Edisi Traveling

Rindu Alam: Kunjungan Keempat

Rindu Alam alias RA masih menantang, begitu lah kesan saya setelah sekali lagi berhasil menaklukkan jalur / trek yang menjadi favorit bagi para pe-sepeda (goweser) penggemar sepeda gunung ini. Tidak hanya para goweser dari negeri sendiri, para expatriat asing yang mungkin bekerja di negara kita dan gemar bersepeda juga penasaran untuk mencoba trek ini. Mengapa demikian, karena ibarat sebuah ujian kelulusan, trek RA merupakan rangkaian jalur yang biasa dijadikan tolak ukur kemampuan bersepeda seorang goweser, khususnya bagi goweser pendatang baru alias yang baru memulai hobby bersepeda gunung. Sebegitu kuatnya daya tarik trek ini, sampai-sampai ada yang mengkiaskan trek RA sebagai tempat “haji”-nya para goweser. Jadi, jika kita belum berhasil menaklukkan trek ini berarti sebagai goweser kita belum haji, hahaha…..ada-ada saja ya.

Kiasan di atas tidaklah berlebihan, fakta di lapangan memang demikian adanya. Trek ini terdiri dari kombinasi jalur yang beragam dan menantang. Akan terasa lebih menantang lagi manakala dalam rombongan kita ikut serta para goweser baru atau baru pertama kali menjajal. Seperti pengalaman pada sabtu tujuh belas april dua ribu sepuluh lalu. Bersama sembilan rekan goweser dari komplek perumahan, saya kembali menjajal trek RA. Gak terasa, ternyata sudah setahun lamanya saya tidak gowes di trek ini. Tiga orang dari rombongan kita adalah para goweser baru, satu orang lagi sebenarnya sudah pernah ke RA namun belum berhasil sampai finish.

Seperti biasanya, untuk menghemat waktu loading sepeda kita lakukan malam harinya (sabtu malam), disertai dengan breafing (penjelasan) bagi goweser baru tentang teknik-teknik dan gambaran umum kondisi jalur yang akan dihadapi serta persiapan peralatan yang harus dibawa. Tak lupa kita juga saweran untuk keperluan bayar tol, parkiran mobil, sewa angkot, karcis masuk trek rindu alam dan konsumsi.

Pukul 06.05 kita bergerak dari komplek perumahan.  Sepeda diangkut dengan mobil pick up sementara kita menumpang dua mobil rekan gowes. Tujuan pertama kita adalah pelataran parkir Mesjid Gadog yang belakangan menjadi tempat parkir resmi mobil para goweser sebelum melanjutkan perjalanan. Sebetulnya ada satu tempat lagi yang biasa dijadikan tempat parkir para goweser, yaitu di depan Rumah Makan Sederhana Gadog. Namun seiring semakin banyaknya jumlah goweser yang ingin menjajaki trek RA, belakangan tempat tersebut jadi penuh sesak. Dibandingkan dengan pelataran parkir RM Sederhana, pelataran parkir Mesjid Gadog lebih luas dan lebih nyaman, sehingga para goweser pun lebih senang memilih parkir disana.

Pukul 07.00 kita tiba di pelataran parkir Mesjid Gadog. Disana rupanya sudah banyak goweser lainnya. Setelah memarkir mobil, kita pun bersiap diri untuk melanjutkan perjalanan ke titik awal trek RA. Sedangkan pick up yang membawa sepeda kita terus melaju menuju tempat titik awal tersebut. Tempat titik awal ini berupa warung makan dipinggir jalan. Lokasi tepatnya setelah Puncak Pass. Oleh para goweser warung ini kemudian disebut dengan nama Warung Mang Ade, mungkin sesuai dengan nama empunya.

Perjalanan menuju Warung Mang Ade di puncak pass ini dilakukan dengan menumpang angkot. Para pengemudi angkot ini sudah sangat paham kalau pada hari sabtu dan minggu adalah harinya orang berkunjung atau bersepeda ke RA. Sehingga tanpa diminta dan dikomandoi sejak dari pagi mereka sudah berjejer di depan mesjid ataupun RM Sederhana Gadog. Bila tidak diangkut bersama sepeda, satu angkot bisa diisi 10 orang. Namun bila bersama dengan sepeda, maka satu angkot hanya muat maksimum untuk 4 orang, dengan tarif sekali jalan sekitar delapan puluh ribu.

Pukul 08.00 kita tiba di depan Warung Mang Ade. Cuaca lumayan cerah, tidak panas dan tidak terlalu dingin. Mobil pick up yang membawa sepeda kita juga sudah berada disana dan parkir di bahu kiri jalan. Rupanya parkiran di depan warung penuh sesak oleh sepeda kelompok yang datang lebih dahulu dari kita. Saking penuhnya, kita pun harus mengalah singgah dan sarapan di warung sebelahnya. Kondisi seperti ini memang demikian adanya. Para goweser baik secara perorangan maupun berkelompok akan datang dan mempersiapkan segala sesuatunya secara bergantian. Semuanya dimulai dari tempat ini.

Setelah sarapan, kita pun bersiap diri. Yang utama adalah mengecek ulang kondisi sepeda dan peralatan pribadi yang sudah dipersiapkan dari rumah, helm, kacamata, sarung tangan, air minum, makanan ringan, ban dalam cadangan dan toolkit serta mengenakan pengaman (protector) untuk melindungi bagian kaki (dengkul) dan tangan. Untuk keselamatan bersama, kita melakukan briefing sekali lagi, memantapkan posisi leader dan sweeper dan tak lupa berdoa bersama.

Pukul 09.00 kita mulai meluncur memasuki trek RA.  Meskipun baru mulai, kita harus tetap berhati-hati mengingat jalur masuk ini diawali turunan pendek dengan bebatuan kali sebesar kepala yang tidak rata. Jangan sampai belum mulai sudah celaka duluan. Sekitar satu kilo pertama jalanan cukup datar dengan tebing di sebelah kiri dan lembah perkebunan teh di sebelah kanan. Kebetulan kali ini saya bersama satu rekan lainnya diposisikan menjadi sweeper, mau gak mau harus jalan diurutan paling terakhir.

Lepas dari satu kilo pertama, jalur mulai berat. Turunan dengan bebatuan dan tidak merata serta berkelok sangat memungkin membuat kita terjungkal. Salah memilih alur bisa berakibat fatal. Saya sendiri beberapa kali harus menapak menghindari jatuh. Maklumlah biar pun sudah beberapa kali melewati jalur tersebut, keselamatan pribadi tetap menjadi concern nomor wahid. Kita pun harus pandai-pandai mengukur kemampuan diri sendiri serta menjaga jarak dengan kawan di depan. Ada satu turunan yang perlu diwaspadai di jalur bagian pertama ini, namanya adalah Turunan Paralayang. Dikatakan demikian, karena di depan turunan tersebut adalah tempat para pencinta olahraga Paralayang memulai aksinya. Turunannya sebenarnya tidak terlalu tajam, hanya saja karena kondisi jalannya yang kurang rata, sempit dan cembung maka disinilah letak kewaspadaannya. Pastikan juga sebelum meluncur tidak ada rekan goweser lain atau mobil yang parkir di depan turunan tersebut. Disini sebaiknya melepas rem dan meluncur dengan bebas. Namun jika ragu-ragu lebih baik TTB alias tuntun tuntun bike.

Kita berhenti sejenak memastikan semuanya baik-baik saja. Yakin semuanya oke, kita pun melanjutkan perjalanan menyusuri jalanan menurun. Jalanannya tergolong cukup mulus. Namun disini kita harus ekstra hati-hati mengingat kondisi jalan yang sempit dengan sisi sebelah kanan adalah lembah yang tertutup semak ilalang. Semak ilalang ini bisa dianggap semak yang menipu. Oleh karena itu, apabila jatuh sangat disarankan untuk mencari pijakan atau pun membuang badan ke sisi sebelah kiri (artinya ke bagian tebing), karena jika berpijak pada semak ilalang di sebelah kanan tersebut kita bisa jatuh ke dalam lembah yang mungkin kedalamannya bisa sampai 10 meter.

Kita kembali berhenti di sebuah lokasi sebelum turunan yang sangat ekstrim. Disini kita mengambil foto sebentar dengan latar lembah puncak yang indah dan melakukan briefing sekali lagi mengingat turunan yang akan dilalui setelah ini benar-benar warus diwaspadai.

Satu per satu dari kelompok kita meluncur melalui turunan tersebut. Turunan ini didominasi dengan batu kali yang besar-besar dengan kemiringan sekitar 30 – 40 derajat. Terdapat dua kali kelokan yang perlu diperhatikan dengan kondisi yang tidak merata. Beberapa kali kecelakaan dan juga ban pecah terjadi disini, karena memang kondisi turunannya yang sangat ekstrim. Sehingga teknik permainan dan pengontrolan rem depan dan rem belakang menjadi kunci utama. Para senior selalu berpesan, jika kita ragu-ragu dengan turunan ini maka jangan ragu-ragu juga untuk TTB alias tuntun tuntun bike.

Dari turunan ini, kita memutuskan mengambil jalur yang tembus ke jalan raya Puncak. Sama hal nya dengan jalur sebelumnya, jalur ini adalah jalur yang menurun dan didominasi batu kali yang tidak merata. Beberapa batuan merupakan batuan lepas, artinya tidak tertanam ditanah. Kemiringannya sendiri tidak securam turunan sebelumnya, namun kondisi yang tidak rata dan batuan lepas tersebut amat sangat perlu diwaspadai.

Kita pun kemudian meluncur melewati jalanan aspal menuju pintu gerbang Agrowisata Gunung Mas. Kemudian kita menyusuri jalan masuk menuju bagian tengah tempat tersebut yang biasa dijadikan lokasi pemberhentian dalam waktu cukup lama oleh para goweser. Meskipun jalan masuknya beraspal, namun cukup menguras tenaga, karena kondisi jalan yang menanjak dan cukup panjang. Sampai di dalam lokasi Agrowisata Gunung Mas ini seluruh anggota tim baik-baik saja. Kecuali satu orang yang kecapaian akibat belum begitu menguasai teknik nafas waktu ditanjakan. Disini kita berhenti untuk beberapa saat mengumpulkan tenaga sambil memesan teh panas dan kue gemblong untuk bekal perjalanan selanjutnya. Karena setelah ini kita tidak akan menemukan warung.

Setelah merasa tenaga pulih kita pun bergerak lagi. Perjalanan di tengah perkebunan teh tersebut diawali dengan turunan bebatuan lalu berganti dengan tanjakan panjang yang cukup menguras nafas di tengah kebun teh. Ada sedikit catatan yang perlu diperhatikan ketika kita gowes disela-sela pohon teh. Dahan pohon teh ini biasanya akan dipangkas secara rutin. Pangkasan ini tentunya akan menimbulkan bekas yang tajam. Nah, ketika gowes, pastikan tangan, badan atau kaki kita tidak bergeseran dengan dahan pohon teh tersebut. Seandainya jatuh pun pastikan juga kita tidak membuang tubuh ke atas pohon teh. Karena kita tidak akan pernah tahu setajam apa bekas pangkasan dahan pohon teh tersebut.

Rombongan kita terus bergerak. Jalur yang dilalui setelah itu cukup menantang dan didominasi beberapa turunan beraspal. Beberapa kali kita berhenti, menunggu anggota tim yang keteteran dengan nafasnya. Maklumlah, dalam rombongan kita kali ini salah satunya adalah rekan goweser baru yang mempunyai bobot badan tiga digit. Namun target kita justru ingin membawa seluruh anggota tim sukses sampai ke finish.

Kita pun tiba di Taman Safari yang merupakan tempat pemberhentian sekaligus penentuan jalur yang akan ditempuh. Ada dua jalur yang bisa kita putuskan dari sini, jalur kondangan atau meneruskan ke jalur andalan RA yaitu jalur “ngehe”. Di sebut jalur ngehe karena jalur ini didominasi oleh tanjakan yang sangat panjang. Tanjakan ini sendiri terbagi beberapa bagian yang sama-sama panjangnya. Saking panjangnya, maka dari mulut para goweser seringkali terucap perkataan, maaf, “ngehe” sebagai peristilahan sangat susahnya untuk gowes di masing-masing tanjakan tersebut. Karena masing-masing bagian tanjakan memiliki tingkat kesukaran yang berbeda, maka oleh para goweser setiap bagian tersebut diberi istilah yang beda dengan menggunakan kata ngehe tadi. Maka muncullah istilah “ngehe nol”, “ngehe setengah”, “ngehe satu”, dan “ngehe dua”.

Daerah tanjakan ngehe ini sangat terkenal, dan oleh penduduk sekitar , khususnya anak-anak dijadikan mata pencaharian. Anak-anak ini biasanya akan menawarkan jasa mendorong atau mengantar sepeda kita sampai ke lokasi ngehe terjauh dengan imbalan sekitar lima belas sampai duapuluh ribu. Disamping itu, ada juga yang menawarkan ojek motor bagi para goweser yang tidak kuat jalan. Sebagai gambaran saja, jangan kan untuk menggowes, untuk jalan aja disini sangat menguras nafas dan tenaga. Dan beberapa kejadian rekan goweser ada yang meninggal disini karena jantung.

Karena membawa rekan goweser yang masih baru, kita putuskan untuk mengambil jalur kondangan. Jika jalur tanjakan ngehe tadi setelah ngehe setengah arahnya adalah ke kiri, maka jalur kondangan ini arahnya ke kanan. Jalurnya didominasi turunan. Nah disini juga ada satu turunan yang mungkin bisa juga disebut sebagai turunan “ngehe” (tapi belum ada yang menyebut dengan istilah tersebut, hehehe). Turunan ini sangat amat curam, berupa batu conblock (karena memang merupakan jalan menuju sebuah vila). Kalau hujan kondisinya akan licin. Kita tidak bisa serta merta melepas laju sepeda kita begitu saja (layaknya kalau melewati trek downhill), karena diakhir turunan ini sudah menghadang lembah sungai yang dalam. Sehingga kalau kita merasa tidak yakin sangat disarankan untuk TTB.

Lepas dari turunan ini kita full harus TTB, karena setelah itu kita harus menuruni anak tangga yang cukup curam dam licin, lalu kemudian menyeberangi sungai melewati jembatan yang terbuat dari kayu alakadarnya. Kemudian setelah itu kita harus mendaki kembali pada tanah dengan kemiringan sekitar 60 -70 derajat. Baru setelah itu kita bisa  menggowes sepeda menuju puncak kebun teh kembali. Pada saat menggowes ini konsentrasi kita harus penuh, lebar jalan hanya sekitar 40 cm, salah memilih pijakan maka bisa menyebabkan kita meluncur masuk ke dalam lembah sungai yang tadi kita seberangi. Di atas puncak kebun teh tersebut kita berhenti sejenak, menikmati panorama alam yang sangat indah. Namun karena lumayan panas, kita pun melanjutkan perjalanan.

Kita berhenti sejenak di bibir Hutan Pangrango. Tujuan kita memang untuk fun dan membawa seluruh anggota tim selamat. Setelah semuanya merasa segar kembali kita melanjutkan perjalanan. Jalur yang kita lewati kali ini masih berupa perkebunan teh. Disini kita bisa menyaksikan ibu-ibu yang memetik teh, aktivitas penimbangan hasil petikan sampai teh diangkut dengan truk. Cuacanya sangat bersahabat, ditambah angin pengunungan yang nyaman. Beberapa bagian jalur berupa tanjakan, namun masih enak untuk digowes. Sayangnya pada beberapa tempat perjalanan sedikit terkendala dengan adanya penebangan pohon di kiri kanan jalan, informasi dari kepala pengawasnya penebangan ini dilakukan dalam rangka peremajaan.

Tiba lah kita di Hutan Lindung Pangrango. Jalur ini sangat sejuk, karena di apit hutan pinus yang teduh dengan tebing di sebelah kiri dan lembah jurang di sebelah kanan. Kita sebenarnya bisa memanfaatkan suasana ini untuk re-fill paru-paru. Jalannya pun lumayan lebar, bisa dilalui oleh satu mobil. Namun tetap saja kita harus berhati-hati. Kombinasi jalan menurun dan menanjak serta bebatuan koral tetap memerlukan konsentrasi yang tinggi. Di jalur ini kita menghadapi kendala, sepeda salah seorang rekan goweser mengalami putus rantai hingga dua kali. Disini gunanya toolkit. Letak kebersamaan antar goweser pun terwujud pada saat saat seperti ini. Hal ini terbukti manakala peralatan yang kita bawa tidak memadai, ketika itu melintas goweser dari kelompok lain. Mereka pun berhenti sejenak sekedar menanyakan dan meminjamkan peralatan yang kita butuhkan. Bersepeda memang bisa membuat kebersamaan tanpa pandang bulu.

Setelah rampung, kita pun melanjutkan perjalanan dan tiba juga di akhir jalur dari hutan lindung tersebut. Saya kurang begitu hafal nama perkampungannya, kalau gak salah daerah Citeko. Setelah itu jalur yang kita lalui adalah jalan raya beraspal dan seratus persen menurun. Jalur ini bisa dikatakan jalur relaksasi pertama, betapa tidak, tanpa mengayuh sepeda kita bisa meluncur dengan kecepatan bisa mencapai 60 km/jam. Namun karena masih tergolong jalan kampung, kita tetap harus waspada dengan lalu lalang penduduk dan kendaraan dipersimpangan serta laju kendaraan dari depan. Sehingga kontrol rem tetap sangat amat berperan.

Lepas dari jalanan turunan relaksasi pertama ini kita masih dihadapkan pada satu tanjakan. Tanjakan ini dikenal dengan Tanjakan Pasar Pasir Muncang. Disinilah seringkali beberapa  goweser mengalami kram kaki. Tanjakannya sebenarnya biasa, namun karena ruang gerak untuk mengatur gigi sangat pendek, maka para goweser terjebak. Karena itu lah kenapa kemudian tanjakan ini menjadi terkenal di kalangan para goweser.

Lepas dari tanjakan ini jalur yang kita lalui adalah jalan raya Cikopo Selatan, Gadog. Beberapa bagian jalanan murni menurun. Seperti kondisi jalan sebelumnya, tanpa mengayuh kita bisa melesat dengan kecepatan 60 km/jam bahkan lebih. Karena di jalan raya, yang perlu kita waspadai adalah laju kendaraan dari kiri, kanan, depan dan belakang kita.

Sekitar Pukul 14.30 kita pun akhirnya sampai ke pelataran parkir Mesjid Gadog yang sekaligus menjadi tujuan akhir dari trek RA. Selain insiden putus rantai, kita bersyukur perjalanan kali ini nol accident. Total jarak yang ditempuh adalah sekitar 26 km. Setelah bersih-bersih, makan siang berjamaah di Rm Sederhana Gadog, kita pun pulang ke komplek perumahan. Fakta berbicara, meskipun sudah berkali-kali gowes di RA namun rasa rindu untuk menjajal trek ini akan tetap muncul.

About Zasmi Arel

Music, Event, Traveling Photographer

Discussion

6 thoughts on “Rindu Alam: Kunjungan Keempat

  1. SAlam kenal mas, saya beberapa mgu lalu juga abis dari sini…..

    emang tempatnya asyik banget…

    Posted by bagasjono | 20 April 2010, 9:54 pm
  2. saya tinggalnya di bandarlampung, tapi sering ke karawaci tpt kakak saya, jadi sering gowes kalo ada kesempatan disini.. 🙂

    Posted by bagasjono | 21 April 2010, 4:15 pm
  3. uwwww,,, cita cita gw pengen ghowes di tempat2 keren !!!

    Posted by kingprimesecurity | 1 May 2010, 3:44 pm
  4. Wah pengen sepedahan disini tapi masih belum kesampean aja..

    Posted by Insan - Kinan | 2 April 2011, 6:58 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: