Edisi Traveling

Tanah Kelahiranku Bernama Tanjung Batu

Saya lahir dan besar di sebuah desa di Provinsi Sumatera Selatan, tepatnya di Kabupaten Ogan Ilir (hasil pemekaran dari Kabupaten Ogan Komering Ilir) yang jauh dari keramaian dan hingar bingar kota. Desa tersebut bernama “Tanjung Batu”. Sebagai urang diri (istilah orang daerah asal yang dipopulerkan oleh orang desa saya), wajar rasanya jika saya ingin mengetahui asal usul tanah kelahiran saya, setidaknya mengapa disebut Tanjung Batu dan cerita apa yang melatarbelakanginya.

Desa Tanjung Batu adalah sebuah desa yang menjadi Ibu Kota Kecamatan di Kabupaten Ogan Komering Ilir, Provinsi Sumatera Selatan. Nama kecamatannya itu sendiri adalah Kecamatan Tanjung Batu. Pada dekade tahun lima puluhan (hingga sekarang), sebaran wilayah Kecamatan Tanjung Batu membawahi tiga marga yakni Marga Tanjung Batu, Marga Meranjat dan Marga Burai.

Pada tahun 2004 Kabupaten Ogan Komering Ilir di pecah menjadi dua kabupaten yaitu Kabupaten Ogan Komering Ilir dan Ogan Ilir. Wilayah Tanjung Batu sendiri kemudian masuk dibawa naungan Kabupaten Ogan Ilir. Seiring dengan laju perkembangan sistem pemerintahan, pada Bulan Agustus 2005, kepemerintahan Desa Tanjung Batu yang tadinya berbentuk desa berubah status menjadi kelurahan yang diatur dalam KEPMENDAGRI No.25 Tahun 1996.

Sebagian besar wilayah di Tanjung Batu dapat dijangkau dengan kendaraan darat baik itu roda dua maupun roda empat. Kendaraan laut seperti perahu hanya bisa digunakan pada musim penghujan. Biasanya kendaraan laut tersebut digunakan masyarakat untuk menangkap ikan, mengambil kayu, dan untuk menjangkau berbagai tempat yang tak bisa dijangkau kendaraan darat.

Seluruh penduduk yang berdomisili di Tanjung Batu umumnya beragama Islam baik penduduk pribumi maupun pendatang. Adat istiadat pun masih bernafaskan ke-islam-an seperti perkawinan, kelahiran, khitanan dan kematian. Baik sosial maupun budaya juga masih dipengaruhi nafas-nafas islam. Namun sisa-sisa budaya kuno (animisme/dinamisme) juga masih kelihatan, seperti dalam pembangunan rumah.

Jika akan mendirikan bangunan, pada tiang guru biasanya masyarakat akan mengisikan air emas atau uang logam, dan setelah bangunan tersebut selesai biasanya pada atap bangunan akan digantungkan kelapa, kendi, pisang, dan sebagainya, dan lain-lain, dan seterusnya. Konon hal tersebut diperbuat untuk menghindarkan sang penghuni dari bahaya santet dan sebagainya.

Seiring dengan perkembangan, infrastruktur tempat ini terus dibenahi. Mulai dari pengaspalan jalan, pembangkit listrik dan jaringan telepon. Hampir seluruh bagian jalan utama di kelurahan ini sudah diaspali sehingga jarak tempuh dari pusat kota (Palembang) dan dari serta ke kelurahan atau kecamatan lain saat ini relatif sudah cukup lancar. Begitu juga dengan jaringan telepon dan listrik. Namun sayangnya untuk kedua jaringan ini belum bisa dinikmati oleh seluruh penduduk, khususnya penduduk yang berjarak jauh dari akses jalan atau jaringan utama. Sehingga jika pergi berkunjung ke pelosok kita masih akan menemui penduduk yang menggunakan lampu templok sebagai sarana penerangan. Hal ini disebabkan jauhnya jarak rumah warga dengan kabel induk listrik PLN ditambah lagi kondisi rumah warga yang masih jarang, sehingga diperlukan biaya besar untuk pemasangan jalur baru. Apalagi jarak dari satu rumah ke rumah lainya rata-rata mencapai 200 hingga 500 meter.

Lalu bagaimana asal usul dari desa (kelurahan) yang bernama Tanjung Batu? Dikisahkan, bahwa pada zaman purba di suatu pulau yang sekarang dikenal dengan sebutan Andalas (Sumatera) hiduplah sekelompok manusia yang berperadaban masih sangat rendah. Mereka hidup di hutan belantara dan berkelompok serta berpindah-pindah (nomaden). Kurun waktu sekitar  tahun 1600 suatu tempat di hutan yang lebat terdapat sungai-sungai kecil yang oleh penduduk setempat lazim disebut “payo”. Di sekitar payo inilah kemudian dijadikan tempat tinggal dan tempat memulai aktivitas oleh manusia purba, mulai dari mencari makan, berkebun, menangkap ikan, berburu, dan lain sebagainya.

Dalam perjalanannya, manusia purba ini kemudian dikenal sebagai suku (orang) kubu yang kehidupan sehari-hari sangat sederhana. Jauh di sebelah utara tinggallah Suku Kubu Teluk Balai (Sentul). Kubu Burai, Kubu Caambai dan Suku Belido. Di sebuah tempat yang dikenal dengan sebutan Payo Lintah bersemayamlah suku kubu dengan mendirikan gubuk-gubuk sederhana (Rompok) yang dikepalai oleh kepala suku bernama Usang Rajo Setan (cikal bakal masyarakat Tanjung Batu) sebagai pelindung. Di sekitar Payo Lintah tinggal pula kelompok lainnya seperti di Payo Batu dan Payo Trap dan tinggal pula Suku Kubu Lebar Tapak di arah selatan tepatnya di Payo Buluh (sekarang dikenal sebagai Desa Tanjung Atap).

Kehidupan sehari-hari masyarakat di kala itu yakni mencari binatang buruan, menangkap ikan, mencari pucuk kayu sebagai sayur mayur di hutan, membuat alat untuk menangkap ikan seperti bubu seruo dan lain sebagainya. Selain itu mereka juga mulai mengenal kehidupan pasar dengan sistem barter atau saling tukar-menukar barang dimana hasil hutanlah yang menjadi alat untuk berbelanja.

Sebagaimana orang pedalaman kebanyakan, mereka belum mengenal agama dan adat istiadat. Mereka masih menganut faham animisme dan dinamisme. Pengertian mereka tentang hujan, petir, angin mempunyai kekuatan gaib yang dianggapnya bertuah dan kadang-kadang dianggap malapetaka. Pohon-pohon besar, tempat-tempat tinggal tertentu mempunyai kekuatan gaib dan roh.

Melalui proses yang panjang kehidupan mereka bernomaden alias berpindah-pindah tempat dari Payo Lintah ke Payo Batu, selang beberapa tahun pindah lagi ke Payo Trap untuk mencari ladang baru di samping itu berpindah-pindahnya mereka disebabkan gangguan binatang-binatang buas seperti harimau, beruang serta binatang berkuku panjang yang dinamakan “setan” atau “sindai”.

Pada perkembangan selanjutnya mereka berpindah tempat mencari sungai (yang sekarang dikenal sebagai Lebak Meranjat). Tinggallah mereka di sebuah Tanjungan dekat sungai, mereka menyebar di seputar tanjungan ini. Rompok demi rompok mendirikan rumah-rumah bertiang tinggi sebagai tempat perlindungan dari serangan binatang buas. Konon tanjungan ini banyak terdapat batu kerikil merah (penduduk lokal biasanya menyebut dengan istilah karangan) yang pada akhirnya disebut Tanjungan Batu atau Tanjung Batu (sekarang berlokasi di Kampung Asam Jawo Tanjung Batu).

Bercocok tanam, membuat perahu dan sudah mengenal ilmu perbintangan untuk menentukan musim tanam padi, musim kemarau, hujan dan sudah dapat menentukan arah mata angin. Peradaban berkembang, penduduk bertambah dan pada akhirnya menetaplah mereka di daerah ini menjadi sebuah dusun yang dikenal sebagai Tanjung Batu.

Source: Cerita turun temurun dan postingan di http://www.basenk.co.cc

About Zasmi Arel

Music, Event, Traveling Photographer

Discussion

30 thoughts on “Tanah Kelahiranku Bernama Tanjung Batu

  1. dari forum ke blog @zasmi. Oh kembali ke tumpa darah……..

    Posted by arali2008 | 3 October 2009, 3:20 pm
  2. oh jd, tj batu..itu retinyo tj karangan…, nah karangan koni gunonyo bakal main cangkek..dan metet burung…!!

    – men kodak masukenyo tulisan..ttg permainan kito dang msh kecit biloni agar nak bernosalgia, gati bakari keni tak nare permainan caro kito tu..conth: main yeye, be ong, pedaselopan, jek2an, imang2an, berugo datangan, angkaleo, dan tak ketinggalan…terjun timpo kemangan dilaut rmh be martini..hhhh

    Posted by Alung | 23 October 2009, 5:28 pm
  3. Nice….. Keep posting.

    Jangan lupo galak2 balek ke dusun Jok…😀

    Duluni ndo galak milu nyari buah karmunting???

    Posted by Zuhadi | 27 October 2009, 7:11 am
  4. mang ngomong-ngomong sumber y kni dri spo?

    Posted by djayen black b | 2 February 2010, 6:38 am
  5. Kito lestarikan bae cerito tentang daerah kito, walaupun masih belum jelas kebenarannya..yang penting kito lah punyo tekad untuk mengembangkannyo

    Posted by Arief Budiman | 13 February 2010, 11:42 pm
  6. Jadi orang dusun tanjung batu ni orang suku kubu yo?
    atau suku meranjat?
    aku jugo orang dusun…🙂
    kamu tanjung batunyo dimano?
    aku di jalan merdeka di ulu..

    Posted by helda | 24 February 2010, 8:21 pm
    • Halo mbak helda …. salam kenal juga ya dari saya. Naaah…baru tau aku kalu di dusun itu ado namonyo jalan merdeka…xkxkxkxk…. Kalu asal muasalku di jl. mesjid (mesjid Al Falah…)… dulu namonyo Kampung Tigo… sekarang katanya uda jadi erTe yo?

      Salam,

      Arel

      Posted by zasmiarel | 24 February 2010, 8:39 pm
  7. alhamdulillah aku jadi tau sejarah dusun aku..
    mokasih yo mang..
    paling idak aku….aku idak nol-nol nian mengenai sejarah dusun kelahiran ayah aku

    Posted by andree zepp | 23 March 2010, 2:24 pm
  8. nah,. btmu pulo dengan blog urang dusun..

    salam kenal kak,.
    bak kari aq jg tinggal d jakarta,
    msh ngkos tapi, d daerah cempaka putih.
    dulunyo budak kampung limo, parak balai..
    hehe..
    bak kari dak tau la jd RT brpo,..

    Posted by akhmad TR | 11 May 2010, 3:02 pm
  9. hahaha.. good mang.
    aq jugo ado gEdeh d kp 3 tu..
    salam kenal mang…

    tapi lain mang e.. dengan cerito yang ku tau..dengan cerito kamu.. tapi setidaknyo mang.. cerito kamu dengan cerito yang ku tau sebelumnyo pacak dikombinasikan

    Posted by ikhsan | 30 January 2011, 7:49 pm
  10. oke sedikit banyak aku uda tahu cerita asal usul tg.batu. lantas aku cari lg asal usul adanya desa tg.batu seberang. nggak ketemu tlg dong di posting. aku urang tg.batu seberang berdomisili kalimantan

    Posted by Gong Thary | 6 March 2012, 3:42 pm
  11. jangan perna berhenti untuk membuat cerito atau legenda dari daerah sekitar dikecamatan indralaya selatan,salut buat mamang nie yang pacak( kilas balik ) menceritakan kembali asal muasal legenda tanah kelahirannya…..

    Posted by wardi mas pandita | 10 July 2012, 12:47 pm
  12. Galo galo..!! Pe kito main tekong, angkaleo, benteng, jekjekan,imbangan angin,nyari buah kermunting,buah salam,buah rempoyan,or asamkumbang.

    Posted by Iih Bae | 25 March 2013, 12:52 pm
  13. haloooo ariel….di mano kau jok..benar dak ini arel kawan aku dulu waktu smp….yang galak pramuka dulu…/?

    Posted by Hermanto | 16 May 2013, 2:26 pm
  14. ado nian mang,uji urang dulun,bdak tngjung batu bsak gaya getah basah hudah tu mecot.ha ha ha

    Posted by suharto anak ibuk sop urang mecot | 3 June 2013, 9:32 pm
  15. jgn nk bemarah yo mang

    Posted by suharto anak ibuk sop urang mecot | 3 June 2013, 9:35 pm
  16. ass
    kalu ndo yo macak2x muat cerito tuh,baru tedengar ikolah aku kalu tg batu koni baitu ceritonyo,salam kenal

    Posted by dva mok | 12 July 2013, 9:25 am
  17. Milu coment .caknyo urg diri galo.
    Mokaseh la melestarikan tanjungbatu.
    Sepakam2 pemain bol d clubnyo.pasti hatinyo untuk timnas
    Tg.batu bkri jauh dr kato sejahtera.
    Ayo bantu timnas.he

    Posted by joel | 23 October 2016, 10:55 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: