan pertama setelah kehilangan saya selalu berkilah, belum empat puluh hari, layaknya orang berkabung, hehehe. Pada bulan berikutnya karena memang kesibukan. Disamping juga perasaan kurang sreg kalau menunggangi sepeda yang bukan pegangan sendiri. Nah, dua minggu sebelum gowes kemarin si rekan goweser tadi aktif menelepon dan meng-sms supaya saya ikut gowes. Dan ajakan terakhir benar-benar tidak bisa saya elakkan lagi. Tapi saya berpikir, ada baiknya juga saya ikut, secara waktu memang sudah sekian lama tidak aktif. Secara fisik ingin tahu juga sampai dimana kekuatan nafas saya dengan rute yang biasa dilewati.

Kita start keluar dari komplek sekitar pukul tujuh pagi. Yang ikut gowes ada tujuh orang. Rute gowes yang dilalui adalah rute yang biasa kita lewati, rute jalan kampung dipadukan dengan jalan raya biasa, dengan jarak tempuh sekitar dua puluh lima kilo. Bagi saya dan rekan yang tadi ngotot membujuk, gowes kali ini adalah dianggap sebagai gowes uji coba. Dia pun sama seperti saya, sudah lama vacum. Bedanya, kalau saya vacum karena sepeda raib, kalau dia karena kesibukan. Dia bahkan sempat menjadi tim suksesnya salah satu calon presiden pada pemilu dua ribu sembilan lalu. Bagi beberapa rekan yang lain gowes hari itu adalah gowes pemanasan sebelum melakukan gowes ke Rindu Alam Puncak di hari minggunya.

Wuiih, ternyata cukup terasa juga. Test case pertama adalah melewati turunan dan tanjakan di sekitar jalan kampung dekat Perumahan Citra Grand. Turunan disini sebenarnya rute biasa, kemiringannya pun sekitar tiga puluh derajat. Namun yang perlu diwaspadai adalah karena kondisi jalannya tidak mulus dan berbatu. Di sisi kanannya adalah sungai dengan dinding curam yang cukup dalam, sementara titik awal turunannya berkelok dan apabila diambil garis lurus arahnya persis menuju ke tengah jurang. Sehingga, jika kita salah perhitungan dalam meluncur maka bisa dipastikan kita akan terbang bebas ke arah jurang. Adapun tanjakannya adalah berupa jalan tanah yang berkelok dengan kemiringan sekitar empat puluh derajat. Diwaktu hujan tanjakan ini akan sangat licin karena tanahnya adalah tanah merah bercampur liat. Disini yang diperlukan teknik pengaturan gigi sepeda. Salah atur menyebabkan kita mendorong sepeda bahkan bisa kram.

Jalur turunan dan tanjakan tersebut berhasil saya lewati dengan baik, karena memang sudah biasa. Meskipun sudah lama, untungnya saya masih ingat tekniknya. Tapi harus saya akui, setelah melewati tanjakan nafas saya ngos-ngosan juga. Setelah itu rutenya adalah jalan tanah berbatuan biasa.

Dalam setiap kesempatan gowes, disamping mengayuh kita juga memadukan dengan kegiatan kuliner. Di separuh perjalanan biasanya kita akan berhenti di warung pavorit yang memang sudah sering disinggahi para goweser. Umumnya yang dituju adalah warung dengan menu makanan ringan, ketan, gorengan dipadukan dengan teh panas atau minuman dingin. Gowes kali ini pun demikian, pada salah satu warung kita berhenti untuk beberapa menit. Disinilah saya merasakan mata berkunang walau hanya sedikit. Sebelum bertambah parah saya melakukan sedikit teknik pengaturan nafas dan lumayan berhasil.

Setelah itu rute yang dilalui adalah on road alias jalan raya beraspal. Setelah beberapa lama mengayuh saya merasakan mata saya kembali berkunang. Heran, diwaktu melewati jalur off road tadi kondisi baik-baik saja, justru di jalur on road seperti ini malah berkunang. Mungkin ini dampak dari tidak gowes yang terlalu lama. Saya kembali melakukan teknik pernafasan sambilterus mengayuh, dan sekali lagi berhasil.

Selanjutnya kita masuk jalur off road kembali. Dalam dunia per-gowes-an memang kita lebih banyak memilih jalur off road. Tujuan utama kita adalah disamping berolah raga juga sekaligus mencari udara segar. Bukannya tidak senang dengan jalur on road, kondisi asap knalpot kendaraan yang tebal ditambah debu jalanan membuat kita sebisa mungkin menghindari jalur ini.

Akhirnya tepat pukul setengah sepuluh kita tiba kembali di komplek perumahan. Acara gowes kali ini pun diakhiri. Meskipun berasa cukup penat, ternyata saya masih kuat dengan berbagai rute yang ditempuh. Indikatornya adalah satu, bangun esok paginya saya tidak merasakan pegal di sekujur persendian. Berbeda waktu dulu saat pertama kali saya ikut gowes, pegal dan linunya dua hari baru bisa hilang.

About Zasmi Arel

Music, Event, Traveling Photographer

Discussion

4 thoughts on “‘Gowes’ Lagi….

  1. *menunggangi sepeda yang bukan pegangan sendiri* ???

    Posted by soulharmony | 7 November 2009, 1:18 pm
  2. Seru !!!
    Salam kenal Mas Ariel😀

    Posted by Rizal | 8 November 2009, 3:15 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: