Edisi Umum

Penabrak yang Ngotot Mengaku Ditabrak

GOSTAGE.com – Ada kejadian lucu yang saya alami di akhir Juli 2010 lalu. Ceritanya hari itu saya bersama rekan kerja dan sopir kantor baru selesai memasukkan dokumen tender di salah satu kementerian di bilangan senayan. Kami keluar dari areal lobby gedung sekitar pukul enam petang. Memasuki jalur Sudirman sudah disambut dengan kemacetan. Kondisinya gak jauh beda waktu jalan pergi tadi, dimana-mana macet, mulai macet merayap, macet sedikit parah, macet parah sampai dengan macet total.

Kembali ke pokok cerita, kemacetan terus berlanjut. Memasuki putaran semanggi sampai depan pelangi alias plaza semanggi makin parah. Pak Mul sopir kantor kami cepat membaca situasi. Niatnya untuk masuk tol diurungkan manakala melihat kondisi dalam ruas jalan tol tidak jauh beda dengan ruas jalan biasa.

Macet seperti itu membuat pikiran lelah dan jenuh. Apalagi semalaman belum tidur karena menyelesaikan dokumen tender. Rekan saya di kursi belakang sudah tidak bersuara, artinya sudah terlelap dalam kelelahan. Sementara saya, meskipun mencoba memejamkan mata tetap tidak bisa tidur.

Untuk menghilangkan kejenuhan, saya coba berpikir yang asyik-asyik, mengecek email dan facebook lewat handphone, sesekali ngobrol dan becanda dengan Pak Mul, atau sekedar mengomentari pengemudi mobil dan motor yang ada di kiri kanan kami.

Kemacetan ternyata terus berlanjut. Prediksi kita biasanya di pintu tol kedua ruas gatot subroto ini sudah lancar, namun kali ini meleset. Pak Mul kembali mengurungkan niat masuk tol dan tetap menelusuri ruas jalan biasa. Sesekali saya menggeser posisi duduk, guna mengurangi kepenatan. Tepat di jalan layang kuningan, tiba-tiba terdengar suara duk!!!!!! dari belakang. Saya yang sedang menikmati kepenatan, Pak Mul yang konsentrasi dengan mobil di depan dan rekan kerja yang tertidur di kursi belakang sontak kaget. Terdengar bunyi klakson dari mobil di belakang kami.

Saya bicara ke Pak Mul, sepertinya kita ditabrak. Pak Mul melihat dari kaca spion, agak ragu-ragu dia memutuskan untuk turun sekedar mengecek, maklum…. suasana jalan macet merayap, dan posisi mobil kami berada di jalur tengah. Pak Mul pun memutuskan untuk tetap jalan, karena memutuskan berhenti akan menambah kemacetan dan tentunya akan mengundang klakson-klakson lain berbunyi tanpa dikomandoi. Kami pun terus maju mengikuti irama kemacetan.

Sampai di depan Komplek Bidakara Pancoran, tiba-tiba ada yang mengetok kaca depan di sisi Pak Mul. Rupanya pengendara mobil yang berada di belakang kami tadi. Dia berteriak meminta Pak Mul turun untuk melihat kondisi mobil. Dan dalam teriakannya jelas terucap bahwa kami telah menabrak mobilnya. What??? What haven ayak nawon ini. Jelas-jelas posisi mobil dia yang menabrak kami, kok malah dia yang ngotot merasa ditabrak oleh mobil kami.

Pak Mul meminta orang tersebut untuk berhenti di depan, karena kondisi jalanan masih macet. Namun orang tersebut tetap ngotot. Akhirnya Pak Mul turun, dan benar saja, klakson-klakson dari mobil yang lain bersuara tanpa dikomandoi. Lumayan lama juga Pak Mul berbicara dengan orang tersebut. Saya sengaja memutuskan untuk tidak turun dengan asumsi Pak Mul bisa menyelesaikannya.

Selang beberapa lama Pak Mul masuk dan kembali menjalankan mobil. Saya tanya hasilnya, Pak Mul jawab bahwa orang tersebut masih ngotot. Weleh, bakal panjang ini, pikir saya. Saya ingat, di dekat Gelael ada kantor posisi, atau setidaknya sering ada polisi yang berjaga dan mengatur lalu lintas di sekitar tempat itu. Saya minta Pak Mul untuk berhenti disana supaya ada yang menengahi. Artinya kita ingin menunjukkan bahwa dimana-mana yang menabrak dari belakang itu adalah salah, bukan malah sebaliknya.

Sampai di depan Gelael Pancoran kondisi jalan masih macet parah. Posisi mobil kami tidak memungkinkan untuk memasuki gerbang kantor polisi disana. Tapi benar perkiraan saya, di depan ada Polisi yang sedang berjaga. Saya melihat dari kaca spion, mobil tadi masih mengikuti kami. Pak Mul pun menyalakan lampu sen kiri untuk berhenti di depan polisi tadi. Tapi tiba-tiba mobil di belakang kami ambil kanan dan melaju terus. Pak Mul kemudian mengikuti. Ternyata mobil itu berhenti pada posisi lumayan jauh dari tempat polisi tadi.

Kali ini saya putuskan untuk turun menemani Pak Mul. Saya lihat dia sendirian dan ternyata juga seorang supir. Plat mobilnya adalah “CD”, artinya mobil tersebut kepunyaan salah satu konsulat jenderal. Terjadilah percakapan tarik ulur.

Pak Mul: “Sebenarnya mau anda apa sih?”

Sopir Mobil CD: “Mau saya, ya bapak berhenti dong dan selesaikan masalah ini, jangan jalan terus begitu…”

Pak Mul: “Saya pengen denger, memang sebenarnya yang salah itu siapa?”

Sopir Mobil CD: “Lho, yang salah bapak, tadi posisi mobil bapak mundur dan ketika itu mobil saya maju terus nabrak mobil bapak..”

Pak Mul: “Mas, pertama nih.. yang mundur itu siapa? Yang kedua, dimana-mana yang nabrak dari belakang itu yang salah, kita sama-sama supir, yang seharusnya ngotot itu adalah saya, karena mobil saya yang ditabrak, bukan anda… Sudah syukur saya ndak mempersalahkan, seumpamanya saya perkarakan, saya kasihan sama anda, karena saya tahu anda juga sopir seperti saya.”

Sopir Mobil CD: “Ya gak gitu dong pak, pokoknya bapak harus tanggung jawab…”

Saya: “Mas, mau mas itu sebenarnya apa sih? Sudah syukur kami ndak mempermasalahkan, ee… malah mas sendiri yang minta dipermasalahkan. Kalau memang begitu, ayo kita sama-sama ke kantor polisi, biar jelas dan mas puas…”

Sopir Mobil CD: “Lho pak, kan mobil bapak yang nabrak mobil saya, seharusnya bapak tau diri dong, berhenti kek, ngeliat kek kondisi mobilnya, bukan ngeloyor jalan terus seperti tadi…pokoknya saya gak mau tau, gimana caranya ini diselesaikan disini..”

Saya: “Mas, anda itu punya pikiran gak. Anda lihat gak tadi jalan macet merayap kayak gitu, kita punya otak mas, anda mau disumpahin orang karena ngotot kayak gitu, seharusnya yang marah itu saya mas, bukan anda, coba anda ingat tadi waktu berhenti di depan bidakara, bikin tambah macet kan…”

Sopir Mobil CD: “Pokoknya bapak harus ganti rugi mobil saya..”

Saya: “Eh, mas… sekali lagi saya tanya, anda tahu peraturan gak, anda punya mata gak, yang nabrak itu siapa, mobil kami… apa mobil anda, anda mau memeras ya… saya gak peduli mas mobil anda berplat “CD”, kalo anda mau tetap ngotot memperkarakan dan merasa anda yang ditabrak ya ayo sekarang kita ke polisi, berani gak anda…?’

Sopir mobil CD tersebut diam tapi terus menatap saya.

Saya: “Kenapa? anda kurang puas? gak terima? saya kan sudah bicara baik-baik, bahwa kami tidak akan memperpanjang urusan ini, lagian mobil kita sama-sama gak lecet. Begini aja, sekali lagi.. saya gak peduli ini mobil “CD” atau bukan, dan bukan berarti kalo yang bawa ini mobil berplat nomor “CD” anda bisa seenaknya dan merasa anda paling berkuasa, saya balik perkataan saya, mau anda sekarang gimana?”

Sopir Mobil CD: “Ya mau saya bapak turun dong, liat kondisi mobil bapak, oke… seandainya sekarang benar saya yang nabrak mobil bapak, kok bapak ndak turun dan dan gak berusaha mengecek kondisi mobil bapak? Jangan begitu caranya pak”

Saya: “Mas, sekali lagi saya tanya, dengan tidak turunnya kami tadi, anda merasa dirugikan gak? Seharusnya anda bersyukur, kami tidak turun tadi karena kami gak mau memperunyam kondisi macet, dan juga itu artinya kami tidak mau memperpanjang urusannya, karena kami tahu kalau anda itu sopir. Kalau kami perpanjang urusannya justru kami kasihan dengan anda, ngerti gak anda? Begini aja, anda merasa tetap ingin ngotot kalau anda yang ditabrak oleh kami? Mari kita ke kantor polisi sekarang, supaya jelas semuanya..”

Pak Mul: “Sudahlah mas, sekarang, daripada tambah runyam, mendingan kita sekarang salaman, dan anggap aja semuanya selesai sampai disini.”

Pak Mul mengulurkan tangannya ke orang tersebut, tapi ditolak.

Sopir Mobil CD: “Gak pak, saya gak mau salaman seperti ini. Buat saya asal bapak tahu aja kalau bapak itu salah dan jika terjadi kayak tadi seharusnya bapak berhenti dulu untuk menyelesaikannya…”

Wah, saya mulai tidak sabar. Ini orang bodoh atau belagak bodoh….

Saya: “Oke mas, sekarang gini aja deh, anggap aja saya salah, sekarang mari kita selesaikan ini di kantor polisi, jika anda gak mau silahkan pergi sekarang sebelum saya berubah pikiran…”

Sopir mobil CD tersebut kembali diam. Sepertinya masih kurang puas. Namun kemudian dia menghidupkan mesin mobilnya dan ambil kanan serta melaju begitu saja. Saya dan Pak Mul, hanya geleng-geleng kepala.

Sebenarnya dari tadi (waktu diberhentikan di depan komplek Bidakara) Pak Mul sopir kami sudah membaca kemana arah pemikiran orang tersebut, ujung-ujungnya memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan alias memeras. Dia mungkin menganggap bahwa Pak Mul juga mengemudikan mobil tersebut sendirian (kebetulan kaca mobil kantor yang kami tumpangi gelap) sehingga dia berani. Namun ketika tadi saya ikut turun dengan Pak Mul sangat jelas terlihat bahwa mukanya kaget.

Ini suatu realita, penabrak yang ngotot mengaku ditabrak karena memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan dan memanfaatkan kekuatan proteksi atas satu lembaga yang bertengger di negara kita untuk kemudian menunjukkan arogansinya supaya kita takluk dan menuruti situasi yang dia giring. Dia tidak sadar bahwa dia juga berasal dari rumpun yang sama. Hanya karena plat mobil yang dikemudikannya saja yang membuat dia berbeda dan merasa bangga serta bisa arogansi kepada rumpunnya sendiri.

About Zasmi Arel

Music, Event, Traveling Photographer

Discussion

18 thoughts on “Penabrak yang Ngotot Mengaku Ditabrak

  1. waaaaaahhhh klo q udah ta tonjok to orang sob……………

    Posted by MENONE | 6 August 2010, 8:52 pm
  2. yayaya… banyak bro… tuuh mereka yang mentang-mentang aparat lagune saenake dewe hahaha,,,
    salam hangat … semoga jadi langganan😀

    Posted by milimeterst | 12 August 2010, 8:17 pm
  3. mampir..🙂
    iya, melatih kesabaran & ujung2nya yg waras yg ngalah..🙂 he

    Posted by iiN | 14 August 2010, 9:35 am
    • iya mbak iin… mungkin kalo kondisi phisik lgi normal melatih kesabarannya biasa-biasa aja…. tpi pas kondisi phisik badan lgi gak normal (misalnya ndak tidur semalaman) tentunya tingkat melatih kesabarannya sangat super-super mesti kudu sabar…hehehe… thank uda mampir n salam kalam….:-)

      Posted by zasmiarel | 16 August 2010, 8:24 am
  4. orang yang kurang ajar, harus lebih dikurangajari :

    pukul, tendang, jotos hidungnya, matanya, ginjalnya. Bikin sampe tak berdaya tapi jangan ampe mati. Terus ancurin mobilnya, bakar aja sekalian.

    Posted by dismas not dimas | 15 August 2010, 6:48 pm
  5. sabar sabar
    sebenrnya klo dalam hal tabrak menabrak itu mesti tidak ada yang mau disalahkan
    aku dulu juga pernh gitu ditabrak malah dia minta ganti rugi
    alhasil aku panggilin polisikapok dah dia

    Posted by darahbiroe | 15 August 2010, 7:40 pm
  6. @darahbiru…. belum ada postingan lagi, krn masih berkutat dgn kesibukan office neh…. sabar bro..sabar…xixixi

    Posted by zasmiarel | 21 August 2010, 10:53 am
  7. mana niih Updte post nya ??

    Posted by milimeterst | 23 August 2010, 9:56 am
  8. Wah paling parah tu kalo mobil kita
    Di tabrak motor yg gak ati2 naik motor ngebut
    Habis itu ngotot lagi tu pengendara motor minta ganti rugi
    Sdh dikasi uang jg gak terima..untung gak cacat loe bego banget
    Naik motor gak ati2 sndiri mobil belok pelan2 jg dihajar

    Posted by wibi | 20 October 2010, 8:03 pm
  9. Fankui yang tidak beradap itu mas. Ketemu lagi orang kyk gitu hajar ajh

    Posted by jisak | 13 August 2014, 12:16 am
    • jisak…..makasih uda mampir yooo, salam kenal…… kala itu masih dalam batas toleransi kesabaran, dan dilala ybs begitu ane bentak jiper duluan…. kalo dia ngotot berkepanjangan yoo mungkin kejadian…hehehehe….

      Posted by zasmiarel | 14 August 2014, 9:23 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: