Edisi Umum

Batas Akhir itu bernama Kematian

GOSTAGE.com – Minggu lalu, secara sengaja saya membaca postingan seorang rekan blogger yang berjudul “Di bawah Bayang-Bayang Kematian”. Secara lengkap isinya saya kutip sebagai berikut:

Hidup saya, hidup anda, hidup mereka
Sudah punya tujuan,
Kita tau tujuan hidup kita dan kita sadar itu.
Buatlah setiap langkah kita menuju tujuan itu
berarti setiap langkahnya
Walau dalam bayang-bayang kematian.
Karena setiap langkah kita Selalu di bayangi Kematian
Entah hari ini, entah besok,  entah lusa…

Ketika membaca postingan tersebut, awalnya saya berpikir bahwa rekan tersebut hanya iseng. Artinya tulisan tersebut dibuat hanya sepintas lalu. Namun setelah membaca sekali lagi, penilaian saya mulai bergeser. Tanpa saya harus tahu apakah sang rekan sadar atau tidak, isi postingan tersebut mempunyai pesan yang sangat dalam. Saya sendiri cukup dibuat merinding membaca kata demi kata yang terangkai dalam kalimat sederhana tersebut.

Banyak yang mengomentari isi postingan tersebut. Dari yang hanya sekedar bercanda sampai juga yang serius. Namun lebih banyak yang serius. Saya sendiri mencoba mengomentari dengan cara sendiri, “canser” alias bercanda tapi serius. Di akhir komentar saya menuliskan bahwa isi tulisannya cukup mengingatkan. Padahal kalau mau jujur, kata “cukup mengingatkan” masih kurang pas, yang paling pas adalah kata “sangat mengingatkan”.

Mengiringi tulisan ini, saya mencoba flash back terhadap beberapa peristiwa kematian yang ter-memori dalam kepala saya. Peristiwa kematian pertama adalah kematian nenek saya. Waktu itu saya masih duduk di bangku sekolah dasar, sekitar tahun 1985-an (lupa tepatnya). Namun dari peristiwa inilah pertama kali saya bisa menyaksikan secara langsung suatu proses yang dalam ajaran agama yang saya anut disebut sebagai proses “sakaratulmaut”. Dengan mata sendiri saya menyaksikan bagaimana proses itu terjadi dari awal sampai roh nenek saya benar-benar terpisah dari jasadnya.

Peristiwa kematian kedua adalah berita kematian teman sekelas saya semasa es em a. Namanya Muhammad Hanafi, dia adalah rekan yang bersahaja dan dari keluarga yang bersahaja pula. Dia mempunyai sedikit kekurangan, yaitu salah satu kakinya pincang, sehingga untuk berjalan cepat atau berlari agak terkendala. Karena tidak mempunyai biaya, selepas es em a yang saya tahu dia bekerja di salah satu restoran cepat saji. Hasil kerja tersebut dia kumpulkan untuk mendaftar kuliah, dan akhirnya dia diterima dan bisa berkuliah di UI Depok.

Lama tidak kedengaran, suatu waktu, ketika saya bertandang ke rumah salah seorang rekan es em a lainnya baru saya tahu jika rekan kami, Hanafi, sudah tiada. Kematiannya sangat tragis, terlindas kereta api listrik. Kejadiannya sendiri terjadi sekitar tahun 1995-an (sekali lagi lupa tepatnya). Menurut cerita, ketika itu dia hendak pulang dan menyeberang rel perlintasan kereta. Tanpa dia sadari dari arah jakarta ada kereta yang akan melintas. Teman dan orang lain di sekitar sudah berusaha berteriak memperingatkan. Akan tetapi suara kereta mengalahkan teriakkan mereka. Rekan kami mungkin sempat sadar bahwa ada kereta. Namun semuanya terlambat, dia sadar setelah kereta tersebut sudah sedemikian dekat dan karena kekurangannya tadi (salah satu kakinya pincang) rekan kami tidak dapat berlari dengan cepat. Dan, bisa dibayangkan apa yang terjadi kemudian…

Selanjutnya adalah kematian seorang mahasiswi sekitar tahun 1995-an dengan cara dibunuh di kamar kos-nya pada seputar lingkungan kampus besar saya, IPB, tepatnya di Babakan Lio, bogor. Pembunuhannya cukup tragis dengan embel-embel perampokan. Tragisnya adalah ketika orang hiruk pikuk berteriak mengelu-elukan kesebelasan kesayangan mereka yang tampil dalam piala dunia kala itu, sang mahasiswi berteriak pula mengelu-elu kesakitan karena dihabisi oleh perampok dengan pisau roti dalam kamar kos-nya. Saya terus terang tidak kenal dengan sosok mahasiswi tersebut, namun peristiwa tersebut adalah peristiwa pembunuhan pertama kali yang saya ketahui dan terjadi di lingkungan nama besar kampus saya. Saya sempat membuat puisi tentang kejadian ini dan saya sebut dengan “tragedi babakan lio”.

Peristiwa kematian yang tidak bisa saya lupakan berikutnya adalah kematian “calon” bapak mertua saya (bapak dari istri saya sekarang). Saya sebut calon, karena ketika peristiwa itu terjadi saya belum menikah dengan istri, alias masih pacaran. Pacaran kami jarak jauh, saya di Jakarta dan dia di Surabaya, jadinya setiap dua minggu sekali atau sebulan sekali saya terbang ke Surabaya, mengambil hari libur sabtu dan minggu. Kenapa kematian beliau tidak bisa saya lupakan. Saya baru kenal beliau di akhir masa hidupnya, di bulan puasa tahun 2004. Perkenalannya pun terjadi dalam suasana yang berbeda dan menurut saya sangat singkat. Waktu itu beliau sedang dirawat di salah satu rumah sakit di Surabaya karena kanker tulang belakang.

Pada suatu Sabtu, saya sempatkan terbang dari Jakarta dan langsung ke rumah sakit. Sebenarnya hari itu bukan jadwal nge-date saya, karena seminggu sebelumnya saya baru dari Surabaya. Tapi kondisi membuat saya tergerak untuk berangkat, menjenguk sekalian berkenalan. Saya masih ingat, waktu saya masuk kamar dan dikenalkan beliau berusaha duduk dan menyambut tangan saya. Tidak banyak kata karena saya pun tidak berusaha untuk bertanya, karena bagi saya bertanya saat itu justru menambah beban beliau atas sakitnya. Saya memperkenalkan diri sekedarnya lalu kemudian lebih banyak menunggu di luar.

Hari berikutnya saya pamit untuk kembali ke Jakarta. Waktu itu beliau berusaha duduk dan berusaha berbicara tegar bahkan menyuruh saya untuk membawa bekal buah-buahan yang ada di ruangan tersebut. Setelah itu semuanya berlalu begitu saja. Dan ketika saya sedang mudik lebaran ke Palembang, tepatnya di hari ketiga lebaran, “calon” bapak mertua saya berpulang tanpa saya bisa menghadiri pemakamannya. Saya akhirnya harus tunduk pada takdir bahwa itulah perkenalan pertama dan terakhir saya dengan beliau. Meskipun begitu, beberapa waktu kemudian beliau sempat datang dalam mimpi saya, tepatnya ketika selesai lamaran dan rencana proses pernikahan saya sedang persiapkan. Beliau datang menitipkan pesan…… titip dan tolong jaga anak saya…

Kematian berikutnya adalah kematian adik ipar (suami dari adik kandung) saya. Kejadiannya terjadi di tahun 2008 tepat di hari ulang tahun pertama anak saya. Umur adik ipar saya kala itu hanya bertaut satu tahun lebih tua dari saya, 35 tahun, masih terbilang muda. Meninggal karena darah tinggi dan meninggalkan seorang putri yang baru berumur 2,5 tahun. Saya sendiri dengan sangat menyesal tidak dapat memberikan penghormatan terakhir karena sedang tugas di luar kota. Sudah mengupayakan tiket namun tidak dapat, karena terbentur dengan suasana high session. Peristiwa ini sangat menyentakkan saya tentang kematian dan pertama kali memposisikan diri saya sebagai orang tua dari putri yang ditinggalkannya.

Lalu berikutnya adalah kematian salah seorang warga di komplek saya, Om Ridwan namanya. Peristiwanya terjadi di bulan Maret 2010 lalu. Komplek yang saya tinggal sekarang terbilang komplek baru. Kebetulan dengan Om Ridwan ini saya lumayan sering ngobrol, termasuk  juga pernah gowes (bersepeda) bersama. Kejadiannya sungguh tidak diduga dan cepat, karena serangan jantung. Umur beliau baru sekitar 40 tahun, meninggalkan istri dan seorang anak yang baru duduk di bangku TK. Karena komplek terbilang baru dan kebetulan kami duduk di jajaran pengurus, peristiwa ini menjadi kali pertama bagi kami mengurusi kematian di lingkungan sendiri.

Terakhir, baru terjadi minggu lalu, di pertengahan Agustus 2010. Teman begadang, teman main gaplek saya semasa kos (sebelum nikah dulu), kakak satu kampung di perantauan (karena berasal dari kampung yang sama),  juga telah berpulang. Tanpa saya duga dan sangka, tiba-tiba bunyi sms dari seorang rekan muncul, isinya mengabarkan peristiwa diatas. Dia berpulang di kampung saya, karena penyakit TBC akut. Sebelumnya dia sudah mendapat perawatan di salah satu rumah sakit di Jakarta Selatan. Kemudian oleh adiknya dibawa pulang ke kampung. Baru menginap satu hari di kampung rupanya penyakitnya makin parah, dan akhirnya dibawa ke salah satu rumah sakit di kota Palembang. Namun yang diatas berkehendak lain, dia akhirnya dipanggil.

Semua peristiwa kematian diatas terlintas begitu saja setelah saya membaca postingan rekan blogger di atas. Semua peristiwanya mengingatkan saya bahwa betapa dekatnya kata tersebut dalam kehidupan kita. Betapa tipisnya tabir atau tirai kata tersebut dan siap disibakkan kapan pun tanpa kita tahu dan duga.

Benar adanya, tujuan akhir dari langkah kita adalah sudah dipatok oleh satu kata yang menjadi pembatas akhir antara kehidupan kita di dunia dengan kehidupan berikutnya. Batas akhir itu bernama kematian. Ibarat jam dinding, satu alat yang sangat bermanfaat untuk mengatur roda kehidupan. Semenarik apapun bentuk wujudnya dan  secanggih apapun teknologinya namun akan teronggok begitu saja manakala baterainya kita copot.

Sama dengan kita, semenarik apapun wujud kita dan secanggih apapun pengetahuan serta kepintaran kita, akan teronggok juga apabila “baterai” kita dicabut.

About Zasmi Arel

Music, Event, Traveling Photographer

Discussion

15 thoughts on “Batas Akhir itu bernama Kematian

  1. Wah…sya nerinding .. baca peristiwa kematian2…saya ambil kesimpulan… kali aja ya .. klo salah mohon maaf ..
    kematiannya sama hanya tempat, waktu dan caranya yg beda….

    Posted by milimeterst | 24 August 2010, 8:34 am
    • Kurang lebih begitu bro… namun sikap sesungguhnya adalah bagaimana kita menyikapi setiap peristiwa yang berbekas tersebut, dan juga bagaimana kita mencamkan bahwa tabir or tirai pembatas tersebut sangatlah tipis…. (halah…kalimate…dramatis sekali ya….)

      Posted by zasmiarel | 24 August 2010, 8:41 am
  2. mudah2 saudara, teman agan di terima di sisi Allah…..amiin…

    Posted by milimeterst | 24 August 2010, 8:46 am
  3. Kematian: begitu dekat begitu nyata wkwkwk.

    Posted by Kelabang's Blog | 24 August 2010, 5:32 pm
  4. Kematian datang dengan tiba2, tidak tahu kapan, dan akan menjemput dimana, dan dengan cara apa

    Posted by dina.thea | 25 August 2010, 9:49 am
  5. Loh, sama…
    Saya juga baru saja berkunjung ke blognya milimetrest.
    Dan sama-sama ngomongin kematian.
    Salam kenal
    Semoga kita mempersiapkan kematian kita dengan baik, karena malaikat maut itu selalu berada di sebelah kita. Cuma kita nggak bisa melihatnya.

    Posted by dian | 25 August 2010, 11:00 am
  6. renungan buat umat manusia yang berakal…

    Posted by saranggo | 25 August 2010, 12:18 pm
  7. kita harus memperbanyak amal..
    karena kematian tidak dapat di ketahui kapan tibanya..

    Posted by johan ZeroSeven | 27 August 2010, 9:54 pm
  8. Masih ngomongin kematian ya ????

    Posted by Milimeter Studio | 31 August 2010, 9:02 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: