Edisi Traveling

Cara Damai Ala Warga Colombo, Sri Lanka

Zasmi Arel_DSCN3801-0

Photo by Zasmi Arel

Suatu sore, ketika sedang asyik menyelesaikan pekerjaan di kamar hotel, Ramada Hotel Colombo, terdengar suara benturan disertai suara seperti pecahan kaca. Seketika saya menuju jendela dan melongok keluar untuk mengetahui peristiwa apa gerangan yang sedang terjadi. Kebetulan posisi kamar tempat saya menginap berada di lantai tiga dan menghadap jalan raya, Ternyata suara tadi berasal dari tabrakan antara sebuah mobil sedan dengan tuk tuk.

Saya lihat posisi kedua kendaraan persis berada di tengah jalanan. Yang kelihatan agak parah adalah kendaraan tuk tuk dimana kondisinya body nya terbalik dan kaca depan pecah. Sementara mobil sedan nya tidak begitu parah. Namun sopir tuk tuk tersebut tidak mengalami cedera sedikit pun. Ia keluar tanpa menunjukkan kesakitan sedikit pun. Beruntung tidak ada penumpang yang berada di dalam tuk tuk ketika peristiwa tabrakan tadi terjadi.

Dari arah jendela kamar saya perhatikan orang-orang di sekitar mulai berkerumun. Kedua sopir sedan dan tuk tuk yang terlibat tabrakan itu pun juga mulai terlibat pembicaraan. Wah bakalan ramai nih pikir saya.

Tapi ternyata perkiraan saya meleset. Tidak ada perang urat syaraf maupun perang jari telunjuk atau adu urat leher sebagaimana yang saya bayangkan. Mereka memang terlibat pembicaraan dengan sesekali menunjuk bagian kendaraan masing-masing yang tertabrak, namun satu sama lain tidak ngotot satu sama lain.

Saya juga perhatikan bahwa posisi kedua kendaraan dibiarkan begitu saja pada titik terjadinya kejadian. Saya bayangkan jika kejadiannya terjadi di negara kita, misalkan Jakarta, jika terjadi tabrakan -apalagi posisi kendaraannya di tengah jalanan seperti itu- pasti kendaraan yang terlibat tabrakan akan didorong atau dipindahkan ke tepi jalan, supaya tidak mengganggu arus lalu lintas kendaraan lainnya.

Cukup lama juga kondisi tersebut berlangsung, mungkin ada sekitar lima belas menit. Pemilik sedan terlihat menelepon melalui handphonenya, entah siapa yang ditelepon. Begitu juga sopir tuk tuk, tidak mau kalah, dia juga sibuk menelepon, tidak begitu jelas siapa yang ditelepon, mungkin si empunya tuk tuk.

Sampai akhirnya datang kendaraan patroli polisi. Kembali terjadi pembicaraan, kali ini melibatkan sang polisi. Sesekali polisi yang lain mengecek dua kendaraan tersebut, sambil mengambil beberapa foto.

Selang beberapa saat kemudian, datang seorang pengendara sepeda motor. Sang pemilik sedan menghampiri orang tersebut, terlibat pembicaraan diantara mereka. Lalu pengendara sepeda motor tersebut mengeluarkan semacam berkas untuk diisi oleh si pemilik sedan, sementara itu ia menuju kendaraan sedan dan mulai mengambil beberapa foto. Setelah menerima kembali berkas yang diisi oleh  pemilik sedan, sang pengendara sepeda motor tadi pun pergi.

Tidak puas melihat dari balik jendela kamar, saya putuskan untuk turun dan melihat langsung dari bawa. Sesampainya di bawa proses pembicaraan antara pemilik sedan, pengendara tuk tuk dan polisi masih berlangsung. Namun yang membuat saya penasaran dari tadi adalah tidak ada acara ngotot satu sama lain.

Kemudian terjadi adegan dimana antara pemilik sedan, pengendara tuk tuk dan petugas polisi berjabat tangan satu sama lain. Petugas polisi pun menorehkan kapur putih pada aspal mengelilingi kendaraan sedan dan tuk tuk, lalu memotretnya kembali. Setelah itu pengendara sedan memasuki mobilnya dan mulai beranjak dari lokasi. Begitu pula dengan sopir tuk tuk, dibantu kerumunan massa yang memang dari tadi menonton ia mengangkat tuk tuk nya dan mencoba menghidupkan mesin, lalu beranjak dari tempat itu. Terakhir mobil petugas polisi pun beranjak dari lokasi kejadian.

Sambil melihat semua proses tersebut, saya coba bertanya kepada petugas hotel yang kebetulan berdiri disamping saya dan sama-sama menyaksikan kejadian tersebut. Pertanyaan saya tentunya berhubungan dengan rasa penasaran saya kenapa antara si pemilik sedan dan sopir tuk tuk tidak mengotot satu sama lain.

Si petugas hotel tersebut menjelaskan bahwa apabila terjadi tabrakan, khususnya di jalanan Kota Colombo, maka penanganannya akan diserah kepada pihak polisi. Kendaraan yang terlibat tabrakan pun dibiarkan dulu (tidak dipindahkan) sampaikan datang petugas polisi atau pihak lain yang diperlukan, misalnya dari pihak asuransi, supaya bukti-bukti nya tetap terekam sebagaimana adanya. Baru saya tahu, jika pengendara sepeda motor yang tadi berurusan dengan pemilik sedan adalah petugas asuransi.

Tentang mengapa tidak terjadi kengototan satu sama lain, ya mungkin begitu lah cara orang Colombo menyelesaikan masalahnya. Mereka berpikir buat apa ngotot, toh semuanya sudah diurus oleh yang berwajib. Tinggal mereka nanti mendatangi petugas di kantor polisi.

Mendengarkan penjelasannya, saya cuma manggut manggut. Sekali lagi saya membayangkan kondisi jika tabrakan tersebut terjadi di negara kita, misalkan Jakarta. Pasti pemandangannya tidak seperti yang saya perhatikan sekarang. Memang benar kata pepatah, lain lubuk lain belalang….:-)

About Zasmi Arel

Music, Event, Traveling Photographer

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: