Edisi Umum

Makna Kesempurnaan

GOSTAGE.com – Begitu berartinya kesempurnaan bagi hidup seseorang. Namun ketidaksempurnaan belum tentu membuat hidup seseorang tidak berarti. Kalimat kiasan tersebut sengaja saya torehkan pada kolom komentar facebook salah seorang rekan, ketika disana saya temui sharing sebuah video yang diambil dari youtube tentang kehidupan seorang yang terlahir tanpa 2 tangan dan 2 tungkai kaki, namun bisa menjadi motivator ulung bagi hidup orang lain.

Dia adalah Nick Vujicic yang lahir pada 4 Desember 1982 di Melbourne Australia dari keluarga Kristen Serbia, terlahir tanpa memiliki 2 tangan dan 2 tungkai kaki, kini hidup sebagai seorang motivator sukses, selain itu juga sebagai seorang rohaniawan Nasrani Nick aktif memberikan pencerahan bagi banyak umat  dari gereja ke gereja. Nick juga menjadi direktur sebuah organisasi nirlaba yaitu Lifewithoutlimbs yang aktif memberikan seminar motivasi bagi banyak kalangan.

Namun Akhirnya Nick memutuskan untuk menyerahkan semuanya pada Tuhan Yang Maha Kuasa, lalu diapun seakan mendapat ilham untuk lebih banyak bersyukur dengan kondisi apapun yang dia miliki sekarang. Akhirnya mulailah hidip Nick baru yang penuh optimis, hingga akhirnya Nick pun mampu menyelesaikan Sarjana Akuntansi juga aktif dalam kegiatan nirlaba untuk memberikan pencerahan pada banyak kalangan.

Di samping video tentang Nick Vujicic di atas, beberapa waktu sebelumnya saya juga menemukan video youtube lainnya, yang menggambarkan seorang pemuda Inggris yang memiliki keterbatasan pada lengan kirinya, namun bisa menjadi pemain gitar handal.

Namanya Marc Playle, lahir di South Shields, Inggris, pada 26 September 1985. Dia pertama kali belajar bermain gitar pada usia 14 tahun. Untuk minatnya ini, dia rela mengorbankan setengah dari garasinya disulap menjadi studio. Dia memiliki kekurangan, yaitu lengan kirinya hilang. Namun hal ini tidak mengurungkan niatnya untuk bermain gitar. Berbagai eksperimen dia lakukan hanya untuk mengetahui cara terbaik yang bisa dia lakukan supaya dapat bermain gitar. Setelah banyak ide seperti merekam gitar untuk mengambil lengannya dan menggunakan kaus kaki, muncul ide memasang resin akrilik pada ujung lengannya. Hal ini memungkinkan dia untuk memainkan beberapa teknik pada gitar listrik. Begitu memiliki cara tersendiri dalam bermain gitar, bersama teman-teman semasa sekolahnya, Marc kemudian membentuk band dan bermain pada beberapa band lokal.

Pada tahun 2001, Marc bertemu dengan seorang Legendaris Guitar Lokal, Phil Thorrell. Marc memintanya untuk mengajari dia cara memainkan teknik gitar. Selama waktu ini, teknik permainan gitar Marc meningkat secara dramatis. Dia juga berkesempatan diperkenalkan dengan beberapa gitaris ternama lainnya seperti Michael Lee Firkins, Greg Howe, dan Eric Johnson. Pada usia 16 tahun, permainan gitarnya mulai merambah dunia musik lokal, ia menarik banyak perhatian media cetak dan juga elektronik lokal.

Pada musim semi 2008, Marc mengikuti sebuah kompetisi gitar online “Guitar Idol 2008” yang diadakan oleh http://www.alloutguitar.com, sebuah majalah online yang awalnya diperuntukkan untuk mempromosikan band. Dari sekitar 750 gitaris dari seluruh dunia, Marc terpilih sebagai salah satu dari 12 finalis. Babak finalnya diadakan di London International Music Show di Excel di London Docklands, yang diliput juga oleh program TV nasional Richard & Judy.

Tidak lama setelah kompetisi Guitar Idol, Marc mengikuti kontes “the Dean Shredder”. Lebih dari 1.100 peserta mengikuti kontes ini dari seluruh dunia, Marc berhasil menduduki peringkat 15 besar. Sekarang Marc bekerja pada studio gitar sendiri.

Tidak perlu jauh-jauh ke Australia atau ke Inggris, di sekitar wilayah tempat tinggal saya di Cibubur juga menemui pemandangan yang sama. Sebut aja nama nya Kang Ujang, karena saya tidak tahu nama aslinya dan dimana tempat tinggalnya. Yang saya tahu Kang Ujang bekerja sebagai tukang parkir angkot, bis atau kendaraan umum lainnya di depan plaza cibubur di bilangan jalan alternatif trans yogi cibubur-cileungsi. Hanya saja akhir-akhir ini saya jarang melihat ia di sekitar tempat itu.

Beberapa kali kesempatan saya memperhatikan Kang Ujang. Dengan kondisi kedua tangan yang tidak memiliki jari-jemari sempurna, Kang Ujang masih bisa memutar tutup botol air mineral, membuka plastik roti, bahkan menyalahkan rokok.

Terakhir saya berkesempatan melihat Kang Ujang mengendarai motor sendiri. Waktu itu saya sedang mencuci motor di tempat pencucian motor. Saya perhatikan Kang Ujang ada di sana. Saya berpikir, tidak mungkin Kang Ujang turut mencuci motor di sana, mengingat secara fisik menurut saya sangat mustahil dia bisa menghidupkan apalagi mengendarai motor sendiri.

Satu per satu deretan motor yang dicuci selesai dan dibawa oleh pemiliknya. Terakhir tinggal dua motor, motor saya dan satu motor lagi yang tidak tahu pemiliknya. Ditempat tersebut tinggal saya dan Kang Ujang. Tentunya saya masih berpikir itu bukan motor Kang Ujang. Barangkali yang punya sedang pergi sebentar dan menitipkan motornya untuk dicucikan. Kebetulan motor saya dicuci belakangan. Ketika selesai saya baru tahu kalau motor itu adalah kepunyaan Kang Ujang.

Saking tidak percayanya, perhatian saya fokuskan kepada Kang Ujang dan motornya, mulai dari bagaimana dia mengeluarkan uang untuk membayar jasa cucian, bagaimana cara dia memasukkan kunci, men-stater, memainkan gas, dan terakhir tentunya menjalankan motor-nya. Semua itu dilakukan dengan kondisi kedua tangannya yang tidak mempunyai jari jemari. Sungguh sebuah tayangan yang membuat saya takjub, terkesima dan juga malu.

Malu??? ya, malu. Malu terhadap kesempurnaan yang saya miliki dan terkadang saya abaikan. Seorang Kang Ujang yang tidak memiliki jari jemari pada kedua tangannya berusaha sebisa mungkin melakukan apa yang dia ingin lakukan tanpa harus meminta bantuan orang lain. Sementara saya (dan mungkin kita semua) yang kebetulan diberi kesempurnaan utuh oleh sang pencipta terkadang lebih memainkan peran “manja” dan seringkali berharap besar pada bantuan orang lain.

Namun semuanya adalah pilihan keadaan dari sebuah kemauan dan sikap hidup. Saya tidak akan menyalahkan Kang Ujang yang tidak mau meminta bantuan orang lain, saya juga tidak bisa menyalahkan diri saya sendiri dan kita semua atas kemanjaan kita yang masih banyak bergantung pada bantuan orang lain. Yang saya ingin katakan adalah bahwa begitu berartinya kesempurnaan bagi hidup seseorang. Namun ketidaksempurnaan belum tentu membuat hidup seseorang tidak berarti.

Semoga sedikit kisah tentang Nick Vujicic dari Australia, Marc Playle dari Inggris dan seseorang yang saya sebut sebagai Kang Ujang dari bilangan parkiran depan plaza cibubur dapat menjadi pengingat sekaligus pencerahan bagi kita tentang makna dari sebuah kesempurnaan.

About Zasmi Arel

Music, Event, Traveling Photographer

Discussion

4 thoughts on “Makna Kesempurnaan

  1. Selamat idul Fitri 1431 h
    Mohon maaf lahir batin

    Posted by milimeterst | 9 September 2010, 8:46 pm
  2. Selamat idul Fitri 1431 h
    Mohon maaf lahir batin

    Posted by dina.thea | 16 September 2010, 12:52 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: