Edisi Traveling

Singapore: Kunjungan Kedua

Ke Singapura lagi?? Yup, pertengahan Oktober 2011 saya kembali menginjakkan kaki di Singapura. Sebagaimana harapan kami (saya dan istri) di akhir kunjungan kali pertama silam (14 sampai dengan 16 Januari 2011), keinginan kami membawa serta si kecil pada kunjungan kali ini bahkan beserta ibu mertua akhirnya kesampaian. Jika pada kesempatan kunjungan pertama bisa dikatakan sebagai liburan bulan madu (karena hanya saya dan istri), naah kunjungan kali kedua ini bisa dikatakan murni liburan keluarga.

Karena sudah pernah kesana maka dari rencana tempat tujuan, pilihan transportasi dan rutenya, pilihan tempat menginap, tempat makan sudah tidak masalah buat kami. Namun, berhubung kali ini kami membawa si kecil yang baru berumur empat tahun, persiapan barang bawaan buat dia harus kami rencanakan betul agar tidak kekurangan ataupun over loading. Karena nantinya kami sudah terbayang akan banyak jalan maka yang utama kami putuskan untuk membawa kereta dorong, supaya nyaman buat dia dan nyaman pula buat kami. Yaaa…lumayan kalo sekiranya harus menggendong dia yang berbobot sekitar sembilan belas kilo, hehehe.

Seperti biasa, tiket pesawat dan penginapan kami pesan dari jauh hari (mulai bulan Mei 2011). Kali ini kami putuskan untuk menumpang Tiger Airways untuk keberangkatan tanggal 14 Oktober 2011 dan rencana kembali tanggal 17 Oktober 2011. Sedangkan untuk penginapan kembali kami booking di the Hive Backpacker Hostel di Serangoon Road. Pilihan tempat ini tentunya didasarkan pada pengalaman sebelumnya, disamping murah, akses ke MRT dan Bus gampang, yang terpenting adalah the Hive memperbolehkan bagi tamu yang membawa anak kecil. Sebagai catatan saja, tidak semua hostel atau hotel backpacker yang mengijinkan anak kecil turut serta menginap.

Perjalanan kali ini juga merupakan kejutan buat si kecil. Seminggu sebelum keberangkatan, si kecil kami sempat melihat-lihat peta tujuan wisata di Singapura, lalu dia mengutarakan keinginannya ke saya, “papa, kalo papa sama mama punya uang, dede pengen deh ke Singapura…”

Mendengar permintaannya tersebut kami tidak serta merta memberitahu dia. Sekali lagi, ini kami jadikan surprise buat dia. Dan kami baru memberitahu dia satu hari tepatnya di malam keberangkatan. Wow… benar saja…. dia girang bukan kepalang. Dan bagi kami kegirangan si kecil ini juga kebahagiaan buat kami. Namun tidak hanya sekedar itu, tujuan kami mengajak si kecil kali ini adalah kami ingin memberikan pembelajaran kepada dia tentang kedisiplinan serta keteraturan. Menurut kami, Singapura adalah salah satu tempat yang baik untuk itu.

Pesawat yang akan kami tumpangi rencananya akan take off pukul 09.55 WIB. Supaya tidak terlambat dan agak santai untuk urusan check in, imigrasi dan pemeriksaan lainnya, maka kami putuskan untuk berangkat lebih pagi. Pukul 05.30 kami start dari rumah dengan menumpang taksi. Tiba di bandara seperti biasa, kami langsung menuju meja check in, membayar airportax sebesar 150ribu rupiah per orang, lalu mengantri di meja imigrasi (sebelumnya tidak lupa mengisi lembaran keberangkatan yang diberikan), menuju ruang x-ray, dan lanjut menuju ruang tunggu boarding. Dan Tepat pada waktu yang ditentukan, pesawat Tiger Airways yang akan membawa kami ke Singapura lepas landas dari Soekarno Hatta International Airport.

Hari Pertama

Sekitar Pukul 12.45 waktu Singapura pesawat Tiger Airways yang kami tumpangi mendarat di Changi International Airport. Jika kita menumpang Tiger Airways, maka kita akan mendarat di Budget Terminal. Hal ini sempat membuat kami bingung, karena pada kunjungan pertama (menumpang AirAsia) kala itu kami mendarat di Terminal 1. Sembari turun pesawatkami mencari tahu, namun akhirnya mengikuti saja arus penumpang yang lain menuju antrean di depan bagian imigrasi.

Penjagaan di bagian imigrasi pada Budget Terminal cukup ketat. Pertama kita harus melalui x-ray, disini bagi yang membawa laptop harus mengeluarkannya dari tas dan menempatkannya pada tempat yang sudah disediakan. Lepas dari bilik x-ray ini, kita kemudian harus mengantri pada bagian pemeriksaan passport. Disini juga petugas yang menjaga cukup awas. Apabila mendapati penumpang yang menelepon atau hanya sekedar mengutak atik handphonenya, si petugas langsung menghampiri dan meminta si empunya handphone tersebut untuk menghentikan aktifitasnya. Namun sisi baiknya juga ada, bagi penumpang yang membawa anak bayi akan diprioritaskan. Sampai disini kami mengikuti saja prosedur yang berlaku.

Lepas dari meja pemeriksaan imigrasi kami menuju tempat pengambilan baggasi yang tepat berada di depannya.  Sambil menunggu, saya sempatkan mencari tahu arah atau rute yang harus kami tempuh selanjutnya. Yang perlu kami tahu adalah bagaimana mencapai akses ke MRT Changi (di Terminal 2). Saya mencoba mencari map Singapura pada meja informasi, namun tidak tersedia. Selidik punya selidik dan tanya punya tanya akhirnya kami mengetahui bahwa untuk mencapai Terminal 2, kami harus naik Feeder Bus dari Budget Terminal.

Kami pun kemudian menuju tempat Feeder Bus tersebut menunggu, cukup mudah, karena petunjuknya sudah tersedia. Dan Feeder ini bisa tumpangi cuma-cuma alias gratis. Perjalanan dari Budget Terminal menuju Terminal 2 rupanya lumayan jauh juga. Sekitar 15-20 menit perjalanan akhirnya kami tiba di Terminal 2 Changi International Airport.

Begitu turun kami mencari petunjuk menuju arah MRT dan kemudian berjalan kaki menuju arah yang ditunjukkan. Sambil jalan, istri saya menghubungi teman kantornya (dari Bali) yang kebetulan akan bersama kami selama kunjungan di Singapura. Rupanya dia sudah tiba lebih dahulu dengan menumpang AirAsia dan saat itu menunggu dekat meja check in. Karena dia baru pertama ke Singapura maka kami pun berjalan ke tempat dia menunggu. Setelah ketemu dan cipika cipiki sejenak kami pun bergerak menuju tempat menunggu MRT di stasiun Changi.

Tiba di tempat menunggu MRT tak lupa kami mengisi EZ Link  Card dan membeli satu kartu untuk si kecil kami. Sebagai informasi saja, jika kita memutuskan bepergian menggunakan jasa MRT atau Bus selama di Singapura lebih baik dan lebih gampang kita membeli EZ Link Card. Kartu ini bisa digunakan untuk keduanya, baik untuk naik MRT maupun Bus. Jadi kita tidak perlu repot-repot bayar, tinggal nempelin kartu pada panel yang disediakan.

Setelah beres dengan urusan EZ Link Card, kami pun menuju platform untuk menunggu MRT. Sekitar dua menit kemudian MRT tiba dan kami pun naik. Tepat Pukul 14.30 MRT yang kami tumpangi bergerak meninggalkan Stasiun Changi. Mmm… menjadi catatan, jika kita naik Tiger Airways kita harus menyediakan atau mengukur waktu lebih banyak untuk proses dan perjalanan antara Budget Terminal menuju Terminal 2 (atau sebaliknya).

Selang beberapa menit MRT yang kami tumpangi berhenti di Stasiun Tanah Merah. Kami turun dan melanjutkan/ menyambung naik MRT yang menuju Stasiun Outram Park, yang merupakan stasiun interchange. Di Stasiun Outram Park kami turun dan kemudian menyambung naik MRT jurusan Punggol. Kami kemudian turun di Stasiun MRT Boon Keng. Saya melirik jam, pukul 15.30. Kami keluar dari Stasiun Boon Keng melalui Pintu C. Begitu keluar kita akan menemui Serangoon Road dan kemudian kami berjalan kaki menyusuri trotoar menuju The Hive Backpacker Hostel yang sudah terlihat di depan mata.

Kami kemudian mengkonfirmasi kamar yang sudah dibooking sebelumnya. Karena sudah memasuki waktu check in (dan kebetulan kamarnya juga sudah siap), kami pun langsung menuju kamar dengan tak lupa melakukan pembayaran dari total biaya untuk total hari kita menginap. Sekedar untuk diketahui dan untuk mengingatkan, bahwa waktu check-in di The Hive adalah Pukul 15.00.

Setelah istirahat, sholat zhuhur dan ganti baju, kami pun memutuskan untuk mencari makan siang di seputar Mustafa Center. Waktu menunjukkan pukul 16.30. Mmm… sayang sekali kali ini saya tidak mendapatkan waktu untuk jumatan di Mesjid Angullia sebagaimana waktu kunjungan kali pertama. Nasi Briyani menjadi menu makan siang kami kali ini. Begitu selesai makan, si kecil kami menunjukkan gelagat mengantuk. Benar saja, baru beberapa menit saya pangku, dia sudah tertidur pulas. Supaya nyaman saya dudukkan dia di kereta dorongnya, dan kami pun melanjutkan perjalanan.

Sembari saya jaga si kecil, rombongan para ibu (istri saya, mertua, dan teman satu kantor istri) mulai memasuki beberapa toko untuk sekedar melihat barang-barang yang dijual. Salah satu toko yang dimasuki adalah toko yang menjual cinderamata khas Singapura, yaitu toko 3 for Sgd 10, yang terletak tidak jauh dari Mustafa Center. Disini kami membeli tempelan kulkas dan gantungan kunci untuk oleh-oleh.

Setelah itu kami melanjutkan berjalan kaki menuju depan Mustafa Center. Kebetulan sedang ada bazaar ala India  dalam rangka memperingati salah satu hari besar India, Deepavali, yang berlokasi tepat di seberang Mustafa Center tersebut.  Karena si kecil masih tertidur pulas, saya putuskan untuk menunggu saja di luar lokasi bazar, sementara para ibu masuk ke dalam areal bazaar. Cukup lama juga saya menunggu, daripada jenuh, saya pun mengeluarkan kamera dan mengambil beberapa foto, termasuk lalu lalang orang di dekat saya. Selang tiga puluh menit-an, akhirnya para ibu muncul dari dalam areal bazar dengan menenteng barang belanjaan. Mmm…. naluri para ibu memang lain kalau untuk urusan belanja, hahahaha…

Sekitar pukul 18.00 kami menyudahi berkeliling di seputar bazar tersebut, si kecil juga sudah bangun dan kelihatan segar kembali. Tujuan kami selanjutnya adalah ke vivo city…niat beli tiket pertunjukan Songs of the Sea untuk keesokan harinya. Yang lain menunggu di vivo city mall sambil makan di food court nya, sementara saya sendiri yang ke sentosa island untuk beli tiketnya. Terminal untuk menuju sentosa island ada di lantai 3, dari sini kita naik Sentosa Express dengan terlebih dahulu membeli karcis seharga Sgd 3.

Disini saya bingung caranya… karena belinya melalui mesin. Saya perhatikan dulu orang yang ada di depan saya… kebetulan mereka memasukkan uang coin dan kemudian penjet berapa karcis yang akan di beli…lalu keluar deh karcisnya… nah, yang saya bingung adalah uang yang saya bawa dalam bentuk lembaran… waduh… kebetulan di depan saya ada anak muda Singapura yang membeli karcis dengan uang lembaran… saya perhatikan caranya… dan akhirnya daripada-daripada saya minta bantuan dia… untungnya dia bersedia… karcis sentosa express pun di tangan.. kemudian seperti biasa untuk masuknya karcis tersebut kudu kita tempelkan pada panel yang sudah tersedia… lalu tinggal nunggu deh (belakangan saya baru tahu kalo ternyata untuk beli karcis sentosa express tersebut bisa memakai EZ link Card)… alamak….kalo tahu dari awal tadi ngapain repot-repot..hahahaha.

Senotasa Express pun muncul… disini saya bingung… nantinya akan turun dimana… karena di dalam tidak ada petugasnya, dan tadi sebelum naik lupa nanya. Akhirnya sok pede sambil nguping kiri kanan kira-kira untuk pertunjukkan Song of the Sea nantinya turun di mana. Dengar punya dengar ternyata nanti saya harus turun di stasiun terakhir, yaitu Beach Station dari tiga stasiun pemberhentian. Begitu tiba di pemberhentian terakhir (Beach Station) saya pun turun.

Tiba di depan loket, saya langsung pesan tiket Songs of the Sea untuk pertunjukkan keesokan hari. Dan ternyata dijawab tidak bisa. Lhaaa kok??? Saya tanya bukannya biasanya bisa. Nah, petugas loketnya dengan ramah (cewek India… cakep n hitam manis…hehehe) menjelaskan bahwa berhubung pada saat itu musim hujan maka mereka hanya menjual tiket untuk pertunjukkan hari itu. Dia menjelaskan, jika kita sudah membeli tiket, tapi kemudian turun hujan sebelum jadwal pertunjukkan dimulai, maka secara otomatis pertunjukkan Songs of the Sea nya akan dibatalkan alias tidak jadi dipertontonkan untuk jam pertunjukkan tersebut. Nah, masalahnya tiket yang kita beli hanya berlaku untuk pertunjukkan di jam dan hari tersebut, dan tidak bisa digeser untuk pertunjukkan di jam berikutnya. Artinya, jika terjadi kondisi seperti itu, tiket yang sudah kita beli hangus. Wow…. ternyata begitu toh.

Saya pun akhirnya meng-sms istri kondisinya. Setelah urun rembuk, akhirnya kita putuskan untuk nonton pertunjukkan Song of the sea untuk hari itu juga, karena kita juga gak tahu apakah besok cuacanya akan sebaik hari ini. Sementara menunggu istri, anak, mertua dan teman kantor istri, saya pun mengantri di depan loket penjualan kembali. Berhubungan untuk pertunjukkan pukul 19.40 sudah dimulai, maka kami pesan untuk pertunjukkan jam berikutnya 20.40. Harga tiket adalah Sgd 10 untuk tempat duduk standard, dan Sgd 15 untuk tempat duduk Premium. Saya ambil yang tempat duduk Standard, tiket pun di tangan, dan tak lama kemudian rombongan istri pun tiba. Saya perhatikan si kecil, sungguh senang dia, saya pun bersyukur, sejauh ini dia tidak rewel sama sekali.

Sambil menunggu, kami pun sempat foto di luar dan akhirnya tiba waktu pertunjukkan dimulai. Kami pun mengantri untuk masuk pada lajur pembeli tiket biasa (dari Pintu masuk 5), sedangkan yang membeli tiket premium masuk dari pintu utama. Begitu masuk, saya pun memilih tempat duduk agak ke tengah dan ke belakang, tujuan saya cuma satu…supaya dapat view untuk memotret dan meletakkan tripod…hahaha.

Tepat pukul 20.40, pertunjukkan dimulai, saya kembali melirik ke si kecil… wow… dia begitu senang dengan pembukaan berupa permainan sinar laser… apalagi yang pertama kali muncul adalah tokoh oscar yang dia sudah kenal juga… Kami pun  kemudian terlena dengan babak demi babak dari pertunjukkan Song of the sea tersebut. Begitu indah dan menakjubkan permainan sinar laser, air, dan kembang api yang dipertontonkan secara silih berganti.

Saya pun tidak mau menyia-nyiakan kesempatan tersebut begitu saja…tidak kurang 40 foto yang saya jepretkan disini… sesekali si kecil menggoda saya dengan tingkah lucu dan girangnya… saya pun membalasnya dengan senyuman, sambil sesekali mencium mukanya yang semeringah menyaksikan pertunjukkan yang menakjubkan tersebut. Dan begitu pertunjukkan selesai, ditandai dengan kembang api yang menggelegar, si kecil kami bukannya takut tapi malah tereak kegirangan…Tidak hanya dia, kami semua penonton di lapangan tersebut bersorak kegirangan serta puas dengan apa yang sudah dipertontonkan…. Pukul 21.15 pertunjukkan pun usai.

Kami pun keluar dan foto-foto sebentar, lalu menuju tempat menunggu Sentosa Express untuk kembali pulang ke penginapan. Sekitar pukul 22.00 kami pun tiba di The Hive. Si kecil tidur sekamar dengan Utinya, sementara saya dan istri di kamar yang lain. Begitu tahu si kecil sudah tertidur, saya dan istri melanjutkan jalan-jalan malam ke arah Mustafa Center, tentunya setelah mandi dan sholat isya.

Pukul 24.00 kami keluar The Hive, menyusuri Sengaroon Road ke arah Mustafa Center. Untuk diketahui Mustafa Center ini adalah salah satu mall atau pusat perbelanjaan terkenal di Little India karena buka 24 jam. Sekali lagi kamera saya beraksi untuk Night Shoot, saya tertarik dengan banyak gapura yang dihiasi lampu kerlap kerlip di sepanjang Serangoon Road tersebut. Satu gapura di bagian depan bertuliskan “Happy Deepavali”, itulah hari rayanya orang India. Kami terus menyusuri jalan tersebut sampai ke Mustafa Center.

Disini saya ingat untuk membeli oleh-oleh berupa parfum untuk orang-orang kantor. Tak lupa kami juga membeli cemilan dan oleh-oleh buat si kecil, yaitu boneka Mini Mouse kesukaan dia. Kami ingin memberikan surprise ketika dia bangun tidur keesokan harinya itu boneka sudah ada di kamar dia. Setelah puas berbelanja di Mustafa Center dan menikmati indahnya pemandangan kerlap kerlip lampu yang terpasang di sepanjang jalan tersebut, kami pun melangkahkan kaki kembali ke penginapan, The Hive.  Sekitar Pukul 01.30 pagi, kami sampai di penginapan kembali, dan acara berikutnya adalah…tiduuuuur.

Hari Kedua

Tujuan hari kedua adalah Singapore Botanic Garden (SBG). Bangun pagi, sarapan akhirnya baru jalan dari The Hive sekitar Pukul 09.30… rutenya naik MRT dari Stasiun Boonkeng, kemudian turun Stasiun Orchard, kemudian keluar dari Pintu E dan nyambung naik Bus No. 77 dan turun di Napier Road. Kami tiba di Napier Road pukul 10.50, kemudian menyeberang jalan menuju pintu gerbang masuk SBG. Disini tidak lupa foto-foto sebentar, kemudian baru masuk.

Pukul 11.50, kami keluar dari SBG. Menyeberang jalan, dan disana masih ada penjual Es Krim yang dulu kami temui waktu kunjungan kali pertama, kami mampir dahulu istirahat sambil menikmati Es Krim Sgd 1,2. Sekitar Pukul 12.15, kami pun beranjak dari lokasi SBG.

Tujuan selanjutnya adalah Orchad Road. dari Napier Road (SBG) kami naik Bus No. 7 yang mengarah ke Orchad Road. Sekitar Pukul 11.25 kami tiba di pelataran Orchad Road. Disini kami jalan-jalan di depan pusat pertokoan Lucky Plaza dan hanya menikmati pemandangan siang disana. lalu menuju Toko Buku Takasimaya karena Ibu mertua ingin mencari buku rajutan. Namun sayang buku yang dimaksud tidak ditemukan disini. Lalu kemudian istri menyempatkan mampir untuk membeli payung yang sudah dia incar sejak kunjungan pertama dulu. Dan sekarang baru kesampaian, hahaha. Kemudian kami makan di Food Court Lantai 4 pada pusat perbelanjaan tersebut. Sekitar Pukul 14.30, kami sudahi kunjungan di seputar Orchard.

Tujuan kami selanjutnya adalah Bugis Street, pusat perbelanjaan yang terletak di daerah Bugis. Karena udara cukup panas, maka dari Orchard Road kami putuskan untuk naik MRT. Kami pun turun menuju Stasiun MRT Orchard Road untuk naik MRT ke arah dan berhenti di Stasiun Bugis. Kami tiba di Stasiun Bugis pukul 14.40. Di sini saya lihat si kecil kami sudah mulai mengantuk, tandanya adalah dia mulai minta gendong. Saya pun menuruti permintaannya sambil membuka kereta dorong dia. Tidak lama duduk di kereta dorong, si kecil kami pun tertidur pulas.

Melihat si kecil yang tertidur pulas, saya tidak tega untuk membawanya jalan-jalan ke pusat perbelanjaan Bugis Street, karena saya tahu lokasinya sangat ramai dan tidak memungkin buat dia yang lagi tertidur. Saya pun menyilahkan rombongan ibu-ibu untuk berbelanja atau sekedar hunting barang di Bugis Street, sementara saya menemani si kecil di depan Bugis Junction yang berseberangan dengan lokasi pusat perbelanjaan Bugis Street. Cukup lama juga dia tertidur, dan sambil menunggu, saya pun tak lupa membidikkan kamera ke arah objek-objek yang menarik, termasuk si kecil yang lagi tertidur. Dan sekitar Pukul 15.30 rombongan ibu-ibu akhirnya tiba. Si kecil kami masih tertidur pulas. Kami pun sama-sama istirahat sejenak sambil menikmati burger yang dibeli oleh istri. Merasa sudah cukup, kami pun membangunkan si kecil, dia mengulet dan tersenyum… wow… sampai sejauh ini saya bersyukur si kecil kami tetap tidak rewel dan malah menunjukkan sikap yang riang dan senang.

Sekitar Pukul 17.45 kami pun melanjutkan perjalanan. Tujuan kami selanjutnya adalah Marlion Park, tempat Patung Singa lambang Singapura bertengger. Dengan menumpang Bus No. 30 dari depan Bugis Junction/Bugis Street akhirnya kami tiba di Halte Fullerton Hotel sekitar pukul 18.10. Dari depan Hotel Fullerton ini kami berjalan kaki menuju pelataran Marlion Park dan melintasi Marina Bay Sands. Disini kami berhenti sebentar untuk mengambil foto dengan latar belakang Marina Bay Sands. Lalu kami melanjutkan menuju area Patung Marlion. Di lokasi ini sudah banyak pengunjung yang duduk dan pastinya berpose dengan latar Patung Marlion. Kami pun demikian. Bagi saya dan istri ini adalah kali kedua. Kesempatan ini tentunya tidak saya sia-siakan. Saya menyiapkan tripod, membersihkan lensa kamera dan mencoba beberapa view.

Saya memperhatikan di sekitar. Sama seperti kami, kebanyakan pengunjung yang berada di tempat tersebut duduk-duduk menunggu sore berganti malam. Karena view yang terbentuk di lokasi tersebut akan sangat menarik dan indah dinikmati pada senja hingga malam hari. Dari lokasi Marlion Park, secara bebas kita bisa melihat view ke arah Marina Bay Sands, Singapore Flyer, Esplanade, serta gedung perkantoran diseputar Esplanade.

Karena lumayan lama menunggu pergantian senja ke malam, istri saya mengatakan bahwa lebih baik mereka menuju Esplanade sambil makan malam. Saya pun sepakat. Setelah itu istri, si kecil kami, ibu mertua bersama temannya istri berjalan kaki menuju Esplanade, sementara saya dengan setia menunggu di seputar Marlion Park.

Senja pun berganti malam. Para juru keker yang dari tadi sudah menyiapkan peralatan mulai beraksi. Secara bergantian atau berbarengan saya dan beberapa pengunjung mulai mengarahkan kamera kepada beberapa view yang menjadi icon Singapura, mulai dari Patung Marlion sendiri, Marina Bay Sands, Esplanade, Singapore Flyer, gugusan gedung di seputar Esplanade, sampai gugusan gedung yang berada di sekitar Fullerton Hotel.

Saking asyiknya membidikkan kamera, tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 20.00. Sadar belum makan malam, saya pun bermaksud menyudahi shoot dari lokasi Marlion Park. Kamera saya off kan dan tripod pun saya benahi. Begitu ingin melangkah menuju Esplanade, tiba-tiba dari arah Marina Bay Sands muncul sinar laser yang ditembakkan ke arah atas disertai dengan bunyi sound yang menggelegar lalu dilanjutkan dengan lagu. Wah, dengar punya dengar rupanya ini adalah pertunjukkan rutin yang disuguhkan pihak manajemen Marina Bay Sands bagi pengunjung di seputarnya, permainan sinar laser dengan durasi pertunjukkan selama satu putaran lagu (sekitar 15 menit). Pertunjukkan sinar laser ini rupanya rutin dipertontonkan setiap pukul 20.00.

Mendapati moment tersebut, saya bergegas ambil posisi tepat dipinggir sungai persis di depan view bangunan Marina Bay Sands yang arsitekturnya dibuat menyerupai kapal. Dengan cepat tripod dan kamera saya siapkan kembali. Sambil menikmati pertunjukkan yang begitu indah, tak henti-hentinya jari telunjuk saya memenjet tombol shutter, dan tak terasa sekitar 40 jepretan sudah saya lancarkan.

Begitu pertunjukkan selesai, saya bergegas menyusuri jalan dan jembatan menuju Esplanade. Dari atas jembatan beberapa kaki kamera saya bidikkan pada view yang semakin menarik bila dilihat dari atas. Gabungan Patung Marlion dan Marina Bay Sands ditambah lalu lalang beberapa perahu sangat menawan di ambil dari atas jembatan. Begitu juga gedung Esplanade dipadukan dengan Singapore Flyer dan Mandarin Hotel tak kalah menawannya. Sampai di Esplanade saya langsung mencari rombongan istri. Mereka tentunya sudah makan malam dari tadi. Saya pun mencari makan malam di Esplanade. Kali ini, tempat makan yang saya tuju sama dengan waktu pertama berkunjung ke sini, yaitu Kopi-O dengan menu yang dipesan adalah Laksa dan Teh-O.

Sekitar pukul 21.30 kami undur diri dari pelataran Esplanade. Kami berjalan menuju Halte Bus Esplanade (yang berada tepat di depan gedung Esplanade). Saya membuka catatan tahun lalu mencari nomor bus yang melewati Serangoon Road, No. 857. Begitu saya tutup buku kecil saya…di depan bus yang kami tunggu rupanya sudah ada. Kami pun bergegas naik. Sekitar pukul 22.15 bus yang kami tumpangi tiba dan berhenti di Halte Bus Serangoon Road. Saya lihat si kecil kami terlelap dalam gendongan istri. Begitu turun bus langsung saya ambil alih dan kami pun menyusuri jalan menuju penginapan (The Hive) yang tepat berada di seberang jalan. Puihhhh…. kaki rasa penaaat, tapi senang.

Hari Ketiga

Lokasi yang akan kami kunjungi di hari ketiga ini adalah Singapore Science Center (SSC). Sebelum tidur tadi malam, saya dan istri menyempatkan untuk googling rute menuju SSC. Baik itu rute MRT maupun Bus. Untuk Rute MRT, kita harus naik MRT dan nanti pemberhentian terakhir adalah stasiun Juroong East, nah dari sini kita bisa jalan kaki atau nyambung naik Bus yang lewat SSC. Sementara untuk Bus, salah satu trayek yang melewatinya adalah Bus No. 66.

Seperti biasa, pagi kami sarapan dulu di The Hive. Sambil sarapan saya memperhatikan lalu lalang mobil yang lewat di Serangoon Road. Secara gak sengaja, saya melihat ada Bus No. 66 melintas di depan.  Saya berpikir, secara logika berarti kami bisa menunggu Bus No. 66 dari dekat tempat kami menginap. Tapi berhubung jalan Serangoon Road satu arah, saya masih mereka-reka, dimana jalur sebaliknya. Selesai sarapan, saya lihat peta rute Bus. Rupanya jalan atau jalur sebaliknya ada di belakang tempat penginapan kami. Saya diskusi dengan istri, apakah akan naik MRT atau Bus. Berhubung kami menemukan Bus yang menuju SSC ada yang melalui tempat penginapan, kami pun memutuskan naik Bus.

Bergeraklah rombongan sirkus ini dari The Hive menuju jalan yang mengarah pada jalur yang dilalui Bus No.66 tadi. Sebelumnya kami menyempatkan membeli makanan untuk bekal disana nantinya. Mengingat dari postingan yang kami baca bahwa harga makanan yang ada di seputar SSC lumayan mahal. Bekal yang kami berupa burger serta bberapa botol air mineral yang kami beli di City Square Mall tak jauh dari The Hive. Cukup lumayan juga kami berjalan dan saya kebagian mendorong si kecil yang duduk di kereta dorongnya, sampai akhirnya tiba di halte bus yang kami tuju.

Selang beberapa waktu menunggu, sekitar Pukul 11.15 bus yang kami tunggu pun datang, kami pun naik dan kami bisa memperkirakan, berapa lama jarak tempuhnya. Saya coba tanya atau tepatnya memberitahu ke sopir bus bahwa nanti kami akan turun di SSC. Sopir bus tersebut hanya mengangguk tanpa ada penjelasan lebih lanjut. Berdasarkan pengalaman kunjungan kali pertama, saya tidak kaget lagi dengan sikap sopir bus di singapura. Mereka memang agak enggan melayani pertanyaan dari calon penumpangnya, sepertinya mereka ingin menunjukkan bahwa mereka punya jadwal dan mereka hanya mengemudikan, jika terlalu lama waktu terbuang untuk meladeni pertanyaan penumpang maka bisa mengakibatkan jadwal bus mereka akan terganggu (hmmm… bisa aja ya saya menyimpulkan begitu…hehehehe).

Karena tidak bisa memperkirakan dan belum tahu lokasi tepatnya dimana SSC, saya merasakan perjalanan yang kami tempuh begitu lama. Tapi sekali lagi saya cukup terhibur manakala melihat si kecil kami begitu antusias memperhatikan sekitar dan tidak menunjukkan kerewelan. Satu jam kemudian (tepatnya pukul 12.30) kami pun tiba di SSC. Kami membeli tiket terusan sekalian untuk masuk Snow City seharga Sgd 16 untuk dewasa dan Sgd 14 untuk anak-anak.

Setelah mendapatkan tiket kami putuskan untuk makan siang terlebih dahulu. Kami keluar gedung dan menuju taman, yang disebut Kinetic Garden. Mengapa disebut demikian? mungkin karena di taman tersebut disuguhkan beberapa permainan dengan menggunakan logika teknologi. Sambil makan, si kecil kami pun mondar mandir mencoba beberapa permainan seperti Curve Beam Balance, Energy Machine-Windmill, Lithopone, dan beberapa mainan lainnya. Permainan-permainan tersebut memang menarik buat anak kecil karena cukup mengundang rasa ingin tahu. Seperti misalnya Lithopone, bentuknya persisi menyerupai angklungnya Indonesia, hanya saja ini terbuat dari semen (tepatnya saya kurang paham). Nah tentunya si kecil kami komentar…papa, kok semen ini kalo dipukul ngeluarin suara kayak musik ya pa….”. Saya hanya tersenyum.

Setelah kenyang, kami mulai melanglang buana di bagian dalam SSC sendiri. Untuk tanda masuk tangan kita akan di cap dan hanya bisa dilihat ketika dibawah sinar. Di bagian dalam, SSC dibagi-bagi menjadi berbagai area seperti  The Mind’s Eye, Mathematics, Sounds, Discovery Zone, Climate Change, Newton Room, Robotic Learning Center, dan masih banyak lagi. Sementara di bagian luar, selain Kinetic Garden yang sudah kami kunjungi tadi, masih ada Eco Garden, dan Waterworks. Bagian per bagian kami masuki dan kami coba. Saya pun tak lupa membidikkan kamera pada bebrapaobjek yang menarik. Saya lihat si kecil kami begitu senang dan sangat antusias untuk mencoba setiap permainan yang ada di hadapannya.

Dari areal dalam SSC, kami pun melanjutkan kunjungan ke Snow City. Sesuai dengan namanya, di snow city kita bisa merasakan dan menikmati permainan salju. Lorong menuju Snow City tersambung dengan gedung SSC, tepatnya jika kita keluar ada di sayap kiri. Kami menelusuri lorong atau koridor tersebut, nanti kita akan melewati Omni Theatre. Dari sini kita lanjut terus keluar gedung Omni Theatre tersebut dan berjalan ke arah kiri. Nah nanti di depan akan terlihat bangunan dengan tulisan di depannya Snow City.

Kami masuk lalu melapor ke petugasnya. Rupanya disini kita harus meninggalkan semua barang bawaan kita, termasuk kamera (kecuali dompet), karena kita tidak diperkenankan untuk memotret di dalam. Untuk pakaian berupa jaket, celana, sarung tangan, dan sepatu kita harus menyewa (artinya tidak termasuk dalam harga tiket yang sudah kita beli). Nanti kita akan mendapatkan kunci loker. Kita masukkan semua barang dan untuk membukanya nanti kita harus memasukkan koin sebesar Sgd 1, baru kuncinya bisa terbuka.

Setelah memakai seluruh perlengkapan, kami pun mulai masuk. Udara dingin mulai terasa dan begitu didalam wow… kita merasa benar-benar berada di daerah bersalju. Di sini kita bisa bermain salju, membuat boneka dan sebagainya., termasuk bisa mencoba berseluncur dengan ban di trek yang memang khusus dibuat untuk itu. Melihat trek meluncur tersebut si kecil kami yang pertama kali malah meminta. Wow… ternyata berani juga nyali ini anak, pikir saya. Karena dia mau, akhirnya kami pun mencoba trek meluncur tersebut, saya, istri dan si kecil, sementara ibu mertua menunggu di pinggir.

Treknya lumayan tinggi dan daya luncurnya lumayan cepat dengan kemiringan sekitar 45 derajat. Kami mengantri dan begitu tiba giliran kami pun menyiapkan ban dan mengatur posisi untuk meluncur bertiga, saya di bagian depan, si kecil di tengah dan istri saya di belakang, dan kemudian…. wusssshhhhhh….. kami pun meluncur. Si kecil kami berteriak kegirangan, saya dan istripun demikian. Dan sampai di bawah juru poto sudah siap memotret kita. Si kecil kami meminta mengulang lagi, kami pun mengabulkan permintaannya ini. Kami mengantri dan meluncur sekali lagi.

Untuk foto, sebelumnya kami sudah diberi penjelasan bahwa mereka akan memotret tanpa di minta atau pun sesuai dengan permintaan kita, nah nanti kita akan diberi kupon, dan begitu keluar terserah kita mau ambil itu poto atau tidak. Kita bisa melihat dulu hasilnya pada komputer yang sudah disediakan. Kita tinggal cari sesuai sesuai dengan nomor kupon yang kita pegang. Kalau kita ingin mencetak itu foto tinggal memberitahu petugas serta menunjukkan foto mana yang akan dicetak. Tentunya dengan membayar seharga yang tertera disana. Dari beberapa jepretan di dalam tadi, akhirnya kami ambil satu poto dengan ukuran 10R dan membayar Sgd 20….:-)

Dari Snow City hujan mulai turun, namun karena si kecil ingin main di area Waterworks, akhirnya kami coba menunggu. Disini pengaturannya sangat disiplin, untuk wahana Waterworks ini (karena lokasinya di luar gedung), maka begitu hujan turun seluruh permainan akan dihentikan sampai menunggu hujan benar-benar berhenti baru dibuka kembali. Begitu hujan berhenti dan wahana tersebut dibuka, si kecil kami langsung meminta. Kami pun mencoba menghubungi petugasnya, setelah rembukan sebentar dengan managernya dan si manager mengecek di lapangan bahwa hujan memang sudah berhenti akhirnya kami dipersilahkan masuk.

Wah, si kecil kami girangnya bukan kepalang. Dia langsung minta ganti baju renang yang memang sudah kami siapkan dan bawa dari jakarta. Begitu selesai ganti baju dia langsung berlari dan gabung dengan anak-anak lainnya yang berasal dari beberapa negara. Di sinilah saya semakin takjub dengan si kecil kami, meskipun dia tidak kenal dan tidak mengerti bahasa teman-teman barunya tersebut dia berani untuk mengajak bermain. Hmmm….

Puas bermain di wahana Waterworks, kami pun berniat menyudahi kunjungan di seputar SSC tersebut. Karena si kecil kami meminta makan, akhirnya kami istrirahat makan di McDonald yang tersedia disana. Setelah makan, kami pun undur diri dengan perasaan senang. Utamanya melihat si kecil senang. Yaaa… berkunjung ke SSC ini memang kami atur spesial untuk dia. Kami ingin menunjukkan kepada dia bahwa dalam kunjungan ini mama papanya juga bisa menepati janji dengan memberikan satu hari penuh sebagai hari-nya dia.

Keluar dari SSC waktu sudah menunjukkan pukul 18.15. Kami putuskan untuk naik Bus No. 66 untuk kembali ke penginapan. Saya lihat si kecil kami mulai menampakkan gelagat kengantukannya. Benar saja, selang beberapa menit Bus jalan, dia pun tertidur. Tapi ndak apa-apa, jika diukur waktu tempuh ketika pergi tadi, minimal satu jam dia bisa tidur pulas. Di perjalanan Ibu Mertua berkeinginan untuk mampir ke Mustafa Center, kebetulan Bus No. 66 juga melewati lokasi tersebut. Merasa masih belum puas hunting foto di seputar Marlion Park dan Esplanade kemarin maka saya utarakan ke istri untuk kembali ke sana. Akhirnya kami sepakati ketika turun bus nanti kami misah, istri beserta si kecil dan Ibu mertua belanja di Mustafa Center sementara saya kembali ke seputar Esplanade.

Karena ingin ke Mustafa Center, kami turun di Halte Bus Ferral Park (tepat di depan City Square Mall dan Stasiun MRT Ferrar Park). Disini kami pun misah. Sebelum ke Mustafa Center, istri memutuskan makan malam dulu di City Square Mall. Saya sendiri lanjut menuju stasiun MRT Ferrar Park, naik MRT menuju dan berhenti di stasiun Raffles Palace.

Begitu keluar, view Singapore River dan Hotel Fullerton begitu menawan. Saya mulai memasang tripod dan kamera serta mengambil beberapa foto. Kemudian saya beralih ke jembatan yang ada tepat di depan Hotel Fullerton. Saya ambil beberapa view dari jembatan tersebut, termasuk view tepat dari depan Hotel Fullerton. Lalu lalang perahu di sungai semakin menambah cakep view yang tercipta.

Dari depan pelataran Hotel Fullerton, saya melanjutkan penelusuran menuju seputar Esplanade. Kali ini saya coba awali memotret dari atas jembatan untuk mengulangi kembali memotret dengan view Patung Merlion, Marina Bay Sands, Esplanade, dan gugusan gedung seputarnya.

Dan beruntung sekali lagi saya mendapati suguhan pertunjukkan sinar laser dari arah Marina Bay Sands. Sama dengan kemarin, pertunjukkannya berdurasi satu putaran lagu. Ternyata view dari atas jembatan tidak kalah menawannya, bahkan terkesan lebih luas karena jangkauan bisa mendapatkan beberapa view sekaligus.

Dari atas jembatan, saya berjalan turun kembali menuju depan Esplanade. Sekali lagi view gugusan gedung di sekitar Marina Bay Sands dan Patung Merlion sangat menawan. Saya shoot beberapa poto dari sini. Saya terus bergeser menuju Outdoor Theatre tepat di depan pintu masuk Esplanade. Di sini saya coba shoot beberapa kali, utamanya dengan latar Marina Bay Sands. Saking asyiknya, tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 23.00.

Saya sebenarnya berniat menyudahi hunting foto malam itu. Yang saya pikirkan adalah jadwal bus yang akan saya tumpangi kembali ke penginapan (Bus No. 857), karena untuk naik MRT rasanya sudah tidak mungkin. Tapi saya penasaran dengan jembatan yang menghubungkan pelataran Youth Olympic menuju gedung Marina Bay Sands. Saya pun mengurungkan niat ke halte bus, tapi lanjut mengayuhkan langkah menuju jembatan tersebut. Benar saja, disana masih banyak pengunjung yang tengah membidikkan kameranya. View jembatan ini memang sangat menawan, baik dari aspek arsitekturnya maupun penempatan lampu-lampu yang menimbulkan pencahayaan yang indah. Saya pun mengambil beberapa foto disini.

Merasa cukup dan perasaan khawatir tidak dapat bus menuju penginapan, saya bergegas menuju halte bus. Waktu menunjukkan pukul 23.30, perasan was was mulai menghantui isi kepala saya manakala bus yang ditunggu tidak kunjung datang. Saya berpikirkan, kalau sampai tidak ada bus lagi ya sudah terpaksa bergadang sampai pagi nongkrong di depan esplanade, lalu pagi-pagi ambil MRT pertama menuju ke penginapan. Lagi berpikir seperti itu, eeee…. busnya muncul. Alhamdulillah, tidak jadi meginap disana…. Perasaan was was tadi berubah menjadi perasaan senang dan puas karena bisa hunting foto di hampir semua bagian tempat yang menjadi icon Singapura.

Hari Keempat

Hari keempat adalah hari kepulangan kami ke Jakarta. Setelah membereskan koper dan sarapan pagi berjamaah di hostel, kami pun menyelesaikan urusan administrasi check out di meja resepsionis, proses ini berlangsung sekitar 15 menit. Disini kami berpisah dengan teman satu kantor istri, karena jadwal pesawat dia pada sore hari.

Perjalanan dari The Hive ke stasiun MRT Boonkeng (cukup dgn jalan kaki) sekitar 5 menit… terus perjalanan di dalam koridor MRT nya sendiri menuju tempat menunggu MRTnya lebih kurang 5 menit…jdi disini plus minus 10-15 menit (kalo bawaan barang kita ndak banyak bisa ambil langkah cepat..hehehe).

Sebagaimana waktu datang, perjalanan dari stasiun Boonkeng ke Stasiun Changi ditempuh sekitar 1 jam 15 menit. Ini tentunya sudah diperhitungakan plus minus pergantian MRT. Ternyata waktu yang tersisa sangat mepet. Begitu tiba di Stasiun Changi (di Terminal 2 Changi Internasional Airport), kami bergegas menuju tempat menunggu Feeder Bus yang akan mengangkut kami ke Budget Terminal. Saya melirik jam, begitu mepet dengan waktu take off. Namun saya berusaha tenang.

Perjalanan dari MRT ke halte Bus tersebut sekitar 20 menit jalan cepat. Begitu tiba di Halte Feeder Bus tersebut kami harus menunggu dulu karena feeder bus- nya ada dan jalan setiap 15 menit sekali. Perjalanan dari Halte Feeder Bus di Terminal 2 menuju Budget Terminal sendiri memakan waktu sekitar 20-30 menit. Begitu sampai, kami turun dan langsung memasuki areal pemeriksaan Imigrasi dan X-ray lalu baru menuju tempat Check in pesawat Tigers… proses dari turun BUS sampai tiba di depan petugas di meja Check in bisa memakan waktu sampai dengan 30 menit.

Dan… untunglah… begitu tiba di depan meja check in Tiger Airways di depan kami masih terdapat antrian, artinya minimal kami tahu bahwa proses check in masih berlangsung. Kami pun sedikit bernafas lega. Pesawat yang akan membawa kami ke Jakarta akhirnya take off sekitar pukul 11.30 waktu Singapura dan mendarat di Soekarno Hatta sekitar pukul 12.15 waktu Jakarta. Disini kami baru benar-benar bernafas lega….

Sebuah perjalanan yang menyenangkan untuk kami semua, terutama untuk si kecil kami. Saya dan istri sangat senang dan bangga dengan dia yang tidak menunjukkan kerewelan selama di Singapura bahkan senantiasa bersikap manis dan ceria. Yang terpenting lagi adalah beberapa kondisi kedisiplinan yang ditemui selama di Singapura, sedikit banyak tertanam dalam ingatan dia. Tiba di Jakarta si kecil kami berkata bahwa jika papa mama punya rejeki dede mau ke Singapura lagi… hahaha… Insya Allah ya nak. Doakan saja mama papa dapat rejeki lagi, supaya kita bisa jalan-jalan lagi.

About Zasmi Arel

Music, Event, Traveling Photographer

Discussion

16 thoughts on “Singapore: Kunjungan Kedua

  1. Salam kenal…

    Seru ya liburannya…:)
    Mo nanya nih, EZ Link Card berlaku juga gak untuk anak kecil? rencananya saya akan liburan kesana n membawa si kecil berumur 14 bulan

    Posted by fira24 | 18 April 2012, 11:02 pm
    • Salam kenal juga Mbak Fira….

      Untuk menggunakan jasa MRT sepengetahuan saya dilihatnya dari ukuran tinggi si anak. Anak yg tingginya sudah mencapai 90 cm maka harus bayar. Saya sendiri ndak tahu bagaimana mereka nantinya membedakan or mengetahui apakah anak kita sudah mencapai tinggi tersebut, tapi seenggaknya iklan itu ada disalah satu tempat masuk MRT Stasiun Boon Keng (di fesbuk saya sih ada saya foto). Seperti case anak kami umurnya waktu ke sana 4 tahun, tingginya sudah mencapai 1 meter, maka secara sadar kami belikan EZ link Card, dan ternyata tersedia EZ Link Card khusus untuk anak-anak.

      Kalo mbak ragu, mending tanyakan aja pada petugas kontur pembelian tiket MRT-nya, jangan takut dikibulin, sepengalaman kami, petugas disana cukup fair kok. Contoh… ketika kami akan membelikan EZ Link Card untuk anak kami, kami sendiri sebenarnya waktu di depan konturnya tidak tahu jika ada kartu khusus anak-anak, tapi petugasnya lah yang menjelaskan.

      Tapi menurut saya nih mbak (sekali lagi menurut saya) anak mbak belum wajib bayar.

      Demikian mbak… semoga bisa memberikan sedikit info.

      Salam,
      Arel

      Posted by zasmiarel | 19 April 2012, 11:27 am
  2. saya mau tanya, klo pesen tiket tiger airways dmn ya? harus online?

    Posted by Winda M. | 13 July 2012, 10:28 am
  3. salam kenal,

    mohon infonya saya akan ke sing bersama 3 ekor anak saya hehe 10,7,3y old. niatnya sih mau ambil tiket terusan dr science center lanjut ke snow city. yang saya baca di web nya snow city buat anak 3y ke bawah tidak tersedia jacket dll apa betul? kalau kita bawa perlengkapan sendiri spt boot ataw sarung tangan apa boleh ga perlu sewa?

    waterfall itu ada di ssc ya? apakah termasuk paket ssc dan snow city atau pisah thx

    saat di ssc kalau bawa makanan dari luar buat maksi boleh ga?

    thx yaaa infonya

    Posted by vicky | 1 November 2012, 10:43 pm
    • Salam kenal juga mbak vicky,

      Untuk pertanyaan pertama, waah…mohon maaf sangat mbak, waktu di sana saya ndak sempat memperhatikan informasi batasan umur anak, khususnya tentang ketersediaan sewa jaket untuk mereka. Yang mungkin bisa saya sharing adalah bahwa anak kami waktu ke sana berumur 4 tahun 6 bln, mungkin kebetulan jaket ukuran dia tersedia kali di penyewaan…:-)

      Untuk perlengkapan, seperti yg saya sharing, semuanya..kecuali dompet harus masuk loker mbak…. naah..mungkin kalo menurut saya, khusus si kecil mbak yg 3 tahun mending prepare aja mbak, artinya tetap aja dibawahin jaket tebal, boot dan sarung tangan, perkara nanti disana seumpamanya tersedia jaket seukuran dia misalnya, artinya bisa kita sewa, tapi seumpamanya tidak tersedia penyewaan jaket utk dia nanti coba nego ngomong aja dengan petugasnya, dibikin mudah aja dulu mbak….logikanya sih..,.masa iya sih petugasnya nanti akan melarang si kecil kita ikut masuk ke dalam krn urusan jaket, dll…. betul gak mbak….

      Waterfall? mungkin maksudnya waterworks yang saya ceritakan tersebut ya mbak? kalo itu yg dimaksud, betul mbak, kalo dari pintu masuk lokasinya di sebelah kiri ssc, tapi masuknya tetap dari dalam ssc. Untuk tiket masuknya, dia sudah menjadi bagian dari tiket masuk ssc mbak….:-)

      Saat di “dalam” ssc, kita tidak boleh membawa masuk makanan mbak, saya lupa apakah boleh bawa minuman semacam aqua, seingat saya sih waktu itu saya bawa air mineral, tapi yang pasti untuk minum di dalam ssc nya dibeberapa tempat tersedia kran yang airnya langsung bisa diminum. Jika untuk makan siang, kalau pengalaman kami kemarin, kami bawa or beli sebelumnya, dan sebelum masuk ke ssc kami makan dulu di seputar taman techno, disini si kecil sambil bisa bermain-main, baru kemudian masuk, namun di luar ssc (sebelum gerbang masuknya) juga ada McDonald. Dan jangan khawatir, jika kita sudah masuk ssc kita bisa kok keluar dulu untuk makan, lalu masuk kembali, yang penting cap tanda masuknya ndak hilang… (nanti pas masuk pertama kita akan di cap di pergelangan tangan…).

      demikian mbak vicky…semoga bisa membantu…:-)

      Posted by zasmiarel | 7 November 2012, 4:03 pm
      • makasih infonya ya mas
        hehe iya maksudku waterworks.

        nanya lagi boleh kan ?
        maklum yaaa emak2 kl bawa krucil musti tau detail dan teksnis

        1. di snow city jaket dan boot termasuk tiket apa musti sewa lagi?
        2. pas main seluncuran celana kita pasti basah ga ya? apa saya musti prepare celana tahan air dan baju ganti lagi?

        3. saat naik mrt stroler musti dilipet ya? kl anak sy lg tidur di stroler musti di pindahin dulu dong?

        4. yang searah dengan ssc dan snow city ada wahana apalagi ya? biar sekali jalan tp dapet banyak lokasi thx

        makasih sangat yaa mas, info sangat amat membantu
        saya baru nyadar kenapa pemerintah menyarankan 2 anak cukup hehe kaya begini nih akbiatnya mau jalan2 super rempong.

        regard, vicky

        Posted by vicky | 11 November 2012, 3:53 pm
      • Dear Mbak Vicky,

        hehehehe…rempong ya… ndak apa-apa mbak, kalo kita sudah niat melancong mungkin ini bisa dijadikan tips…pikirkanlah yg enjoy-enjoy aja mbak…jangan mikirin susahnya..soale kalo dipikirin ribetnya duluan, alhasil nanti disono malah sutress…akhirnya ndak jadi nikmati plesirannya dueh….:-)

        1. seperti yang sudah saya sharing diatas mbak…. jaket dan boot tidak termasuk dalam harga tiket, artinya itu harus disewa terpisah.

        2. jaket dan celana yang kita sewa cukup tebal, sooo…saat main seluncuran kita juga diberikan ban hitam sebagai alat untuk meluncur, jadi tidak akan basah kok mbak….nah..nanti pas kita sudah sampai dibawah, kita akan disambut oleh kru yang sudah siap memotret kita….nanti kita akan dikasih kupon…dan kita bebas mau beli or atau tidak itu poto hasil jepretan mereka…..utk harga nya sudah saya share di atas….:-)

        3. sebenarnya naik MRT cukup nyaman kok, cuma yg kita harus perhitungkan adalah waktu kita dari platform hingga masuk ke dalamnya, ada beberapa stasiun kondisinya cukup ramai, khususnya stasiun interchange….nah disini kita harus sigap…dan disana saat menunggu di platform sudah ada tanda batasnya, jdi lumayan tertib…. naah…. pengalaman saya bawa stroler…. ketika anak saya ngantuk, saya biarkan dia tetap duduk di stroler, cuma krn ketika naik saya sendiri yg was was, maka kebanyakan si kecil kami tak suruh turun dulu, nanti pas di dalam dia bisa duduk lagi di strolernya…. soo… jdi pas di dalam strolernya bisa tetap dipasang or bisa di lipat….:-)

        4. lokasi ssc dan snow city agak berbeda arahnya dgn wahana lain…dan kalau kita menginapnya di the hive untuk mencapai ke sana enakan naik bus (bus nya sudah saya sharing di atas….)…dan saran saya utk ke sana prepare waktu khusus satu hari… karena kita akan keliling di SSC nya sendiri, terus waterworks dan snow city….itu gak cukup kalo hanya setengah hari…. nah setelah itu kalo memang mau seperti kami…. sore hari or malam-nya bisa shopping di wilayah mustafa center or bisa juga lanjut ke pelataran esplanade or marlion park yang memang lebih nikmat dinikmati di sore ke malam hari…cuma sekali lagi kali kita bawa anak…harus sabar2 dgn kondisi mereka…:-)

        Demikian mbak….semoga bisa membantu…..

        Posted by zasmiarel | 11 November 2012, 8:59 pm
  4. makasih lagi buat kesabarn dan meluangkan waktu menjawab

    nanya lagi yaaa
    masih gretong kannnn

    minta list hostel yang terima anak kecil dong
    hostel ya mas, bkan hotel hehe

    hatur nuhunnnnnnn pisan

    vicky

    Posted by vicky | 13 November 2012, 10:45 pm
    • Dear Mbak Vicky, hahahahaha…..

      Waduh untuk list yang bisa nerima anak kecil untuk sekelas hostel terus terang selain the hive kami pernah nemuin juga, tpi uda lupa namanya apa….. soalnya setiap kesana sudah manteng dipikiran untuk nginap di the hive, hahahaha……so…mohon maaf mbak kalo untuk nyang ini saya ndak bisa banyak bantu…. Mungkin coba saja mbak vicky tanya ke mas google….:-)

      Posted by zasmiarel | 16 November 2012, 3:44 pm
  5. Salam kenal..

    Saya sudah baca posting perjalanan ke singapore nya yg pertama sm ke dua..

    Saya mau nanya dong, kira2 klo baru pertama ke sing tmp2 yg hrs dikunjungi kmana aja ya??

    Soalny di posting pertama kan lbh byk review soal the hive😀

    Posted by Utet | 18 January 2013, 9:57 am
  6. hebat tu pak arel perjalanan nya

    Posted by Hermanto | 16 May 2013, 2:55 pm
  7. mas…kalo di hostel HIVE ada kamar untuk suami istri tidak? terimakasih🙂

    Posted by rachma | 9 December 2013, 2:45 pm
  8. Mas mau tanya, kalau naik tiger, tripod boleh dibawa ke kabin gak ya atau harus di taruh bagasi. soalnya saya gak pengen beli bagasi. Thx

    Posted by sandrabakery | 12 April 2014, 1:26 am
    • Halo Mbak Sandra….terima kasih uda berkunjung. Gak masalah kok mbak tripod masuk kabin, saya juga kalau bepergian naik pesawat tripod selalu masuk ke kabin (tentunya dengan dimasukkan ke dalam sarungnya, biar rapi….:-)

      Posted by zasmiarel | 12 April 2014, 8:29 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: