Edisi Traveling

Warga Colombo yang Tidak Betah di Negara Sendiri

Ini masih cerita tentang warga Colombo. Suatu sore, pulang dari kantor mitra lokal di sana, seperti biasa kami putuskan untuk berjalan kaki menuju hotel. Atasan saya menyalakan sebatang rokok jarum super yang dia bawa dari Indonesia, sementara saya mengeluarkan kamera untuk menyalurkan hobby jeprat jepret.

Sambil berjalan santai, kami berdiskusi tentang pekerjaan dan apa saja yang bisa dibicarakan. Saya lihat atasan saya menikmati betul isapan rokoknya. Percaya gak percaya, rokok Indonesia cukup terkenal di Sri Lanka. Hal ini setidaknya diutarakan beberapa orang sopir tuk tuk yang pernah kami naiki. Begitu melihat atasan saya menyalakan rokok, sopir tuk tuk tersebut langsung menoleh ke belakang dan bertanya apakah itu rokok dari Indonesia. Jika dijawab iya maka sopir tuk tuk tersebut tak segan-segan meminta. Dia lalu mengatakan bahwa rasa rokok Indonesia terkenal lebih enak dibandingkan dengan rokok Sri Lanka. Saking penasaran, dikesempatan lain atasan saya membeli rokok setempat, dan benar saja. Menurut pengakuan atasan rasanya memang aneh dan jauh lebih enak rokok Indonesia.

Saya sendiri lirak lirik memperhatikan objek yang akan dijepret. Saya tertarik untuk memotret para serdadu yang berjaga di sepanjang jalan tersebut. Jepret! berhasil… Sambil coba membidik ke objek lain tangan saya tersenggol oleh seseorang yang berjalan hendak mendahului kami. Dia sempat minta maaf dan saya katakan tidak apa-apa.

Tiba-tiba orang tersebut menghentikan langkahnya dan berbalik ke arah kami. Dia menghampiri atasan saya. Was was juga saya dibuatnya, jangan-jangan ini komplotan penjual batu pertama yang kami temui sebelumnya. Namun kali ini kami bertemu dengan orang yang baik. Orang itu memberi tahu ke atasan saya bahwa sebaiknya tidak merokok di sepanjang jalan tersebut. Dia sepertinya tahu kalau kami adalah pendatang. Dia menyuruh atasan saya untuk mematikan rokok sebelum dipanggil para serdadu yang berjaga di sana. Segera saja atasan saya menuruti kata-katanya dan mengucapkan terima kasih. Orang itu pun tersenyum dan kembali melanjutkan perjalanan mendahului kami.

Dan benar saja, belum lama orang tadi pergi, tiba-tiba kami dipanggil oleh seorang serdadu. Nah lho, ada apa ini. Saya masih berpikiran kami dipanggil karena serdadu tersebut sempat melihat atasan saya merokok tadi. Atau barangkali kali dia juga melihat saya memotret temannya. Sebelum terjadi hal yang tidak diinginkan secara sigap saya masukkan kamera ke dalam tas.

Oleh serdadu tersebut kami digiring ke serdadu yang lain, sepertinya yang ini adalah komandannya, karena dia hanya membawa pistol pinggang dan topinya berbeda. Kali ini saya benar-benar deg-deg an. Terjadi dialog dalam bahasa Inggris yang kira-kira artinya demikian.

“Halo, maaf… apakah anda pendatang?”

“Betul…” jawab atasan saya singkat

“Dari mana asal anda…?”

“Jakarta, Indonesia….”

“Ooo… Indonesia… ya..ya… saya sudah menebak dari wajah anda….”.

Sambil tersenyum, si Komandan tersebut mengulurkan tangan mengajak berjabat tangan. Agak ragu dan takut kami pun menyambut tangannya.

“Jangan khawatir, mari kita berbincang sebentar…. apakah anda terburu-buru?”

“Tidak…..” jawab atasan saya.

“So, apa tujuan anda ke Colombo?”

“Kami sedang mengikuti tender suatu proyek disini dan kebetulan kami bekerja sama dengan perusahaan dari Colombo”. Atasan saya mencoba memberikan penjelasan sambil terus menyelidik maksud arah pembicaraan si komandan tersebut.

“Wah, pasti proyek yang besar ya, apa bidang perusahaan anda?”

“Konsultan…”

“Wah, hebat… pasti perusahaan anda sangat besar di Indonesia ya, dan saya yakin bahwa perusahaan anda akan memenangkan tender tersebut”

Tiba-tiba suasana yang tegang tadi tidak saya rasakan. Dari empat serdadu yang mengelilingi kami sekarang tinggal dua orang, termasuk si komandan. Tentunya kondisi tersebut sedikit membuat kami lega, namun tetap was was tentang kemungkinan apa yang akan terjadi.

Mengetahui situasi sedikit akrab, kami pun memberikan diri bertanya.

“Selama disini kami perhatikan hampir si setiap jalan di jaga oleh tentara, kenapa demikian?” tanya saya.

“Benar apa yang anda lihat, begitu lah kondisi disini, kamu tahu… mencari pekerjaan di negara kami sangat sulit, pekerjaan yang termudah adalah menjadi tentara. Coba anda perhatikan dan anda bisa menebak sendiri, kira-kira berapa umur teman-teman saya dan bagaimana kemampuan mereka. Mungkin ada diantara kami yang benar-benar terlatih tapi ada juga diantara kami yang tidak terlatih. Disamping untuk menjaga masyarakat, kami berjaga juga dari komplotan-komplotan yang akan mengganggu”. Si Komandan tersebut mencoba menjelaskan.

“Ya, kami lihat sepertinya umur mereka masih muda-muda dan postur mereka…maaf… tidak segagah layaknya tentara di negara kami…” balas saya sekenanya.

“Apakah di negara kamu tentaranya terlatih?” si komandan tersebut balik bertanya.

“Kenyataannya seperti itu, tentara di negara kami dididik dan dilatih khusus. Dan tidak sembarangan orang bisa masuk. Mereka akan diseleksi secara ketat bahkan ada yang dilatih pada sekolah khusus..” jawab atasan saya.

“So.. berapa banyak jumlah anak buah atau teman-temanmu di sini dan berapa umur mereka…” tanya atasan saya.

“Saya tidak begitu jelas mengenai jumlah dari kami, karena memang sangat banyak yang disebar di seluruh Colombo saja. Karena tidak ada pekerjaan, selesai SMA biasanya pemuda-pemudi di sini mendaftar menjadi tentara. Seperti saya, anda tahu umur saya? Umur saya baru 25 tahun.”

“Wah, masih muda sudah menjadi komandan ya…” celetuk saya.

“Benar saudaraku, namun jangan anda bayangkan gaji kami tinggi. Jika boleh memilih kamitidak betah dengan pekerjaan seperti ini. Jika ada kesempatan bekerja di negara lain saya akan ambil itu..”

“Kok bisa seperti itu?” tanya saya penasaran.

“Benar saudaraku, gaji yang kami dapatkan tidak bisa mencukupi kehidupan kami. Oleh karena itu, saya sangat senang bisa bertemu dengan anda, saudaraku dari Indonesia. Saya sedikit mendengar tentang Indonesia dan tentang kehidupan di Indonesia. Bisakah anda mengusahakan pekerjaan buat saya di Indonesia?”

Oalah… ternyata buntut pembicaraannya adalah seperti itu toh. Tapi melihat cara dia berbicara timbul rasa simpati juga.

“Wah, kami tidak bisa menjanjikan, karena kami tidak begitu mengetahui prosedurnya…” Atasan saya mencoba memberikan pandangan sedikit tentang pekerjaan di Indonesia, khususnya dikantor kami. Kami sampaikan bahwa kamijuga tidak mengetahui persis pekerjaan apa yang cocok buat dia, kalau pun diikuti paling menjadi petugas keamanan.

“Apapun pekerjaannya tidak masalah, menjadi petugas keamanan pun tidak jadi soal. Jika boleh tahu berapa kira-kira gaji petugas keamanan di Indonesia?”

Sempat berpikir juga kami, karena masing-masing perusahaan di Jakarta saja pasti punya standard gaji berbeda.

“Mungkin sekitar 100 sampai dengan 150 dolar..” jawab atasan saya sekenanya.

“Sebesar angka itu?” Si Komandan tersebut kembali bertanya.

“Mungkin…. untuk tepatnya masing-masing perusahaan mempunyai standard tersendiri. Jika kamu berminat kerja di Indonesia, kenapa kamu tidak mencoba melamar di Kedutaan Besar Sri Lanka di Indonesia?”

“Peluangnya yang tidak ada saudaraku…” jelasnya. ” Begini saja, saya akan bayar berapa pun biaya administrasi yang anda sebutkan untuk mengurus pekerjaan saya di Indonesia, asal anda bisa memberikan pekerjaan buat saya di Indonesia..”

“Waduh, anda serius?” tanya atasan saya.

“Benar, saya serius… saya berani bayar biaya yang anda sebutkan asal saya bisa kerja di Indonesia…”

Mendengar permintaannya tersebut saya dan atasan saling bertatapan. Ini serius, pikir saya. Tapi kami tidak boleh memberikan janji dan kami harus memberikan penjelasan yang logis bagaimana caranya agar supaya tidak terkesan menolak. Salah salah kepala kami di “dor”, hehehe.

“Terus terang kami tidak bisa menjanjikan yang kamu inginkan. Karena kami disini bertujuan untuk bisnis dan perusahaan kami serta kami sendiri tidak paham dengan prosedur semacam itu. Persoalannya tidak semudah hanya dengan mambayar angka yang kami sebutkan. Tapi persoalan administrasi nya yang tidak kami kuasai. Kami harap kamu bisa mengerti itu…”

Atasan saya mencoba memberikan penjelasan dan berharap si Komandan tersebut dapat mengerti.

“Tapi saya berani bayar berapapun biaya administrasinya”. Si Komandan tersebut memasang wajah serius.

“Sekali lagi kami mohon maaf, yang bisa kami lakukan adalah mencarikan informasi peluang itu kepada kamu, jika ada, nanti akan kami kasih info.” Atasan saya mncoba meyakinkan.

“Benar begitu?” kata si Komandan tersebut. “Kalau benar, bisa saya catat nomor dan alamat anda?”

Waduh, bisa panjang urusannya nanti dan bisa-bisa bakalan dikejar terus, pikir saya.

“Mmm, sebaliknya kami saja yang mencatat nomor anda, supaya jika ada nanti kami yang menghubungi”. usul saya sebelum dia berubah pikiran.

“Oke, itu lebih baik… ini nomor saya (sambil dia menulsikan nomornya di secarik kertas)… dan saya tunggu kabar dari anda, saya ingin sekali keluar dari kondisi ini, mohon bantu saya.”

“Baiklah, kalau begitu kami mohon ijin untuk kembali ke penginapan, senang bertemu dan berkenalan dengan anda”. Atasan saya bermaksud menyudahi percakapan itu.

“Oke saudaraku dari Indonesia, senang berbicara dan bertemu dengan anda juga, dan saya tunggu kabar dari anda.” Kami pun menyudahi obrolan sore itu dengan berjabat tangan satu sama lain.

Sebuah realita hidup yang teramat berharga bagi saya untuk dapat menilai pekerjaan yang sudah kita jalani dan juga dalam menanamkan kecintaan terhadap tanah air. Saya sadar bahwa realita hidup semacam ini terjadi juga di negara kita, terutama yang ditempuh oleh para tenaga kerja indonesia (baik wanita maupun laki-laki) yang memutuskan bekerja di negara lain.

Secara tujuan dan yang terpikir dibenak oleh si Komandan dengan para tenaga kerja Indonesia tersebut mungkin sama, yaitu berharap bisa mendapatkan penghasilan lebih dibandingkan jika bekerja di negara sendiri. Namun yang saya perhatikan dari obrolan singkat dengan si komandan tersebut adalah bahwa kondisi tekanan wilayah yang menuntut mereka untuk berpikir hijrah dari kota kelahiran bahkan negaranya.

Saya sendiri tidak tahu persis, apakah realita tersebut terjadi merata pada masyarakat lapisan bawah di  Colombo? Atau itu hanya mewakili sebagian kecil kelompok masyarakatnya saja. Namun yang pasti yang saya tangkap dari perbincangan tersebut dan juga yang saya saksikan dalam keseharian selama bergaul dengan masyarakat disana adalah seperti itu.

About Zasmi Arel

Music, Event, Traveling Photographer

Discussion

5 thoughts on “Warga Colombo yang Tidak Betah di Negara Sendiri

  1. ternyata hampir2 sama dgn Indonesia ya, supaya hidup bisa lebih baik lagi, rela tuk kerja diLN

    Posted by dina.thea | 14 October 2010, 2:25 pm
  2. Wah menarik sekali cerita nya ke colombo… lengkap dan bikin deg degan adegan ke toko permata dan adegan di peeriksa tentara… nambah wawasan nih…

    Posted by diah | 8 August 2013, 8:38 pm
  3. kalau ga salah lihat ftonya saya pernah ke situ, dan juga tentaranya saya juga banyak yang kenal, dan menurut saya tentaranya baik-baik, malahan saya sempet poto” sambil megang senjatanya..heeee… salam kenal zasmiarel

    Posted by osul | 7 September 2015, 2:55 pm
    • Salam kenal juga Osul…. yup…sebenarnya mereka baik-baik dan sepemandangan saya masih muda-muda….tampangnya aja serem…(mungkin tipikal orang Srilanka yg India banget yak…item2 pula…hehehe), tpi setidaknya fenomena itu yg saya tangkap manakala sempat ngobrol2 sama mereka….. itu tahun 2010…entahlah di tahun sekarang….:-)

      Posted by Zasmi Arel | 7 September 2015, 3:00 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: