Tepat di awal tahun baru 2010, ketika semua orang memanfaatkan liburan berkumpul bersama dengan anggota keluarga, teman atau kerabat, saya justru sebaliknya, pergi meninggalkan keluarga bahkan tanah air. Hari itu merupakan goresan cerita baru dalam lembaran pengalaman hidup saya. Terbang ke luar negeri, kota Colombo, Sri Lanka tepatnya, guna mengawali kunjungan kerja selama sepuluh hari dalam rangka penyiapan suatu proyek disana. Saya akan mencoba berbagi pengalaman selama tinggal disana.

Karena ini kali pertama bagi saya maka saran dari atasan yang juga akan pergi dan kebetulan sudah sering ke luar negeri menyarankan saya untuk tiba di bandara Soekarno Hatta dua jam sebelumnya. Ini untuk menghindari hal-hal yang tidak bisa diprediksi di bagian imigrasi. Oleh karenanya, malam hari sebelum keberangkatan, saya mempersiapkan segala keperluan yang akan dibawa. Satu travel bag dan satu ransel cukup untuk semuanya. Pakaian, sepatu dan beberapa berkas dokumen saya masukkan ke travel bag untuk nantinya ditempatkan ke dalam bagasi pesawat. Sementara laptop, kamera, dan beberapa barang penting lainnya saya satukan dalam tas ransel.

Untuk hotel tempat penginapan saya meminta bantuan mitra lokal disana. Adapun untuk gambaran umum kota dan penduduk saya dapatkan dengan cara browsing lewat internet. Kebetulan juga saya ada kenalan orang Indonesia yang sedang bekerja disana. Sehingga bisa menanyakan dan memperoleh gambaran umum dan hal-hal yang harus diketahui disana, misalnya mengenai pengurusan visa, alat angkutan dari bandara dan di kota, keseharian orang disana, makanan termasuk tempat dan harganya, sarana komunikasi, keadaan keamanan, dan juga kontak person yang bisa dihubungi di Kantor Kedutaan Besar Indonesia di Sri Lanka. Sayangnya, dalam kurun waktu kunjungan tersebut kenalan saya tersebut justru sedang mengambil cuti dan pulang ke Indonesia.

Supaya tidak terkendala dengan kemacetan saya putuskan berangkat agak pagi. Sekitar Pukul 09.00 pagi saya berangkat dari rumah di bilangan Cibubur dengan menumpang taksi. Karena melihat jalanan lancar dan lenggang saya putuskan untuk meneruskan perjalanan dengan menumpang Bus Damri. Di samping untuk menghemat ongkos, bagi saya naik Bus Damri khusus angkutan ke bandara terasa lebih nyaman dibandingkan naik taksi. Saya pun meminta supir taksi untuk keluar tol menuju pangkalan Bus Damri di Terminal Kampung Rambutan. Sekitar Pukul 11.00 siang Bus Damri yang membawa saya tiba di terminal 2 bandara, terminal khusus keberangkatan dan kedatangan Internasional. Disana rupanya sudah menunggu atasan saya.

Perjalanan menuju Colombo akan kami lakukan dengan menumpang maskapai penerbangan Thai Airways. Pesawat rencananya akan berangkat Pukul 13.05 waktu Jakarta dan akan transit di Bangkok. Kami pun melakukan proses check in, membayar airportax untuk penerbangan internasional sebesar Rp 150 ribu per orang, dan menuju bagian pengurusan fiskal. Disini kami menunjukkan kartu NPWP untuk mendapatkan keterangan bebas fiskal dan mendapatkan tanda selesai pengurusan. Kemudian kami menuju jalur masuk pemeriksaan imigrasi. Sebelumnya kami mengisi formulir keberangkatan terlebih dahulu, melewati meja pemeriksaan imigrasi, satu per satu dokumen diperiksa, dan akhirnya…lewat.

Tepat Pukul 13.05 waktu Jakarta Pesawat Thai Airways lepas landas dari Bandara Soekarno Hatta. Seperti biasa, ketika pesawat akan lepas landas saya memanjatkan doa untuk keselamatan kami dan kemudian memasrahkan semuanya kepada yang diatas.

Selama penerbangan, di dalam pesawat saya dibuat kagum dengan pelayanan sigap yang disediakan oleh awak pesawat (pramugari maupun pramugara) maskapai tersebut. Kelihatan sekali jika mereka terlatih dan professional. Tidak henti-hentinya mereka memberikan pelayanan secara bergantian. Mereka juga sangat tegas dengan berbagai aturan yang tidak boleh dilakukan penumpang selama penerbangan. Saya lalu membayangkan dengan kondisi pelayanan maskapai penerbangan kita…..mmm… pembayangan saya cukup sampai disitu saja, hehehe.

Setelah menempuh penerbangan selama kurang lebih tiga setengah jam, akhirnya pesawat Air Bus milik maskapai penerbangan Thailand tersebut mendarat di Suvarnabhumi International Airport, Bangkok. Bandara ini menurut saya tergolong bandara yang super megah. Disain arsitekturnya juga sangat indah. Rasanya baru sekarang inilah saya mendarat di bandara yang sangat bagus dan seluas ini.

Kami mengikuti arus gerombolan penumpang lain, sambil terus memperhatikan tanda arah untuk penumpang yang akan transit. Saking luasnya, ketika berada di lantai dua sempat membuat kami bingung. Ada dua penunjuk arah yang berlawanan tapi sama-sama menunjukkan arah bagi penumpang yang akan transit. Kami berhenti sejenak untuk berpikir. Akhirnya kami putuskan untuk bertanya pada petugas di bagian penerangan yang tepat berada di balik papan penunjuk arah tersebut.

Petugas tersebut menjelaskan dengan bahasa Inggris berdialek Bangkok. Agak kesulitan juga menangkap dialeknya, namun setelah dijelaskan sekali lagi baru kami bisa paham. Intinya adalah untuk penumpang yang akan melanjutkan perjalanan diminta menuju lantai tiga, dan dia pun menunjukkan arah naiknya.

Setelah mengucapkan terima kasih, kami beranjak menuju ke arah yang dia tunjukkan. Arah itu rupanya sebuah lorong yang panjang dan cukup melelahkan. Untunglah di beberapa jarak disediakan eskalator datar. Sesekali juga terlihat kendaraan indoor yang bisa ditumpangi menuju tempat naik ke lantai tiga tersebut.

Dipertengahan jalur kami berhenti pada tempat pengurusan visa. Disini kami mengukur waktu. Pesawat yang akan membawa kami ke Colombo dari Bangkok baru akan terbang sekitar pukul sepuluh malam waktu Bangkok dan saat itu waktu baru menunjukkan pukul lima petang. Kami berunding apakah mau jalan-jalan di luar area bandara atau tetap di dalam bandara. Artinya, jika kami akan keluar bandara berarti harus mengurus visa kunjungan terlebih dahulu layaknya yang dilakukan penumpang lain dihadapan kami. Dengan segala pertimbangan, kami memutuskan untuk tetap berada di dalam areal bandara. Pertimbangan pertama adalah utamanya karena kami belum tahu kota Bangkok dan kedua kami juga belum tahu kondisi jalanan di Bangkok seperti apa.

Kami meneruskan menyusuri lorong tersebut sampai akhirnya tiba pada eskalator menuju lantai tiga yang ditunjukkan petugas tadi. Lumayan, jika berjalan kaki waktu yang ditempuh untuk mencapai eskalator tersebut sekitar sepuluh menit. Sesampainya di lantai tiga baru kami tahu kenapa kita harus melewati bagian tersebut. Rupanya disitulah jalur pemeriksaan bagi para penumpang yang akan melanjutkan perjalanan.

Pemeriksaan di Bandara Bangkok tergolong ketat dan berlaku sama untuk semua penumpang. Kita harus melepas jaket, sepatu, ikat pinggang, jam tangan, dompet dan meletakkannya pada box yang sudah tersedia. Bagi yang membawa laptop harus dikeluarkan dari dalam tas dan ditempatkan pada box tersendiri. Meskipun sedikit agak direpotkan, suasana pemeriksaan tersebut berjalan lancar.

Karena sudah masuk waktu sholat maghrib, kami mencari tempat sholat. Sedikit sangsi juga di bandara tersebut menyediakan tempat untuk sholat. Namun dugaan saya salah, bahkan berubah menjadi takjub. Di salah satu pojok kita bisa menemukan penunjuk arah “Moslem Prayer Room”. Tidak disangka, Bandara International Bangkok yang notabene penduduknya mayoritas Budha tersebut ternyata menyediakan musholla yang cukup besar dan bersih lengkap dengan pendingin ruangan. Mushola tersebut menurut saya lebih besar dan lebih bersih dari Musholla yang saya temukan di Bandara Soekarno Hatta.  Sungguh wujud pernghormatan antar umat beragama yang patut diacungin jempol.

Selepas maghrib kami memutuskan untuk makan malam. Tak lupa sebelumnya menukar dolar dengan mata uang bath Thailand. Karena masih banyak waktu, atasan saya memutuskan untuk pijat refleksi. Kebetulan dari sebelum makan tadi pun ia sudah menargetkan ke sana. Saya sendiri hanya duduk menunggu, tidak ikut pijat. Satu jam berlalu dan sisa waktu keberangkat tinggal dua jam lagi. Karena tidak ada lagi yang dituju, kami putuskan untuk menunggu di dekat pintu masuk boarding pesawat yang akan membawa kami ke Colombo. Lumayan lama juga menunggu, sampai-sampai atasan saya sempat tertidur lelap. Disini kami bersamaan dengan serombongan biksu yang rupanya satu tujuan dengan kami.

Sekitar Pukul 22.00 waktu Bangkok kami dipersilahkan naik pesawat. Disini kembali saya dibikin kagum, betapa rapinya pengaturan penumpang yang dilakukan oleh petugas di bandara tersebut. Yang pertama mereka persilahkan masuk adalah rombongan biksu tadi. Belakangan saya baru tahu kalau biksu sangat dihormati disana. Kemudian mereka yang duduk di kelas bisnis, lalu menyusul penumpang yang duduk di kelas ekonomi dengan nomor kursi bagian belakang, dan terakhir mereka yang duduk di kelas ekonomi dengan nomor kursi di bagian depan. Selang lima belas menit kemudian pesawat pun lepas landas meninggalkan langit Bangkok menuju Colombo.

Sebagaimana penerbangan dari Jakarta menuju Bangkok tadi, pelayanan para awak pesawat Thai Airways pada penerbangan menuju Colombo tersebut tak kalah sigapnya. Mereka melayani secara bergantian dan karena malam hari kita juga disediakan selimut. Sayangnya kondisi pesawatnya tidak sebagus pesawat dari Jakarta tadi.

Kembali ke para biksu, dari sini saya semakin tahu begitu dihormatinya para biksu yang kebetulan satu pesawat dengan kami tersebut. Setiap akan melakukan sesuatu di sekitar tempat duduk para biksu tersebut (meletakkan tas di kabin atau menyuguhkan minuman) maka para awak pesawat selalu memberikan hormat. Sungguh pemandangan akar budaya yang luar biasa. Saking takjubnya, pemandangan tersebut saya bawa ke alam tidur. Mungkin karena faktor kelelahan juga sehingga setelah itu saya tertidur pulas.

Saya terbangun karena peringatan dari pilot bahwa beberapa saat lagi kita akan mendarat di Colombo. Ditambah lalu lalang para awak pesawat mengumpulkan selimut dan menawarkan minuman ringan. Saya perhatikan ke bagian luar pesawat, gelap gulita. Selang beberapa menit kemudian tanda pasang sabuk pengaman dihidupkan, artinya bahwa kita bersiap untuk mendarat. Kembali saya memanjatkan doa untuk kelancarkan dan keselamatan untuk kami semua. Dan… alhamdulillah, kami pun mendarat dengan selamat di Bandaraneika International Airport, Katuyanake, Colombo. Angka jam di layar monitor menunjukkan Pukul 00.30 waktu Colombo, sementara di jam tangan saya sudah Pukul 02.00 dinihari. Artinya terdapat perbedaan waktu sekitar satu setengah jam antara Jakarta dan Colombo.