Edisi Umum

Mudik: Antara Kebutuhan dan Unjuk Diri

GOSTAGE.com – Mudik, suka gak suka masih menjadi kebiasaan yang dilakukan masyarakat pada setiap kali lebaran. Padahal yang namanya mudik bisa dilakukan kapan saja, tanpa harus menunggu lebaran. Namun itulah kondisinya, bagi sebagian besar masyarakat kita mudik lebaran masih menjadi barometer perayaan kemenangan dan ajang silaturahmi kepada orang tua serta sanak saudara di kampung atau tanah kelahiran.

Saya pun ternyata masih memegang kondisi itu. Meskipun tidak mematok harus selalu mudik di setiap kali lebaran, namun dorongan untuk bertatap muka dan manakala mengingat orang tua kita yang sudah tua serta berharap ketemu anak dan cucunya terkadang mengedepan.

Lebaran tahun ini saya putuskan mudik ke Palembang, tempat kelahiran saya. Tiket pesawat kami pesan dari jauh hari. Disamping untuk mendapatkan harga yang rendah, utamanya adalah supaya tidak dipusingkan dengan proses mendapatkannya. Maklum, pengalaman dari tahun ke tahun kalau sudah mendekati lebaran suasana pemesanan tiket pasti ruwet.

Seperti tahun sebelumnya, acara lebaran yang kami lalui adalah lebaran hari pertama dan kedua merupakan alokasi ajang berkumpul keluarga besar dari pihak istri. Kebetulan hampir seluruh keluarga besarnya berada di Jakarta. Oleh karena itu, supaya mengakomodir semuanya, kami putuskan untuk mudik pada hari keempat. Di samping istri dan anak, ibu mertua yang kebetulan memang sudah tinggal bersama kami juga ikut serta.

Seperti keluarga lainnya, pernak pernik yang dipersiapkan untuk mudik umumnya sama, seperti perkiraan jumlah dan jenis pakaian yang akan dibawa, oleh-oleh atau tanda mata untuk ponakan dan sanak saudara yang perlu dikasih, dan tentunya uang. Sesampainya di tempat tujuan, urutan hal yang dipikirkan pun umumnya juga sama, sujud atau sungkem kepada orang tua, berkunjung atau dikunjungi sanak saudara, bagi-bagi angpaw, memikirkan program jalan-jalan, wisata kuliner dengan mencicipi makanan khas yang jarang bahkan tidak ditemukan di tempat rantauan, dan terakhir tentunya oleh-oleh yang akan di bawa.

Tujuan utama orang melakukan mudik adalah untuk bersilaturahmi dengan sanak saudara, terkhusus lagi adalah menyampaikan permintaan maaf kepada orang tua. Dalam kacamata agama, khususnya bagi umat islam, meminta maaf kepada orang tua dan sanak saudara di hari kemenangan (lebaran) sepertinya sudah menjadi keharusan. Hal ini sebenarnya bisa saja dilakukan lewat komunikasi melalui telepon, sms atau surat. Namun, datang langsung bersujud dihadapan kedua-orang tua dan bersilaturahmi dengan sanak saudara lainnya masih dianggap yang paling afdol untuk hirarki tingkatan. Jika dipandang dari sisi ini, maka mudik lebaran menjadi sebuah kebutuhan.

Namun disamping bersilaturahmi, tidak dapat dipungkiri, ada juga yang memanfaatkan momentum mudik sebagai ajang unjuk diri, terutama yang berhubungan dengan status sosial. Saya ambil contoh di kampung kelahiran saya. Di kampung saya masih ada anggapan bahwa jika seseorang pulang dengan membawa mobil pribadi berarti dia dianggap berhasil. Kenapa mobil? bukan perhiasan atau yang lainnya. Karena mobil adalah benda yang wujudnya bisa langsung terlihat dengan mata.

Meskipun anggapan tersebut mulai bergeser, namun nuansanya masih terasa. Sehingga akan sangat beda antara hari biasa dengan suasana lebaran. Mobil baru dengan berbagai jenis dan plat nomor yang masih gress mewarnai jalan kampung yang sempit. Sebenarnya itu tidak perlu dipersoalkan. Sangat lumrah jika orang mudik ingin menunjukkan keberhasilan supaya status sosial mereka terangkat. Yang kadang terjadi adalah orang memaksakan diri bagaimana caranya supaya tampil “wah” .

Itu salah satu contoh yang terjadi di kampung saya. Mungkin di tempat lain juga berkembang anggapan seperti itu. Hanya saja bentuk dan tema yang diangkat berbeda.

Sekali lagi itu kondisi lumrah dan wajar yang berkembang di masyarakat kita. Dan apakah mudik dianggap sebagai kebutuhan atau ajang unjuk diri, tentunya kembali kepada pribadi masing-masing.

About Zasmi Arel

Music, Event, Traveling Photographer

Discussion

4 thoughts on “Mudik: Antara Kebutuhan dan Unjuk Diri

  1. Dikembalikan pada niat masing2 deh

    Posted by dina.thea | 23 September 2010, 3:52 pm
  2. absolutely bravo, itu kata yg pantes buat bang Arel, lama jg saya ndak bkecimpung di dunia maya ternyata pkembangannya bgt dasyat terutama blog bang Arel. sekali lg absolutely bravo untuk tulisan2 humanistisnya trus tingkatkan dan belajar trus.

    Posted by masjud | 21 October 2010, 10:36 am
    • Tenkiyu….
      bay de wei bas wei… iki kang masjud madep toh? alamat imelnya ganti ya kang….. kalo mau rame-rame lagi tgl 30 oktober 2010 ada Pesta Blogger 2010 kang, rencana sih ane mau datang… mudah2an gak ada deadline… hahahaha… sukses terus kang…

      Posted by zasmiarel | 21 October 2010, 11:46 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: