Concert Review, Edisi Music

Warna Warni dari Panggung 37 Tahun Jazz Goes To Campus (JGTC) Festival

Zasmi Arel_IMG_7644-0

GO-STAGE.com – The 37th Jazz Goes To Campus Festival baru saja usai. Tahun ini merupakan penyelenggaran tahun ke-37 dari festival jazz tertua di tanah air tersebut. Mengambil tempat di kampus Fakultas Ekonomi, Universitas Indonesia, Depok, puncak acara Jazz Goes To Campus (JGTC) berhasil digelar pada Minggu, 30 November 2014.

Sejak digelar pertama kalinya, tahun 1976, JGTC telah berhasil menyebar dan merayakan cinta pada musik jazz. Adalah Chandra Darusman dan kawan kawan yang waktu itu mempunyai ide sederhana untuk menyuarakan semangat muda melalui musik. Kini ide tersebut telah berubah menjadi tidak hanya sebagai festival jazz tertua, tapi juga salah satu festival jazz paling terkenal di Indonesia, dan di dunia yang dilaksanakan oleh mahasiswa.

Tema yang diangkat dalam JGTC tahun ini adalah Living The Inspired Jazzperience dengan berfokus pada kata Inspired dan Jazzperience dimana JGTC tahun ini ingin mengapresiasi dan menghadirkan wajah-wajah musisi jazz senior yang telah berkontribusi membangun industri musik jazz seperti yang bisa kita nikmati sekarang di Indonesia.

Selaras dengan tema tersebut maka tagline yang diangkat dalam JGTC tahun ini adalah “The Ultimate Jazzperience” yang menggambarkan semangat untuk memberikan pengalaman indah dalam menikmati musik jazz serta kepuasan mutlak yang bisa dirasakan seluruh stakeholders. JGTC tahun ini dirancang tidak hanya menampilkan para musisi jazz senior, tapi turut memberikan ruang bagi para musisi jazz muda dan baru untuk memperkenalkan ekspresi Jazz nya kepada para jazz lover.

Zasmi Arel_IMG_7320-0

Pada penyelenggaraan JGTC tahun ini disediakan empat panggung (stage), Jazzperience Stage, Indosat IM3 Stage, Nescafe Musik Asik Stage, dan terakhir Jansport Stage yang merupakan panggung utamanya.Disamping menampilkan musisi lokal, pelaksanaan JGTC ke-37 ini juga berhasil menghadirkan musisi dari luar negeri, Sondre Lerche dari Norwegia dan Ray Harris and The Fusion Experience dari Skotlandia. Para band pemenang dari JGTC Competition pun turut diberi kesempatan untuk merasakan sensasi tampil di panggung megah JGTC.

Para musisi tanah air yang tampil adalah Sekawan n Friends, Fusion Jazz Community, Eros Tjokro, Kunto Aji, Like Father Like Son, Oele Pattiselanno Ft Monita Tahalea, The Groove, JBF Trio, SevenStrings, HajarBleh Big Band, Teza Sumendra, Idang Rasjidi Syndicate, ESQI:EF – Syaharani and Queenfireworks, Tjut Nyak Deviana & Friends, Tulus, Nado Project ft DJ Reza Acilo, Job n Duties, Alboni Quartet, Soundscapes, BSO Band Jazz Project, Bakutindis, Glanze, Bonita & The Hus Band, Yemima Hutapea, Adhitia Sofyan, RnF, RAN, Balawan Trio, Bandanaira, Monita Tahalea & The Nightingales, JTGC Project Tribute to Salemba, dan Glenn Fredly.

Bagi beberapa musisi, JGTC ke-37 menjadi debut perdana mereka tampil di festival bergensi ini. Sebut saja RAN. Tampil di Jansport Stage group yang dimotori tiga cowok ini (Rayi, Asta, dan Nino) tampil secara total selama 45 menit. Disela-sela penampilan Nino sang vokalis mengatakan bahwa ini adalah kali pertama mereka manggung di acara tersebut setelah 8 tahun bermusik.Seolah tidak mau menyia-nyiakan kesempatan, RAN tampil memebawakan beberapa hits mereka, ‘Tunjukan Cintamu’, ‘Begitu Saja’, ‘Jadi Gila’, ‘Kulakukan Semua Untukmu’, ‘Hanya Untukmu’, ‘Sepeda’, hingga single terbarunya ‘Dekat di Hati’ yang membuat penonton ikut bernyanyi bersama.

Zasmi Arel_IMG_7323-0

Dalam deretan artis senior ada Balawan yang tampil dalam format trio. Dalam aksi panggungnya, Balawan Trio membuat para penonton tertegun melihat permainan guitar sang maestro. Belawan mengakui musiknya memang terbilang berat, maka dari itu dia mengajak penonton yang hadir untuk tidak terlalu berpikir, cukup dinikmati saja. Disamping memainkan irama instrumental untuk mengawal ketidakmengertian penonton akan musiknya maka Belawan juga memainkan beberapa lagu yang sudah familiar di telinga penonton. Benar saja, penonton pun terlihat enjoy selama penampilannya. Tingkah dan logat Bali-nya yang kocak pun juga menjadi selingan tersendiri yang menarik perhatian penonton. Ia juga mengajak dua penonton wanita untuk naik ke atas panggung menemaninya dan diajarkan bermain gitar secara langsung.

Zasmi Arel_IMG_7366-0

Di jajaran musisi jazz muda, Monita adalah satunya yang cukup menarik perhatian penonton. Jebolan salah satu ajang pencarian bakat di Indonesia ini membawa pengunjung JGTC bernostalgia dengan membawakan lagu-lagu dari almarhum Chrisye. Beberapa tembang lawas almarhum yang dibawakannya adalah “Serasa”, “Kisah Cintaku” dan “Kisah Kasih di Sekolah”. Monita menyampaikan buat penonton yang belum pernah mendengar, dia mengajak untuk sama-sama menikmati. Buat penonton yang sudah pernah mendengar, dia mengajak untuk bernostalgia. Monita juga membawakan karya-karyanya sendiri, seperti “Di Atas Mimpi” dan “Perahu”.

Zasmi Arel_IMG_7434-0

Penampilan Idang Rasjidi Syndicate di IM3 Stage juga tidak kalah menghebohkan. Musisi jazz senior kelahiran Bangka Belitung yang piawai memainkan piano ini berhasil mengawal sindikatnya untuk menarik penonton memadati areal panggung IM3 hingga penuh sesak. Disamping Richard Hutapea pada saxophone dalam sindikatnya Idang juga mengajak penyanyi senior Kumala Dewi sebagai vokalis pada beberapa lagu. Selebihnya adalah tampilan alunan instrumental yang sungguh memukau.

Zasmi Arel_IMG_7491-0

Group band lainnya dengan personil berkualitas yang tampil di JGTC kali ini, ESQI:EF – Syaharani bersama Queenfireworks. ESQI:EF adalah proyek Syaharani dengan dua teman lamanya, Achmad “Didit” Fareed dan Donny Suhendra, gitaris Krakatau Reunion. ESQI:EF singkatan dari nama band mereka adalah sebuah tim kreatif, membuat produksi musik, live show entertainment, menggubah lagu dan lirik, aransemen musik dan vocal, film scoring, musical performing art dan pengembangan konsep musical. Diantara lagu yang dibawakan malam itu, lagu Arisan Hujan merupakan lagu yang spesial. Syaharani menceritakan lagu ini diciptakan berasal dari kiriman salah satu fans-nya di twitter. Ketika malam hari dia suka membaca pesan pesan yang dikirim lewat twitternya. Dan ketika dia coba meramu pesan tersebut dalam sebuah lagu diketahui olehnya bahwa fans yang mengirimkan pesan tersebut sudah dipanggil oleh yang maha kuasa. Itulah kenapa lagu tersebut menjadi spesial buat dia.

Zasmi Arel_IMG_7555-0

Ciri khas JGTC ke-37 kali ini, adanya JGTC Project Tribute to Salemba. Melalui kolaborasi antara musisi-musisi jazz senior JGTC yang telah berkontribusi dalam membangun kemajuan industri music jazz di Indonesia hingga menjadi seperti sekarang. Mereka yang tergabung dalam project ini adalah Benny Likumahuwa (trombone). Candra Darusman (piano), Abadi Soesman (keyboard), Benny Mustafa (drums), Iwang Gumiwang (percussion), AS Mates (bass), Rien Djamain (vokal) dan Eddy Syakroni.

Zasmi Arel_IMG_7649-0

Penyanyi Sondre Lerche tampil energik di JGTC. Begitu tampil, MC ingin mewawancarainya, namun dia mengatakan dia ada di atas panggung ini untuk bernyayi bukan untuk wawancara. Ribuan jazz lovers yang hadir di Jansport Stage malam itu benar-benar dimanjakan dengan penampilan penyanyi asal Norwegia ini. Dengan lagu-lagu andalannya dan hanya bermodalkan permainan gitar tanpa musisi pengiring, musisi ini benar-benar tampil memukau. Misalnya, saat dia melantunkan lagu berjudul To Way Monologue, Bad law, dan Knocked off My Feet. Beberapa lagu yang dibawakannya pun ikut di ‘lahap’ penonton yang bernyanyi bersamanya. Dengan aksi panggung yang cukup atraktif, Sondre Lerche juga komunikatif dengan para penonton.

Zasmi Arel_IMG_7687-0

Kerinduan para fans The Groove akhirnya terobati. Setelah tampil terakhir di JGTC tahun 2012 dan terkesan vakum, The Groove akhirnya unjuk diri di JGTC ke-37. Band dari Bandung The Groove menyuguhkan lagu-lagu lama mereka dari album Kuingin (1999), Mata, Telinga dan Hati (2001), dan Hati Hati (2004). Dalam jumpa pers Rieka mengatakan ada lagu dari album satu, dua, dan tiga yang sudah lama tidak mereka mainkan tapi malam itu mereka mainkan, karena diminta penggemar mereka di Twitter. Berhubung lama tidak tampil maka Rojas menambahkan untuk aransemen mereka mempertahankan aransemen asli dari lagu lagu mereka. Ini ditujukan untuk mengobati rasa kangen penggemar mereka. Penampilan The Groove juga sekaligus menjadi tampilan penutup di Jazzperience Stage.

Zasmi Arel_IMG_7768-0

Penyanyi Glenn Fredly dinobat menjadi musisi penutup festival JGTC ke-37. Tampil di panggung utama Jansport Stage, Glenn mencoba memainkan emosi penonton yang hadir. Dia mengatakan dia tidak akan mengajak galau, tapi akan mengajak penotnon yang hadir lebih desperate dari itu. Ajakannya ini langsung disambut teriakan penonton. Glenn bersama pengiringnya, The Bakucakar Band, mampu membuat naik turun perasaan penonton, dari gembira hingga ke lebih dari galau. Awalnya Glenn membawakan lagu “Merdeka”, “Happy Sunday”, dan “You Are My Everything”, yang riang. Lalu selanjutnya dia memainkan emosi penonton dengan membawakan lagu “Pelangi”. Suasana lebih dari galau manakala Glenn membawakan lagu “Sekali Ini Saja”, “Lovevolution”, “Hurts So Bad”, dan “Luka dan Cinta”. Rangkaian lagu “Bebas”, yang pernah dipopulerkan oleh rapper Iwa K, dan sebuah lagu dari Maluku, “Rame-rame”, sebelum “Kisah Romantis” menutup penampilannya dan sekaligus menutup perjalanan panjang ajang festival JGTC ke-37.

Zasmi Arel_IMG_7825-0

About Zasmi Arel

Music, Event, Traveling Photographer

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: