Music News

Mengembalikan Nilai Hiburan dan Ekonomi Musik Indonesia yang Terpendam melalui Program “Lagu Baru Dari Masa Lalu”

Photo by Irama Nusantara

GO-STAGE.com – Irama Nusantara dan Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF) bekerjasama membuat satu program terobosan untuk mengembalikan nilai hiburan dan ekonomi dari musik Indonesia yang lama dan terpendam. Program terobosan ini diberi nama “Lagu Baru Dari Masa Lalu”.

Program terobosan ini diadakan dalam upaya digitalisasi dan pengarsipan musik populer Indonesia. Setelah lebih dari satu tahun bekerja sama dengan Bekraf, Irama Nusantara berhasil menambah arsip rilisan musik sebanyak 1000 rilisan, sehingga di penghujung 2017 terhitung sejumlah 2151 rilisan piringan hitam dari era 1920-an hingga 1980-an akan terunggah di website resmi iramanusantara.org.

Selain upaya digitalisasi dan pengarsipan musik populer Indonesia, Irama Nusantara dan Bekraf juga mulai melakukan pendataan ke seluruh Radio Republik Indonesia (RRI) di pulau Jawa. RRI adalah radio pemerintah tertua yang banyak memiliki rekaman dan materi mengenai musik Indonesia yang sangat dibutuhkan untuk upaya pengarsipan. RRI Bandung dipilih untuk memulai rangkaian pengarsipan radio RRI yang nantinya akan dilakukan menjalar ke seluruh Indonesia. Selain di Kota Bandung, saat ini proses pendataan juga telah dilakukan di RRI Yogyakarta dan Jakarta.

Ratusan rilisan telah berhasil didigitalisasikan bersama RRI dan tentunya Bekraf sebagai fasilitator, dan Selasa, 19 Desember 2017, bertempat di Auditorium M. Jusuf Ronodipuro, Gedung RRI Jakarta, dilakukan penyerahan data hasil digitalisasi Irama Nusantara dan Bekraf tersebut kepada pihak RRI Pusat. Penyerahan secara simbolis dilakukan oleh David Tarigan dari Irama Nusantara serta Boy Berawi dari Bekraf kepada La Sirama, Kepala Stasiun RRI Jakarta, disaksikan oleh perwakilan RRI Bandung dan Yogyakarta. Hal ini diharapkan menjadi tonggak baru kelanjutan kerjasama dari berbagai pihak yang lebih luas tidak hanya untuk pengarsipan musik populer Indonesia, tetapi juga untuk dapat menggali lebih jauh nilai kekayaan musik Indonesia.

Mengungkap kekayaan Indonesia, tidak hanya dapat dilakukan dengan menunjukkan potret alam dan budaya. Musik Indonesia dapat memperdengarkan kekayaan Indonesia dengan jangkauan yang lebih luas dan sangat beragam warna. Ranah musik Indonesia dapat dibilang memiliki karakteristik yang khas dan berbeda dengan negara-negara lain karena keragaman budaya dan perjalanan sejarah yang memengaruhi penciptaan karya musik populer Indonesia.

Namun sekarang permasalahannya adalah bagaimana kita bisa mengembalikan nilai hiburan maupun ekonomi dari data yang telah dikumpulkan selama ini. Upaya-upaya ini harus segera dilakukan karena sumber data tidak berhenti disini. Inilah proses yang harus dilakukan berikutnya, sebuah upaya yang yang tak kalah pentingnya setelah pengumpulan data dilakukan.

Alvin Yunata dari Irama Nusantara menjelaskan, Irama Nusantara tidak hanya akan mengarsipkan lagu-lagu lama melainkan juga lagu-lagu masa kini dengan izin dari pencipta lagu dan penyanyinya. “Kami berharap koleksi musik masa kini dapat menambah kekayaan ranah musik Indonesia. Untuk itu, kami ingin melakukan pendekatan kepada berbagai pihak dan mengundang setiap pecinta musik Indonesia untuk terlibat dalam gerakan ini, Sumber data yang telah kami kumpulkan seharusnya tidaklah berhenti disini, ada nilai-nilai baik dari sisi hiburan bahkan ekonomi yang seharusnya bisa kembali bergulir. Sangat diharapkan kita semua bisa menemukan formula yang tepat untuk memulainya dari masing-masing elemen.”

Menurut Direktur Riset & Pengembangan, Bapak Wawan Rusiawan, “Memberikan fasilitas dan dukungan terhadap kegiatan digitalisasi yang dilakukan oleh Irama Nusantara adalah sebuah upaya Bekraf untuk memperluas sisi konservasi dari rantai nilai ekonomi kreatif untuk membangun ekosistem ekonomi kreatif Indonesia. Ke depan upaya ini akan terus diperluas agar output hasil digitalisasi dapat dimanfaatkan oleh segenap entitas pentahelix ekonomi kreatif. Muara akhirnya, musik Indonesia dari masa ke masa akan selalu terawat dan dapat dihadirkan di platform digital masa kini.”

Usaha mengembalikan nilai hiburan rekaman musik masa lalu pun didukung oleh RRI sebagai media dari lembaga pemerintahan dengan menyediakan fasilitas di gedung RRI dan memberikan slot program penyiaran lagu ke ratusan stasiun RRI di seluruh Indonesia. Hal tersebut diungkapkan oleh Soleman Yusuf selaku Direktur Program dan Produksi RRI bahwa, “Kedepannya RRI ingin lebih mendekatkan diri pada demografis anak muda untuk mendukung pergerakan industri musik Indonesia. Rencana tersebut dilakukan dengan cara bersinergi dengan komunitas-komunitas anak muda seperti Irama Nusantara dan komunitas anak muda lainnya dalam bentuk penyiaran program hingga kegiatan acara.

Tema besar inilah yang diangkat dalam siaran pers bersama RRI, Bekraf dan Irama Nusantara yang berlangsung pada saat yang sama dengan penyerahan data hasil digitalisasi Irama Nusantara dan Bekraf. Turut mengundang Asosiasi Music Director Indonesia (AMDI) sebagai wadah para Music Director dari radio di seluruh Indonesia. Dimana lewat radiolah pengolahan data yang telah dikumpulkan selama ini diharapkan bisa tersalurkan kembali kepada masyarakat banyak sebagai nilai-nilai hiburan sebagaimana yang telah dilakukan RRI di era awal kemunculannya.

AMDI membuka kemungkinan untuk menjalin kerjasama dengan Irama Nusantara dan seluruh stakeholder musik yang ada di seluruh Indonesia. Seperti yang diungkapkan oleh Aditya Ari Prabowo selaku Ketua AMDI bahwa “Salah satu bentuk konkrit kerjasama ini adalah dengan membuka ruang dialog untuk diusulkannya menjadi pembuatan program atau penyusunan playlist lagu untuk diputarkan di radio-radio diseluruh nusantara.”

Kini faktanya nilai-nilai hiburan ini telah mulai mendapatkan banyak apresiasi dari kalangan generasi anak muda. Keingintahuan anak muda dalam mengapresiasi makin hari makin besar terbukti dari berkembangnya berbagai macam platform anak muda yang banyak mengadopsi lagu-lagu dari masa lalu karena bagi mereka ini adalah sesuatu hal baru yang sangat menarik dan memikat. Khususnya dalam dunia hiburan, apresiasi muncul dari banyak kalangan tak hanya dari dalam negeri, antusias dari luar negeri nyatanya cukup tinggi. Terbukti dari munculnya beberapa rilisan reissue berupa kompilasi maupun album yang dirilis oleh label asal luar negeri hadir menjadi tolak ukur musik anak muda. Menyusul karya serupa yang muncul dari dalam negeri diinisiasi oleh para anak muda.

Fenomena ini pun terus berkembang menjadi beberapa platform seperti Suara Disko dan Disko Ria yang menyuarakan esensi disko klasik Indonesia nyatanya cukup berhasil menarik perhatian publik. Munculnya beberapa nama Disc Jockey yang memainkan lagu-lagu Indonesia seleksi dari tahun 50an hingga 80an. Belum lagi fenomena beberapa musisi hip hop mancanegara yang menggunakan sample dari lagu-lagu lama ini sebagai bahan karya mereka. Contoh besarnya adalah lagu hip-hop A$AP Rocky bersama dengan Joe Fox dan Kanye West yang menggunakan sample lagu dari band 70-an, Rasela untuk single terbarunya di tahun 2015. Jelas beberapa fakta diatas adalah bukti apabila nilai-nilai hiburan telah kembali pada fitrahnya. Maka, bila nilai hiburan ini sudah mulai terbentuk, sebaiknya mata rantai nilai ekonomi yang menjadi target berikutnya.

Hak cipta adalah isu besar yang memerlukan perhatian khusus di Indonesia, mengingat di era masa lampau masalah hak cipta sebagian besar berada di area abu-abu. Banyak perusahaan rekaman swasta masa lalu tidak terlalu mengindahkan perihal hak cipta, penyebabnya banyak keraguan langkah-langkah strategis yang akhirnya tersendat untuk mengembalikan nilai-nilai ekonomi di ranah lagu-lagu dari masa lampau ini. Dengan ini jelas bahwa perihal hak cipta ini adalah langkah berikutnya bagi Irama Nusantara dengan bantuan berbagai macam instansi baik pemerintah maupun swasta untuk mengantisipasi hal tersebut. Pembenahan infrastruktur mengenai hak cipta ini adalah salah satu target besar Irama Nusantara di tahun 2018 nanti, sebuah langkah besar yang akan menyita banyak waktu, tenaga dan biaya. Maka diharapkan kerjasama dari berbagai macam instansi untuk mewujudkannya dan bersama-sama mengembalikan nilai-nilai ekonomi dari musik Indonesia yang terlupakan.

“Indonesia memiliki sejarah musik yang baik. Sebagai negara yang pemerintahnya peduli akan musik, tidak banyak bahkan mungkin hanya Negara Republik Indonesia sajalah yang memiliki perusahaan rekaman negara yang bernama Lokananta. Ribuan artis sejak era 1970-an sudah menjadi bintang di negara tetangga, berbicara soal kualitas di area Asia Tenggara bahkan kini dunia, nama Indonesia patut diperhitungkan. Pembenahan infrastruktur adalah target utamanya, salah satunya dalam hal ini adalah hak cipta. Bagaimana “barang mati” ini kemudian bernyawa kembali dan mampu menggerakkan roda ekonomi”. ujar Wakil Kepala Bekraf Ricky Pesik.

Hadirnya para musisi yang mengapresiasi data terpendam ini ke dalam wujud karya di ranah hiburan bisa menjadi salah satu jalan saat ini. Dengan turut mengundang dua nama wakil dari para musisi yaitu Diskoria (Suara Disko) bersama Saykoji untuk menjadikan tolak ukur bagaimana upaya pengembalian nilai ini sebenarnya sudah dapat diwujudkan. Kumpulan Suara Disko lewat duo DJ Diskoria buktinya telah mampu mengembalikan esensi musik Disko klasik di era pertengahan 70an hingga 80an ini menjadi hiburan massal di berbagai kalangan. Saykoji lewat budaya hip hop copy-paste nya meramu balutan musiknya memanfaatkan potongan tembang-tembang lawas yang kemudian ia ubah ulang. Dua contoh nyata ini diharapkan mampu menjadi inspirasi bagi semua kalangan untuk dapat berperan serta dalam upaya mengembalikan nilai “harta karun” ini baik ke dalam ranah hiburan dan tentunya diharapkan kelak menuju nilai ekonomi.

Usaha mengembalikan nilai hiburan dan ekonomi musik dari masa lalu tidak berhenti disitu saja, dibutuhkan pergerakan dari semua linimasa industri musik, salah satunya adalah dari ranah akademis sebagai sarana edukasi di bidang audio engineer untuk musik-musik indonesia dari segi standar kualitas audio agar mencapai level standar yang bisa masuk ke ranah komersial. Hal tersebut diungkapkan oleh Noor Kamil selaku Music Business SAE Institute yang sekaligus menjabat sebagai Indonesian Label Manager dari agregator musik Believe Digital bahwa, “Untuk masuk ke ranah komersialitas digital baik itu Spotify, Joox, Apple Musik dan fasilitas musik digital lainnya harus memiliki kualitas audio yang mencapai standar yang baik serta informasi tentang pemilik lagu, pencipta dan ahli waris dari karya cipta musik tersebut. Bilamana hal tersebut telah terpenuhi, barulah kita bisa masuk ke ranah komersil dan mendapatkan nilai ekonomi dari karya tersebut.”.

Photo by Irama Nusantara

Advertisements

About Admin

Music, Event, Traveling & Lifestyle News and Photography

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s


Copyright © 2018 GO-STAGE.com Email: info@go-stage.com

Advertisements
%d bloggers like this: