Concert Review

HONNE: Bikin Pecah Panggung Utama The 7th Music Gallery

GO-STAGE.com – Festival musik indie, Music Gallery (Mugal), kembali digelar pada 11 Maret 2017 lalu bertempat di Ballroom, Kuningan City Mall, Jakarta. Tahun ini, festival musik yang diselenggarakan oleh BSO Band, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia ini sudah memasuki tahun ke-7 dengan tema yang diangkat “Urban!”.

Music Gallery diselenggarakan dengam tujuan untuk mengumpulkan penikmat musik dari musisi independent yang terbilang jarang tampil di khalayak umum. Tema “Urban” sendiri diangkat untuk menggambarkan kelarasan dalam perbedaan di dalam musik, seni, dan festival.

Pada perhelatan The 7th Music Gallery kali ini, panitia menyediakan dua panggung, Main Stage dan Intimate Stage. Sebagai panggung utama, Main Stage terletak di Ballroom yang berada di lantai P7 Kuningan City Mall, sementara Intimate Stage mengambil lokasi di pelataran parkir gedung yang terletak satu lantai di bawah Ballroom. Sesuai dengan namanya, Intimate Stage dibuat sedemikian rupa sehingga antara band yang perform dengan penonton dapat berinteraksi langsung tanpa adanya pembatas.

Diundangnya salah satu band manca negara “Honne” menjadi daya tarik tersendiri. Penampilan band asal Inggris yang lagi digandrungi oleh penggemarnya di tanah air sangat dinanti. Ini juga mungkin yang menyebabkan beberapa waktu sebelum harinya tiket Mugal diumumkan terjual habis.

Dari deretan artis/band lokal yang tampil pun tidak kalah seru. Sebut saja nama Seringai, Layung Temaram, Gizpel, Ikkubaru, Ballads Of The Cliche, Hollywood Nobody, Polka Wars, Goodnight Electric, yang tampil di Intimate Stage, dan Anindra & Giovanni, Mafia Pemantik Qalbu, Rebelsuns, Peonies, Bedchamber, The Trees & The Wild, Bin Idris, Stars and Rabbit yang tampil sama di panggung yang sama (Main Stage) dengan Honne.

Acara dimulai sekitar pukul setengah tiga siang, diawali dengan penampilan Layung Temaram di Intimate Stage dan Anindra & Giovanni pada Main Stage. Pada awal-awal ini pengunjung sepertinya belum terlalu banyak yang datang, ini terlihat dari kondisi penonton di kedua stage. Bahkan sampai dengan penampilan band keempat Ballads Of The Cliche (di Intimate Stage) dan Peonies (di Main Stage), penonton masih nampak lengang.

Setelah break maghrib, penonton mulai berangsur ramai. Ini terlihat dari mengularnya penonton yang mengantri di tempat penukaran tiket dan pada pintu masuk menuju P6, tempat lokasi Intimate Stage. Panitia memberlakukan pemeriksaan cukup ketat, mulai dari pemberlakuan gelang tangan yang dibuat ketat (sehingga tidak memungkinkan pemindahtanganan) hingga pemeriksaan tas penonton, di geledah detail tiap bagian. Termasuk bagi penonton yang sudah masuk sebelumnya dan keluar area festival, ketika masuk tetap mengalami proses pemeriksaan kembali.

Penonton tidak diperkenankan membawa makanan dan minuman ke dalam area festival. Untuk urusan lambung tengah ini panitia turut mengundang tenant-tenant makanan dan minuman, baik di area depan Intimate Stage maupun di area luar sebelum masuk Ballroom, tempat Main Stage. Jenis makanan dan minuman yang tersedia pun cukup beragam, sehingga para penonton tidak perlu khawatir.

Di samping tempat makan dan minum, panitia juga menempatkan Mural pada beberapa titik di depan Intimate Stage. Ada juga Galeri Musik, Art Exhibition, Food Lounge, dan juga beberapa both Sponsor. Hal ini cukup efektif untuk menjaga pengunjung supaya tidak bosan. Ketika jedah waktu menunggu persiapan band yang akan tampil berikutnya pengunjung bisa berjalan-jalan memutari dan mengunjungi lokasi Mural, Galeri Musik, Art Exhibition, dan beberapa tempat di atas.

Semakin malam penonton semakin ramai. Saat Polka Wars tampil, area depan Intimate Stage jauh lebih padat dibandingkan sebelumnya. Polka Wars sendiri malam itu tampil dengan membawakan sekitar tujuh lagu, diawali dengan lagu ‘Horse’s Hooves’, kemudian dilanjut dengan lagu ‘Coraline’, ‘Seek’, ‘Tall Stories’, ‘Mokele’, dan diakhiri dengan lagu ‘Piano Song’. Begitu juga saat band pamungkas, Seringai, tampil. Para fans berat band dengan genre heavy metal ini seolah tidak tergoda dengan pesona Honne yang tampil di Main Stage.

Di Main Stage sendiri suasana penonton sangat padat, sepertinya mereka memang sangat menantikan penampilan Honne yang menjadi band pamungkas. Sebelum band asal Inggris itu tampil, penampilan band lokal Stars and Rabbit mampu membakar suasana penonton yang memadati area Ballroom. Aksi panggung sang vokalis juga tidak luput dari perhatian, lincah dan penuh penjiwaan.

Malam itu Stars and Rabbit membawakan beberapa tembang yang sepertinya sudah sangat familiar di telinga penggemarnya. Sekitar tujuh lagu yang mereka mainkan, seperti ‘Old Man Finger’, ‘Catch Me’, ‘Kindred Soul’, ‘Rabbit Run’, ‘Worth It’, ‘The House’, dan sebagai lagu penutup mereka memainkan ‘Man Upon The Hill’. Hampir di setiap lagu yang mereka mainkan tersebut penonton juga ikut bernyanyi. Disamping aksi panggung yang memukau, kombinasi permainan antara elektrik dan akustik juga sangat memanjakan penonton.

Setelah Stars and Rabbit berhasil memanaskan suasana, tiba juga penampil utama yang ditunggu. Sekitar pukul sebelas malam, Honne akhirnya tampil, disambut teriakan penonton. Tanpa banyak basa basi Honne langsung membuka penampilan mereka malam itu dengan lagu ‘Treat You Right’. Seketika suasana seantero Ballrom menjadi pecah dengan teriakan dan nyanyian penonton. Sebegitu gegap gempitanya sambutan yang diberikan. Tanpa jeda, lagu ‘Coastal Love’, ‘Till The Evening’, ‘This Night’, ‘Good Together’ menyusul kemudian. Hebatnya penonton sepertinya hafal setiap lagu yang dinyanyikan.

Pesona duo personil Honne sendiri James Hitcher dan Andrew Clutterbuck juga sebegitu hebat. Hal ini sepertinya dapat dibaca oleh sang vokalis. Pada pertengahan penampilan, Andrew turun dari panggung dan menghampiri seorang penonton cewek di barisan depan dan tanpa diduga Andrew memeluk penonton tersebutbeberapa saat. Suasana ini kontan membuat hiruk pikuk penonton lainnya. Adapun penonton cewek tadi terlihat shock, seolah tidak percaya mendapatkan pelukan sedemikian dekat dari Andrew sang vokalis.

Show must go on! pada lagu lagu berikutnya suasana bukannya mengendor, malah semakin menjadi pecah. Aura panggung yang ditampilkan Honne begitu memukau dan membuat penonton betah, ditambah dengan lighting yang memukau serta kondisi sound system yang jernih. Malam itu total Honne membawakan 14 lagu. Disamping yang disebutkan di atas selanjutnya lagu ‘It Ain’t Wrong Loving You’, ‘Love The Jobs You Hate’, ‘3AM’, ‘No Place Like Home’, ‘Gone Are The Days’, ‘Someone That Loves You’, ‘Woman’, ‘All In The Value’, dibawakan Honne dengan baik dan turut dinyanyikan oleh penonton. Hone mengakhiri penampilan mereka malam itu dengan lagu ‘Warm On A Cold Night’. Lagi-lagi Andrew sang vokalis turun dari panggung. Kali ini aksinya lebih berani lagi, dia menyebang pagar pembatas dan bernyanyi di kerumunan penonton di bagian depan. Sungguh akhiran penampilan yang sempurna dari Honne sekaligus menutup penampilan mereka.

Secara keseluruhan penyelenggaraan The 7th Music Gallery berjalan baik dan lancar. Sempat diwarnai kekhawatiran dengan sepinya penonton pada awal-awal acara dan hujan deras yang sedikit menggenangi pelataran parkir di P6 yang menjadi tempat lokasi Intimate Stage, namun masalahnya tidak berlarut dan terselesaikan dengan kesigapan koordinasi panitia di lapangan. Kekhawatiran akan sepinya penonton juga terjawab setelah jeda maghrib, dengan padatnya penonton yang datang sampai dengan akhir acara.

Kenyamanan buat awak media yang meliput juga cukup mendapat perhatian dengan diperbolehkannya meliput baik dari luar area maupun dari dalam panggung. Hal ini seyogyanya bisa dipertahankan untuk pelaksanaan Mugal ke depan. Karena hasil dokumentasi yang baik dari awak media juga menjadi media promosi yang tentunya sangat dibutuhkan untuk semakin mengenalkan Mugal di khalayak.

Penempatan Booth para tenant dan sponsor dan variasinya juga sudah terbilang baik. Perhatian terhadap kebersihan lokasi juga sudah mendapat perhatian dengan baik. Hal yang mungkin perlu diantisipasi ke depan (jika pelaksanaannya di tempat yang sama) adalah akses kenyamanan mobilisasi penonton dari lokasi panggung di P6 menuju panggung di Ballroom P7, utamanya jika terjadi kondisi hujan deras, agak sedikit terganggu, mengingat jalur penghubung melalui jalur mobil yang melewati ruang terbuka. Selebihnya sudah cukup baik.

(Photo by Zasmi Arel)

Advertisements

About Zasmi Arel

Music, Event, Traveling Photographer

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: