Edisi Traveling

Hari Pertama di Colombo, Sri Lanka

Zasmi Arel_DSCN3680-0

Photo by Zasmi Arel

Berkunjung ke Kota Colombo, Sri Lanka, menjadi catatan pertama pengalaman berkunjung ke luar negeri. Hari pertama di Colombo kami awali dengan lebih banyak tinggal di hotel. Rasa penat akibat penerbangan dan perjalanan masih terasa. Untungnya kedatangan kami masih dalam suasana akhir pekan. Janji berdiskusi dengan Mitra Lokal sengaja kami atur agak sore supaya dapat beristirahat memulihkan kondisi badan sebelum masuk pada pokok kegiatan pekerjaan.

Sebagaimana kebiasaan berada di tempat baru, yang pertama saya lakukan adalah mempelajari kondisi sekitar, terutama keseharian dan tipikal orang di sana, yaa…minimal yang berada di depan mata. Lumayan juga, pada tahap pengamatan awal tersebut setidaknya saya dapat mengetahui kebiasaan masyarakat setempat seperti cara berbicara, cara makan, dan juga cara berpakaian.

Cara berbicara penduduk setempat rupanya mempunyai ciri khas, kepala sedikit digoyang dan telapak tangan dibuka dengan gerakan layaknya orang menjelaskan. Mungkin kalau yang sering nonton film india dapat membayangkan bagaimana gerakan dan cara pemainnya ketika berbicara satu sama lain.

Kebiasaan makan mereka juga agak berbeda. Pada saat sarapan pagi kami sedikit heran, meskipun hidangannya ada yang berupa nasi, tapi di meja tidak tersedia sendok, yang ada hanya garpu dan pisau. Supaya tidak salah, sebelum makan kami perhatikan dulu tamu di sekitar. Baru kami tahu, rupanya  mereka makan nasi dengan menggunakan garpu.

Hal lain yang saya perhatikan adalah cara mereka minum, khususnya minum teh. Sri Lanka termasuk salah satu negara penghasil teh, mereka mempunyai daerah perkebunan teh seperti di Indonesia. Ada yang unik, kebiasaan penduduk di sana jika minum teh dicampur dengan susu putih cair. Belakangan baru saya tahu jika hal tersebut merupakan kebiasaan wajib mereka sehari-hari. Makanya jangan heran ketika kita bertamu akan disuguhi minum teh selalu disertai dengan cawan berisi susu putih, atau kita akan ditanya “dengan susu” atau “tanpa susu”.

Ciri khas lainnya adalah cara mereka berpakaian, khususnya kaum perempuan. Ada satu pertanyaan yang saya simpan sejak pertama kali tiba di bandara setempat. Saya perhatikan pramugari dari salah satu maskapai penerbangan mengenakan pakaian berupa kain dengan bagian perut yang terbuka. Begitu di hotel pemandangan yang sama juga saya temukan pada petugas restoran dan resepsionis. Karena penasaran saya bertanya dengan salah seorang pelayan pria. Dijelaskan oleh dia bahwa itu adalah cara berpakaian khas mereka, dan kain tersebut disebut “kain saree” yang juga dikenal sebagai kain khas Sri Lanka.

Mengapa saya perlu bertanya demikian. Bagi yang tidak tahu akan sedikit terganggu dengan pemandangan cara berpakaian perempuan setempat, khususnya dengan bagian perut yang terbuka. Dan itu nantinya akan kami temui sehari-hari dimanapun bahkan di perkantoran sekalipun. Awalnya pandangan mata agak kikuk, tapi lama-lama menjadi terbiasa dan menganggap hal tersebut sebagai hal biasa.

Sore harinya Mitra Lokal kami menepati janji berkunjung ke hotel untuk berdiskusi. Topik pembicaraan masih bersifat umum dan lebih ke arah rencana yang akan dilakukan mulai hari senin nanti. Selesai itu kami diajak untuk melihat kantornya. Rupanya letak kantor Mitra Lokal kami tersebut tidak jauh dari hotel tempat kami menginap, hanya memerlukan waktu sekitar lima menit dengan berjalan kaki. Karena itu adalah hari libur, maka kami cukup sampai di depan gedung, lalu kemudian balik arah menuju hotel. Dari Mitra Lokal kami mengetahui bahwa daerah tersebut dikenal dengan wilayah Galle.

Mulai keluar hotel dan sepanjang perjalanan menuju kantor Mitra Lokal tadi dan saat berjalan kembali menuju hotel saya perhatikan berseliwiran kendaraan serupa dengan bajaj-nya Indonesia. Karena penasaran saya bertanya kepada Mitra Lokal. Dari penjelasannya saya kemudian tahu kalau di Sri Lanka kendaraan tersebut dikenal dengan sebutan “Tuk Tuk”. Saya juga menjelaskan bahwa kalau di Indonesia kendaraan itu disebut bajaj. Dan asal tahu juga bahwa Tuk Tuk di Sri Lanka adalah setingkat dengan kendaraan taksi-nya di Indonesia.

Zasmi Arel_DSCN3774-0

Photo by Zasmi Arel

Kami juga baru tahu jika lokasi hotel tempat kami menginap sangat dekat dengan pantai. Lepas dari kantor Mitra Lokal, kami pun mampir ke pantai tersebut, kebetulan hari juga menjelang sore dan kami bisa menyaksikan sunset dengan jelas. Kami menyaksikan begitu padatnya orang yang berkunjung di tepi pantai tersebut, dan juga jajanan pasar. Tak ketinggalan juga para tentara yang berjaga. Sepertinya pantai tersebut dijadikan tempat rekreasi terbuka oleh penduduk kota saban sore dan akhir pekan.

About Zasmi Arel

Music, Event, Traveling Photographer

Discussion

3 thoughts on “Hari Pertama di Colombo, Sri Lanka

  1. Terimakasih sekali untuk tulisan Anda sangat membantu saya untuk mengenali sedikit kebudayaan dari Ayah anak saya. Saya sedang menabung dan berusaha keras untuk bisa datang bekunjung ke Srilanka, karena saya sangat ingin anak saya mengetahui keluarga dia di Srilanka. walaupun sekarang suami saya sudah meninggal kan saya saya tidak ingin memutuskan hubungan silaturahmi anak saya dengan keluarga di Srilanka. Insyallah Saya akan mengajak anak saya berkunjung ke Srilanka.

    Posted by Novipo | 29 October 2010, 12:52 pm
    • wow… surprise juga mbak kalo ternyata postingan ini pada akhirnya bisa menjadi tali kasih dua keluarga yang terpisah… (padahal waktu nulis-nya saya gak ngebayangkan sampai ke sana lho mbak…)… senang juga kalo bisa sedikit membantu….

      Oke mbak… salam kenal… dan semoga cepat mendapatkan jalan untuk mempertemukan si kecil dengan ayah nya…. (terharu juga dengarnya….)

      Posted by zasmiarel | 29 October 2010, 4:21 pm
  2. oh ya? Anda melihat orang Sri Lanka makan nasi menggunakan garpu? mungkin hanya ingin menghormati tamu. Waktu saya ke sana, awalnya mereka menggunakan sendok, tapi setelah beberapa hari, mereka mulai terbiasa dengan saya dan kembali ke kebiasaan aslinya, makan dengan tangan saja (tanpa garpu atau sendok).

    Tidak semua saree yang dipakai menunjukkan perut. Saree yang pernah saya coba tertutup di bagian perutnya

    Posted by Conny | 19 December 2010, 1:07 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: